BAGAIMANA SIFAT DUDUK TASYAHUD AKHIR DI DALAM SHALAT YANG DUA RAKA’AT ?

 

  1. A.     DARI BUKU AL MASAA-IL JILID KE 4 OLEH ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT (HAL. 239 S/D 256) DENGAN PENERBIT DARUL QOLAM, KOMP. DEPKES JL. RAWA BAMBU RAYA NO. A2, PASAR MINGGU, JAKARTA-12520, CETAKAN I TH. 1425 H / 2004 M.

 

Telah berselisih para ulama dalam masalah sifat duduk di dalam Shalat yang dua raka’at seperti Shalat Subuh/Fajar, Shalat Jum’at, dan Shalat-Shalat Sunat yang dua raka’at, yaitu :

 

  1. Madzab / Imam Ahmad bin Hambal dan mereka yang sepaham dengan beliau, berpendapat bahwa kalau Shalat itu dua raka’at maka kembali kepada hukum asal sifat duduk di dalam Shalat yaitu iftirasy. Apabila Shalat itu mempunyai dua tasyahud, maka sifat duduk tasyahud awal adalah iftirasy dan tasyahud akhirnya adalah tawarruk.

 

  1. Madzab / Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa sifat duduk tasyahud awal dan akhir sama saja tidak berbeda yaitu iftirasy. Hal tersebut didasarkan pada 3 (tiga) hadits sebagai berikut :

 

  1. Matan hadits dalam bahasa Indonesia adalah  :

“Dari Qasim bin Muhammad, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar, dari bapaknya (yaitu Abdullah bin Umar), bahwasanya dia pernah berkata, ‘Sesungguhnya sebagian dari Sunnah Shalat (salah satu sifat duduk Shalat Nabi saw yaitu iftirasy) ialah engkau hamparkan kaki kirimu dan engkau tegakkan (kaki) kananmu (duduk iftirasy).’”

 

Shahih. Telah dikeluarkan oleh Nasaa-I (Juz 2 hal.235).

 

  1. b.      Berkata Aisyah r.a. menjelaskan tentang Sifat Shalat Rasulullah saw di antaranya : (matan hadits dalam bahasa Indonesia) “….dan beliau mengucapkan setiap dua raka’at at tahiyyat, dan beliau menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (yakni beliau duduk iftirasy)….”

 

Shahih. Diriwayatkan oleh Muslim(juz 2 hal. 54) dan lain-lain.

 

  1. Berkata Waa-il bin Hujr menjelaskan tentang sifat Shalat Rasulullah saw di antaranya :  (matan dalam bahasa Indonesia) “….kemudian beliau duduk menghamparkan kaki kirinya (yakni duduk iftirasy), dan beliau meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha dan lutut kirinya, beliau jadikan batas sikut kanannya di atas paha kanannya, kemudian beliau menggenggam dua jarinya di antara jari-jari tangan (kanan) nya (yakni jari manis dan jari kelingkingnya), kemudian beliau membuat satu lingkaran (dengan kedua jarinya yaitu jari tengah dan ibu jarinya), kemudian beliau mengangkat jari (telunjuk)nya, maka aku melihat beliau menggerak-gerakkannya beliau berdo’a dengannya.” (lihatlah kembali kelengkapan lafazh dan takhrij hadits ini di Al Masaa-il jilid 2 masalah ke 29 nomor hadits 237).

 

  1. Adapun madzab-nya Imam Malik bin Anas telah menetapkan bahwa sifat duduk tasyahud awal dan akhir adalah tawarruk tidak ada perbedaan di antara keduanya, dengan dalil sebagai berikut : (matan dalam bahasa Indonesia)

“Dari Malik, dari Yahya bin Sa’id (ia berkata) : ‘Sesungguhnya Qasim bin Muhammad telah memperlihatkan kepada mereka (sifat) duduk tasyahud (yaitu) : Beliau menegakkan kaki kanannya dan melipat kaki kirinya, kemudian beliau duduk dengan meletakkan pangkal pahanya (pantatnya) di tanah (duduk tawarruk), dan beliau tidak duduk di atas kaki kirinya (duduk iftirasy). Kemudian beliau berkata : Abdullah bin Abdullah bin Umar telah memperlihatkan kepadaku (sifat duduk tawarruk) ini, dan dia telah menceritakan kepadaku bahwa bapaknya (yaitu Abdullah bin Umar) telah mengerjakan seperti itu.’”

 

Hadits tersebut adalah lafazh hadits Ibnu Umar dari riwayat Imam Malik bin Anas.

 

  1. Yang menjadi madzhab-nya Imam Asy Syafi’i dan mereka yang sepaham dengan beliau adalah setiap duduk akhir adalah tawarruk, baik shalat yang mempunyai dua tasyahud atau satu tasyahud, dengan dasar hadits-hadits sebagai berikut :

.

  1. Matan hadits dalam bahasa Indonesia, yaitu :

“Dari Muhammad bin Amr bin ‘Atha’, sesungguhnya ia pernah duduk bersama sepuluh orang Shahabat Nabi saw. Lalu kami menyebut Shalat Nabi saw, maka berkata Abu Humaid As Saa’idiy,’Aku lebih hafal dari kamu tentang Shalat Rasulullah saw. Aku pernah melihat beliau saw apabila bertakbir, beliau jadikan kedua tangannya berhadapan dengan kedua pundaknya. Dan apabila beliau ruku’, beliau meletakkan kedua tangannya di kedua lututnya, kemudian beliau meluruskan punggungnya. Maka apabila beliau mengangkat kepalanya (dari ruku’), beliau berdiri lurus (i’tidal) sehingga kembali setiap tulang belakang ke tempatnya. Kemudian apabila beliau sujud, beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak menghamparkan dan tidak menggenggam keduanya, dan beliau (ketika sujud) menghadapkan ujung-ujung jari kedua kakinya ke arah kiblat. Kemudian apabila beliau duduk pada dua rakaat, beliau duduk di atas (hamparan) kaki kirinya dengan menegakkan kaki kanannya (sifat duduk iftirasy). Dan apabila beliau duduk pada raka’at  akhir, beliau majukan kaki kirinya dengan menegakkan kaki kanannya dan beliau duduk di tempatnya (di tanah yakni sifat duduk tawarruk).’”

Shahih. Telah dikeluarkan oleh Bukhari (no.828) dan lain-lain. Lihatlah kelengkapan takhrij di Al-Masaa-il jilid 2  no.234 dan 235.

 

  1. Selanjutnya penulis mengemukakan bahwa hadits Abdullah bin Mas’ud di bawah ini memperkuat hadits Abu Humaid As Saa’idiy, yaitu : (matan dalam bahasa Indonesia)

“Dari Abu Mas’ud (ia berkata) : ‘Bahwasanya Rasulullah saw duduk tawarruk di akhir Shalatnya.’”

 

Hasan. Telah dikeluarkan oleh Ibnu Khuzaimah (no.701,702 & 708) dan Ahmad (1/459 no.4382). Lafazh hadits dari salah satu riwayat Ibnu Khuzaimah dengan ringkas ( no.701).

 

  1. Penulis memberikan kesimpulan.

 

  1. Dari 4 madzhab tersebut di atas dalam masalah sifat duduk tasyahud, maka madzab Syafi’iy dan Ahmad yang lebih kuat dari 2 madzhab yang lain. Kedua Imam tersebut di atas telah menetapkan bahwa sifat duduk tasyahud ada yang iftirasy dan ada yang tawarruk. Kemudian keduanya berselisih dalam menempatkan sifat duduk tawarruk,  yaitu :
  • Imam Syafi’iy mengatakan bahwa setiap akhir shalat sifat duduknya adalah tawarruk.
  • Imam Ahmad mengatakan bahwa tawarruk khusus untuk shalat yang mempunyai dua tasyahud.

 

  1. Yang lebih kuat dalam masalah tawarruk –sepanjang penelitian penulis yang cukup dalam dan lama- adalah Imam Syafi’iy yaitu setiap duduk pada tasyshud akhir adalah tawarruk.

 

  1. DARI BUKU SIFAT SHALAT NABI SAW (Oleh M.Nashiruddin al- Albani, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 / Nov. 2008 M,  Penerbit : Gema Insani Depok : Jln. Ir. H. Juanda/16418).

 

Dalam kaitan dengan duduk tasyahud, penulis menjelaskan/menganalisa sebagai berikut :

 

  1. Duduk tasyahud akhir pada shalat dua raka’at.

Setelah selesai mengerjakan raka’at kedua pada shalat dua raka’at, beliau saw duduk untuk melakukan tasyahud (akhir)  dengan duduk iftirasy yang didasarkan pada hadits-hadits, sebagai berikut :

 

  1. Hadits dengan matan bahasa Indonesia ini diriwayatkan oleh Wa’il bin Hujur r.a.,”Aku mendatangi Rasulullah saw kemudian aku melihat beliau mengangkat kedua tangannya ketika memulai shalat, hingga mendekati kedua bahunya, dan ketika akan ruku’. Ketika duduk setelah dua raka’at, beliau membaringkan dan menghamparkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy). Beliau meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, menegakkan jarinya untuk berdo’a, dan beliau meletakkan tangan kirinya di atas pahanya, menegakkan jarinya untuk berdo’a, dan beliau meletakkan tangan kirinya di atas paha kirinya.’ Dia melanjutkan, ‘Kemudian aku mendatangi beliau dan para Shahabat pada  musim berikutnya (musim dingin), lalu aku melihat mereka mengangkat kedua tangannya dan memakai kopiah panjang.’”

 

Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i  (hal. 1/173), dia berkata “Kami diberitakan nadits oleh Muhammad bin Abdillah bin Yazid al-Muqri, dia berkata ‘Kami diberitahukan hadits oleh Sufyan, dia berkata, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Ashim bin Kulaib dari ayahnya, dari Wa’il bin Hujur r.a.’”

 

Sanad hadits ini adalah sanad yang Shahih dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya) dari Muslim, kecuali Muhammad bin Abdillah ini, namun dia juga perawi yang tsiqah (terpercaya) sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh dalam at-Taqriib. Hadits ini adalah nash yang jelas tentang duduk iftirasy dalam Shalat dua raka’at seperti Shalat Shubuh. (Halaman 419 s/d 420 pada footnote 1 di Buku tersebut di atas).

  1. Dari Wa’il bin Hujur yang antara lain diriwayatkan oleh an-Nasa’i yang dari halaman lain yaitu 1/141, dengan matan bahasa Indoneia, sbb :

“Dan ketika Rasulullah saw duduk untuk bertasyahud, beliau mendudukkan kaki kirinya (duduk iftirasy) dan duduk di atasnya. Rasulullah saw meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya, dan meletakkan siku tangan kanannya di atas paha kanannya. Kemudian Rasulullah saw menggenggam jari-jarinya dan membuat lingkaran dengan ibu jarinya dan jari tengah, dan beliau berdo’a dengan jari lainnya.

 

Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’I (hal. 1/141), ad-Darimi (hal. 1/314), Ahmad (hal.4/318), ath-Thahawi (hal. 1/152-153), dan Baihaqi (hal.2/132). Sanad hadits ini adalah sanad shahih.

 

Ath-Thahawi berkata “ Ungkapan yad’u (berdo’a), merupakan dalil atas fakta bahwa hal itu terjadi pada akhir Shalat.”

Fakta memang seperti yang dikatakannya, namun harus dipertimbangkan, apakah Shalat tersebut adalah Shalat yang dua raka’at atau empat raka’at.

Kami telah menemukan dalam Sunan an-Nasa’i (hal.1/173) riwayat lain yang menentukan hal tersebut dengan lafazh, yang bahasa Indonesianya : “Bila Rasulullah saw duduk tasyahud pada dua raka’at, maka beliau merebahkan kaki kiri dan menegakkan kaki kanan, dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya, dan menegakkan jarinya untuk berdo’a.”

Sanad hadits ini adalah sanad yang shahih juga. Dengan demikian, hadits ini adalah nash bahwa duduk iftirasy itu hanya dilakukan pada duduk tasyahud di dalam Shalat dua raka’at, dan tampaknya Shalat tersebut adalah Shalat dua raka’at dan kemungkinan adalah Shalat Shubuh. (Tersebut pada hal. 515 dan 516 pada footnote 4 di Buku tersebut di atas.).

 

  1. Duduk tasyahud awal dan akhir pada shalat yang mempunyai dua tasyahud.

 

Pada shalat dengan raka’at tiga atau empat atau shalat yang mempunyai dua tasyahud, duduknya diatur dengan hadits-hadits sebagai berikut :

 

  1. Seperti hadits yang disampaikan tersebut pada butir A.4.a. di atas yang diceritakan oleh Abu Humaid As-Saa’idiy – hadits ini Shahih. Dengan demikian pada setelah dua raka’at duduk tasyahud awalnya adalah iftirasy dan pada tasyahud akhirnya adalah duduk tawarruk.
  2. Hadits ini adalah bagian dari hadits Abu Humaid as-Sa’idiy juga. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (hal. 1/152) dan al-Baihaqi (hal. 2/128) lewat jalur Qutaibah, “Kami diberitahukan hadits oleh Ibnu Luhai’ah dari Yazid bin Abi Habib, dari Muhammad bin Amru bin Halhalah, dari Muhammad bin Amru al-Amiri, dia berkata, yang bahasa Indonesianya adalah : ‘……..pada raka’at keempat, Rasulullah saw menjadikan pantat sebelah kirinya menempel ke tanah, dan mengeluarkan ujung kaki kiri dan kaki kanan berada pada satu sisi (duduk tawarruk).’”

 

Namun Ibnu Luhai’ah adalah perawi yang hafalannya buruk. Tetapi, dia telah diikuti oleh al-Laits bin Sa’ad yang terdapat pada al-Baihaqi (hal.2/102). Dengan demikian, sanad hadits ini adalah Sanad yang shahih. (Tersebut pada hal. 514 di footnote 3 di Buku tersebut di atas).

 

  1. Paparan atas perbedaan pendapat para Madzhab tentang Sifat Duduk dalam Shalat yang mempunyai dua Tasyahud. (Tersebut pada hal. 514 s/d 518 di Buku Sifat Shalat Nabi saw di atas).

 

Ketahuilah bahwa para ulama telah berbeda pendapat tentang Sifat Duduk dalam Shalat yang mempunyai dua tasyahud, yaitu : (Sumber: Buku Sifat Shalat Nabi saw tersebut pada footnote 4 halaman 514)

 

i)        Madzab Abu Hanifah dan para pengikut berpendapat, “Dalam kedua tasyahud

itu, duduknya adalah iftirasy.”

ii)      Madzhab Malik dan para pengikut berpendapat, “Dalam kedua tasyahud itu,

duduknya adalah tawarruk.”

iii)    Madzhab Asy-Syafi’i dan para pengikut berpendapat, “Dalam setiap tasyahud yang kemudian setelahnya adalah salam, duduknya adalah duduk tawarruk, dan duduk iftirasy pada tasyahud lainnya (tasyahud awal).”

iv)    Madzhab/Imam Ahmad berpendapat, “Duduk tawarruk hanya terdapat pada setiap Shalat yang memiliki dua tasyahud, yaitu pada tasyahud terakhir dari keduanya.”

 

Berikut ini disampaikan rincian paparannya :

 

  1. Madzhab yang pertama dan para pengikutnya, berpegang kepada tiga hadits, sbb :

 

Pertama, hadits dari Aisyah r.a., yang bahasa Indonesianya adalah : “Setiap dua raka’at Rasulullah saw membaca tahiyat, dan beliau membentangkan kaki kirinya sebagai tempat duduk iftirasy, dan dengan menegakkan kaki kanannya ……..” (al-Hadits).

 

Hadits ini telah disebutkan sebelumnya pada bahasan “Doa Iftitah” dan ia dengan makna umumnya adalah hujjah yang jelas, karena sesungguhnya Aisyah r.a. menyebutkan hal itu setelah perkataannya, yang bahasa Indonesianya, sbb :

“Setiap dua raka’at membaca tahiyat …….” dan ungkapannya, “Dan beliau membentangkan kaki kirinya……”, dan seterusnya, seolah-olah adalah nash bahwa hal itu terjadi pada setiap dua raka’at juga.

Namun, sesungguhnya hadits ini –walaupun ia berada dalam Shahih Muslim, tetapi ia memiliki ‘illatnya (sebab tersembunyi dan samar yang melemahkan hadits) yaitu terputus sanadnya sebagaimana telah kami jelaskan di sana.      

Dan bila hadits ini shahih, maka kami boleh berpendapat tentang duduk iftirasy pada tasyahud akhir dan bahwasanya ia adalah kadang-kadang disunnahkan, namun hadits tersebut tidak shahih   .” (Sumber: Buku Sifat Shalat Nabi saw pada footnote 4 halaman 515 tersebut di atas).

 

Kedua, dari Wa’il bin Hujur. Dia berkata, yang bahasa Indonesianya, sbb :

“Seperti tersebut pada butir B.1.b di atas.” Berdasarkan fakta ini, maka ini tidak bisa dijadikan hujjah bagi pendapat madzab ini, bahkan ia adalah hujjah bagi Madzhab keempat yaitu Madzhab Ahmad – yang berpendapat duduk iftirasy pada tasyahud awal pada shalat yang empat raka’at, dan demikian pula pada shalat yang dua raka’at, dan hadits ini sekaligus adalah bantahan atas Madzhab kedua dan ketiga seperti tersebut pada butir B.3.ii) dan iii) di atas. (Sumber: Buku Sifat Shalat Nabi saw pada footnote 4 halaman 515 dan 516 tersebut di atas).

 

Ketiga, hadits yang ketiga ini bahasa indonesianya adalah : “Sesungguhnya sunnah shalat adalah menegakkan kaki kananmu dan memiringkan kaki kirimu.”  

 

Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa (hal.1/112-113)dan lewat jalurnya hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (hal. 2/242-243) lewat jalur Malik dari Abdurrahman ibnul Qasim, dari Abdullah bin Abdullah bin Umar. Demikian pula hadits ini diriwayatkan ole hath-Thahawi (hal.1/151) dan al-Baihaqi (hal.2/129).

 

Hadits ini diriwayatkan pula oleh an-Nasa’I (hal.1/173), ad-Daruquthni (hal.133), dan al-Baihaqi lewat jalur lain dari Yahya bin Sa’id, dari al-Qasim bin Muhammad, dari Abdullah bin Abdullah, tentang riwayat yang semisal dengannya. Lafazh dari an-Nasa’I telah berlalu bahasannya dalam bahasan (duduk antara dua sujud), dan demikian pula ad-Daruquthni memiliki beberapa lafazh lainnya. Kemudian ad-Daruquthni berkata, “Semua riwayat ini adalah Shahih.”

 

Syaikh Albani mengomentari, “Ia adalah hujjah secara mutlak, namun telah muncul pula dari Ibnu Umar  riwayat yang menentukan kaitan hal itu dengan tasyahud awal dalam shalat empat raka’at atau dengan tasyahud pada shalat yang dua raka’at, yaitu riwayat yang diriwayatkan oleh Malik juga, dan lewat jalurnya, riwayat ini diriwayatkan oleh ath-Thahawi dan al-Baihaqi, dari Yahya bin Sa’id juga. ‘Aku diberitahukan hadits oleh Yahya dari Malik dari Yahya bin Sa’id, bahwa al-Qasim bin Muhammad telah memperlihatkan kepada mereka cara duduk dalam tasyahud, kemudian dia menegakkan kaki kanannya dan memiringkan kaki kirinya. Dia duduk di atas pantatnya yang sebelah kiri, dan tidak duduk di atas kakinya. Kemudian dia berkata, ‘Aku diperlihatkan demikian oleh Abdullah bin Abdullah bin Umar dan aku diberitahukan hadits olehnya bahwa ayahnya melakukan duduk tasyahud seperti itu.’”

 

Dengan demikian, riwayat ini bertentangan dengan apa yang disebutkan dalam riwayat al-Qasim bin Muhammad yang disebutkan sebelum ini, dan yang semisal dengannya adalah riwayat anak Abdurrahman. Jadi salah satu dari dua riwayat ini tidak didudukkan pada salah satu tasyahud, dan riwayat yang lain tidak didudukkan atas tasyahud yang lain. Maka, kedua riwayat ini akan saling bertentangan.

 

Al-Hafish dalam al-Fath (hal.2/243) berkata, “Bila riwayat al-Qasim dan anaknya didudukkan pada tasyahud pertama, dan riwayat yang terakhir didudukkan pada tasyahud akhir, maka hilanglah pertentangan antara kedua riwayat tersebut, dan hal itu sesuai dengan riwayat yang terperinci yang disebutkan dalam hadits Abu Humaid. Wallahu a’lam.”

 

Inilah semua dalil dan hujjah yang kami (penulis) temukan dalam pegangan pengikut madzhab ini. Telah jelas bagi anda dengan keterangan ini, bahwa tidak bisa diterima dari mereka walaupun satu hujjah. (Sumber: Buku Sifat Shalat Nabi saw pada footnote 4 halaman 516 dan 517 tersebut di atas).

 

  1. Madzhab yang kedua dan para pengikutnya, mereka juga ber-hujjah dengan hadits Ibnu Umar yang telah disebutkan tadi (tsb. di atas), yang bahasa Indonesianya, sbb :

(Sumber: Buku Sifat Shalat Nabi saw footnote 4 halaman 517) “Bahwa beliau duduk di atas pantatnya yang sebelah kiri.” Bantahan atasnya menjadi jelas sekali dengan bantahan sebelumnya, yaitu bahwa riwayat tersebut didudukan pada tasyahud akhir, untuk memadukan antara riwayat-riwayat yang saling bertentangan.  Sehingga dua riwayat tersebut dengan memadukan antara keduanya adalah hujjah untuk Ahmad atas Madzhab Malik.

 

Kami (Penulis) telah menemukan hujjah lain bagi mereka yaitu hadits Ibnu Mas’ud, dengan bahasa Indonesia, sbb: “Sesungguhnya Rasulullah saw ketika duduk pada pertengahan shalat dan pada akhirnya, di atas pantatnya yang sebelah kiri, beliau membaca, ‘Segala ucapan selamat adalah bagi Allah……’” (al-hadits).

 

Ini adalah nash yang jelas tentang tawarruk dalam shalat dua tasyahud, namun sanadnya tidak shahih sebagaimana telah dijelaskan pada duduk iftirasy yaitu : “Dalam penetapan hadits tersebut dengan lafazh tersebut ada pertimbangan, karena ia diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq sendirian yang bertentangan dengan riwayat perawi lainnya yang lebih tsiqah (terpercaya) dan lebih kuat hafalannya.

Adz-Dzahabi – setelah memaparkan pendapat-pendapat ulama tentangnya– telah berkata,”Jadi yang jelas bagi kami, adalah bahwa Ibnu Ishaq adalah haditsnya hasan, kepribadiannya dapat diterima, dan shaduq (jujur). Tetapi hadits yang diriwayatkan olehnya sendirian, terdapat pengingkaran terhadapnya karena hafalannya bermasalah.”

 

Penulis (Syaikh al-Albani) mengomentari, “Sebutan tentang duduk tawarruk dan tasyahud pertengahan adalah mungkar dalam hadits Ibnu Mas’ud tersebut, karena al-Bukhari, Muslim dan imam-imam hadits yang empat lainnya dan lain-lain telah meriwayatkan hadits tersebut lewat banyak jalur, tetapi di dalamnya tidak disebutkan apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq tersebut. Wallahu’alam.”

 

Mereka memiliki hujjah yang ketiga, yaitu hadits Abdullah ibnuz Zubair ini, yaitu hadits tersebut di bawah ini yang bahasa Indonesianya adalah : “Sesungguhnya Rasulullah saw bila duduk di dalam shalat, maka beliau menjadikan kaki kirinya berada di antara pahanya dan betisnya, dan membentangkan kaki kanannya. Rasulullah saw meletakkan tangan kirinya di atas lutut kirinya, dan meletakkan tangan kanannya di atas paha kanannya dan menunjuk dengan isyarat jari telunjuknya.”

Namun hadits ini dibantah, bahwa ia adalah hadits umum, dan bahwasanya ia didudukkan ke dalam tasyahud akhir, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Humaid sebelumnya (tersebut pada butir B.2.b. di atas). Hal ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad (hal.1/86).

 

  1. Madzhab yang ketiga dan para pengikut, mereka tidak memiliki hujjah selain yang terdapat dalam hadits Abu Humaid dengan lafazh bahasa Indonesianya, sbb.:

(Sumber : Buku Sifat Shalat Nabi saw footnote 4 halaman 517 dan 518)

“Hingga ketika beliau sujud pada saat sujud ketika akan salam, Rasulullah saw mengeluarkan kaki kirinya (dan meletakkannya ke bawah kaki kanannya), lalu beliau duduk tawarruk di atas samping (pantat) kirinya.”

 

Hadits ini telah dijelaskan sebelumnya pada butir A.4.a. di atas. Namun  , di dalam hadits ini tidak terdapat hujjah, karena redaksi hadits menunjukkan bahwa hal itu terjadi pada tasyahud yang kemudian diikuti dengan salam dari shalat yang empat dan tiga raka’at, karena dia telah menyebutkan tentang duduk Rasulullah saw pada duduk tasyahud setelah dua raka’at. Kemudian dia berkata, yang bahasa Indonesianya adalah : “Hingga ketika beliau sujud pada saat sujud ketika akan salam, Rasulullah saw  mengeluarkan kaki kirinya (dan meletakkannya ke bawah kaki kanannya), lalu beliau duduk tawarruk di atas samping (pantat) kirinya.” Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad (hal.1/92) berkata, “Dengan demikian, redaksi hadits ini sangat jelas mengkhususkan duduk tersebut dengan tasyahud yang kedua.”

 

Penulis (Syaikh al-Albani) mengomentari, “Yang lebih tegas lagi adalah riwayat al-Bukhari yang telah berlalu tadi, dengan lafazh, yang bahasa Indonesianya adalah :

“Ketika Rasulullah saw duduk setelah dua raka’at, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya. Pada saat duduk di raka’at terakhir, beliau menyilangkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya, dan duduk di atas tempat duduknya.”

 

Hadits ini adalah nash tentang apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim, dan ia menjelaskan bahwa sebagian perawi telah meriwayatkan secara umum riwayat hadits Abu Humaid ini, sehingga tidak menyebutkan sifat duduk Rasulullah saw dalam tasyahud pertama, sehingga terpesona orang-orang yang menjadikannya sebagai hujjah untuk madzhab ini. Sedangkan yang harus menjadi pegangan adalah hadits yang ada keterangan tambahan dan tambahannya lebih banyak dari pada yang lain—sebagaimana telah diketahui ketetapannya.

 

  1. Madzhab yang keempat, maka anda telah mengetahui bahwa hujjahnya adalah hadits Abu Humaid ini. Ia adalah nash yang jelas, tegas dan pasti tentang masalah  itu. Dengan demikian, ia adalah madzhab yang paling kuat dan paling benar, dan madzhab inilah yang memadukan antara beberapa hadits yang telah ditetapkan keshahihannya dan tidak menolak sesuatu pun dari hadits-hadits tersebut. Namun, hal itu berbeda dengan madzhab-madzhab lainnya, karena ia harus menolak banyak hadits lain atau sebagian darinya – sebagaimana hal itu jelas sekali terjadi. (Sumber : Buku Sifat Shalat Nabi saw footnote 4 halaman 518 tersebut di atas.).

 

  1. KESIMPULAN/SIMPULAN.

 

Dari paparan tersebut Butir A dan B di atas tentang sifat duduk di dalam Shalat yang dua raka’at dapat disimpulkan bahwa berdasarkan dalil/nash yang benar adalah :

 

  1. Duduk IFTIRASY dilakukan pada tasyahud awal/permulaan untuk shalat yang memiliki dua tasyahud dan pada tasyahud akhir untuk Shalat dua raka’at.
  2. Duduk TAWARRUK dilakukan pada tasyahud akhir untuk Shalat yang memiliki dua tasyahud dan pada shalat yang memiliki satu tasyahud untuk Shalat : satu, tiga dan lima raka’at.

 

Pertimbangan tersebut di atas didasarkan pada hal-hal sebagai berikut :

 

a)      Sesuai dalil/nash yang tersebut pada butir B.1.a. dan b serta butir B.2.a dan b.di atas.

b)      Hadits dari Abu Humaid As-Saa’idiy yang dipakai sebagai dasar bagi Imam Asy-Syafi’iy dan para pengikutnya, adalah hadits yang shahih sebagai dasar/dalil/nash untuk melaksanakan shalat yang mempunyai dua tasyahud (pada shalat wajib  3 dan 4 raka’at), sebagaimana ulasan M. Nashiruddin Al-Albani seperti tersebut pada butir B.3.iii).c. atau uraian/paparan perbedaan pendapat tentang sifat duduk dalam dua tasyahud khususnya Madzhab yang ke tiga (Imam Asy-Syafi’i) tersebut pada butir B.3.c. di atas.

c)      Menurut penulis (Abdul Hakim bin Amir Abdat tersebut pada butir A di atas) bahwa hadits Abdullah bin Mas’ud sebagai penguat hadits Abu Humaid As-Saa’idiy seperti tersebut pada butir A.4.b. di atas adalah hadits yang sanadnya tidak shahih sebagaimana yang telah diuraikan pada paparan perbedaan pendapat tentang sifat duduk dalam dua tasyahud khususnya Madzhab yang kedua (Madzhab Malik dan para pengikutnya) seperti tersebut pada butir B.3.b. di atas.

 

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 24-11-2011.

 

BACAAN-BACA AN SURAH DI DALAM SHALAT NABI SAW. (SITE – VI)

(Sumber diambil dari : buku Sifat SHALAT NABI SAW yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin al- Albani pada halaman 249 s/d 305, Penerjemah : Tajuddin Pogo,M.A., Penerbit GEMA INSANI Depok : Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M.)

Lanjutan dari site-V :

Berikut ini disampaikan hadits-hadits (matan hadits ditulis dalam bahasa Indonesia) tentang bacaan surah di dalam shalat Nabi Muhammad saw, yaitu :

    44)   Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa shalat di malam hari dengan membaca dua ratus ayat, maka dia tercatat di antara orang-orang yang taat dan ikhlas.” (78) “Rasulullah saw membaca [pada] setiap malam dengan bacaan surah Bani Israil [111 ayat] dan surah az-Zumar [75 ayat].” (79) Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa shalat di malam hari dengan membaca seratus ayat, maka dia tidak tercatat sebagai orang-orang yang lalai.” (80) Terkadang, “Rasulullah saw membaca dalam setiap rakaat sekitar lima puluh ayat atau lebih.” (81) Terkadang, “Rasulullah aw membaca sekitar panjangnya surah al-Muzammil [20 ayat].” (82) 

(78) Ia adalah penggalan dari hadits Abu Huraiah r.a. secara marfu’ (sanadnya sampai kepada Rasulullah saw), dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa shalat di malam hari dengan membaca seratus ayat, maka dia tidak tercatat sebagai orang-orang lalai. Barangsiapa shalat di malam hari dengan membaca dua ratus ayat, maka dia ditulis termasuk orang-orang yang taat dan ikhlas.”  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim (halaman 1/308-309) dari Abdurrahman bin Abiz Zinad, dari Musa bin Uqbah, dari Ubaidullah bin Salman, dari ayahnya Abu Abdillah bin Salman al-Agharr, dari Abu Hurairah.  Sanad hadits ini adalah sanad yang hasan.

(79) Ia adalah bagian dari hadits Aisyah r.a., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw banyak berpuasa sehingga kami mengatakan, ‘Rasulullah saw tidak ingin berbuka.’ Rasulullah saw banyak berbuka sehingga kami mengatakan, ‘Rasulullah saw tidak ingin berpuasa. ‘Sesungguhnya Rasulullah saw membaca [pada] setiap malam dengan bacaan surah Bani Israil [111 ayat] dan surah az-Zumar [75 ayat].”” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 6/122) dan Ibnu Nashr (halaman 69)  dan tambahan tersebut [pada] adalah darinya. Hadits ini diriwayatkan dari Hammad bin Zaid, dia berkata, “Kami diberitahukan hadits oleh Marwan Abi Lubabah, dari Bani Aqil, dari Aisyah.”  Sanad hadits ini adalah sanad yang shahih, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya), sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami (halaman 2/272).

(80) Ia adalah bagian dari hadits Abu Hurairah r.a., dan telah disebutkan sebelumnya. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim (halaman 1/308) lewat jalur Abdan, dia berkata, “Kami diberitakan hadits oleh Abu Hamzah dengan lafazh, “’….tercatat sebagai orang-orang taat.”’ Al-Hakim berkata, “Shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Hadits ini sebagaimana dikatakan oleh keduanya.  Ia juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya lewat jalur ini dengan lafazh, “Barangsiapa bangun shalat malam dengan membaca dua ratus ayat, maka ia tercatat sebagai orang-orang yang memiliki harta kekayaan yang banyak (pahala yang banyak sekali).”

(81) Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Kabiir dalam hadits panjang dari Ibnu Abbas tentang shalat Nabi saw pada malam hari, dan di dalamnya terdapat, “Kemudian Rasulullah saw shalat empat rakaat, dan membaca dalam setiap rakaat sekitar lima puluh ayat, dan Rasulullah saw memanjangkan ruku’ dan sujud dalam shalatnya…(al-hadits).” Namun, di dalam sanadnya terdapat Atha’ bin Muslim al-Khaffaf, al-Haitsami (halaman 2/276) berkata, “Dia dikatakan tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Hibban.”  Ulama yang lainnya mengatakan “Dia adalah dha’if. Sesungguhnya dia adalah seorang yang saleh, namun kitab-kitabnya terkubur, sehingga haditsnya tidak terbukti cermat hafalannya.” Al-Hafizh dalam at-Taqriib berkata, “Shaduq (jujur) namun banyak melakukan kesalahan (dalam riwayat hadits).”  Syaikh al-Albani mengomentari, “Dengan tingkat seperti ini, haditsnya ini adalah hadits shahih dan terbukti kuat, karena ia memiliki syahid (saksi hadits yang menguatkan) dari hadits Aisyah.” Jadi, bila lama sujud Rasulullah saw sekitar bacaan 50 ayat, maka berdirinya juga sekitar itu atau lebih panjang, karena sujud Rasulullah saw tidak mungkin lebih panjanag dari pada berdirinya, sebagaimana hal itu diketahui dari perbuatan beliau saw  sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 3/14). Dia berkata, “Jadi, dalam hadits tentang gerhana disebutkan, ‘Kemudian Rasulullah saw melakukan ruku’ seperti lamanya berdiri.’ Dalam hadits Hudzaifah juga disebutkan seperti itu.” Dia berkata, “Telah diketahui dari riwayat Aisyah ini bahwa Rasulullah saw membaca Al-Qur’an lebih daripada itu.”  Syaikh al-Albani mengomentari, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (halaman 1/212 dan 213) dengan dua sanad shahih dari Aisyah, “Rasulullah saw menunaikan shalat Isya, kemudian beliau berbaring di atas tempat tidurnya, lalu tidur. Kemudian beliau saw bangun menuju ke tempat shalatnya, dan menunaikan shalat delapan rakaat. Rasulullah saw menyamakan antara seluruhnya dalam bacaan, ruku’ dan sujud….(al-hadits).”

(82) Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Ia berkata, “Aku berada di rumah Maimunah, kemudian Nabi saw bangun shalat malam. Kemudian aku pun bangun bersama beliau dan bermakmum di sebelah kirinya. Kemudian Rasulullah saw memindahkanku ke sebelah kanannya. Lalu, Rasulullah saw menunaikan shalat tiga belas rakaat. Aku memperkirakan lama berdirinya setiap rakaat sekitar bacaan surah al-Muzzammil [surah ke 73: 20 ayat].” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 1/365-366), “Kami diberitahukan hadits oleh Abdur Razzaq, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Ma’mar, dari Ibnu Thawus, dari Ikrimah bin Khalid, dari Ibnu Abbas.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (halaman 1/215) dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir dari Abdur Razzaq. Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim.

    45)   Rasulullah saw tidak pernah bangun malam sepanjang malam seluruhnya, (83) kecuali hanya jarang sekali. Dan pernah terjadi, “Dari Abdullah bin Khabbab ibnul Aratt dari ayahnya maula bani Zuhrah – dia termasuk salah seorang yang terlibat dalam Perang Badar bersama Rasulullah saw – dia memperhatikan Rasulullah saw semalam suntuk [dalam sebuah riwayat disebutkan dalam suatu malam di mana Rasulullah saw menghidupkan seluruhnya dengan shalat] hingga datang waktu shubuh. Setelah Rasulullah saw mengucapkan salam dari shalatnya, Khabbab ibnul Aratt berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, aku telah melihat engkau menunaikan shalat di malam ini, yang mana aku belum pernah menyaksikan engkau melakukan shalat yang semisal dengannya.” Rasulullah saw bersabda, “Benar, sesungguhnya ia adalah shalat (raghab) harapan dan (rahab) takut dan cemas. [dan sesungguhnya aku] memohon kepada Tuhanku Allah SWT tiga perkara, kemudian Allah SWT mengabulkan dua perkara dan menolakku satu perkara. Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku, agar Dia tidak memusnahkan kita dengan azab yang telah memusnahkan umat-umat sebelum kita [dalam sebuah lafazh, agar Dia tidak memusnahkan umatku secara missal], (84) kemudian Allah SWT menganugerahkannya kepadaku. Aku memohon kepada Tuhanku, Allah SWT, agar Dia tidak memberikan kemenangan musuh kita atas kita. Kemudian Allah SWT menganugerahkannya kepadaku. Kemudian aku memohon kepada Tuhanku agar Dia tidak memecah belah kita menjadi berkelompok-kelompok; namun Dia menolakku dalam permintaan itu.” (85)

(83) Ia adalah bagian dari hadits Aisyah r.a..  Dari Sa’id bin Abi Arubah, dari Qatadah, dari Zurarah bahwa Sa’ad bin Hisyam bin Amir, dari Aisyah, ia berkata, “Aku tidak mengetahui Rasulullah saw membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu malam, dan tidak pula bangun shalat malam hingga waktu subuh.”  Hadits ini telah disebutkan pula dalam pembahasan ini. (1)  [(1) Syaikh al-Albani mengomentari, “Berdasarkan hadits ini dan lain-lain, dimakruhkan menghidupkan malam seluruhnya terus-menerus atau secara dominan, karena ia bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw. Seandainya menghidupkan malam dengan shalat itu lebih afdhal, maka Rasulullah saw tidak akan ketinggalan dalam melakukannya. Sebaik-baik petunjuk adalah tuntunan Rasulullah saw, Muhammad saw. Dan tidak dapat dijadikan pegangan apa yang diriwayatkan dari Abu Hanifah – semoga Allah SWT merahmatinya – bahwa dia selama empat puluh tahun selalu melakukan shalat Shubuh dengan wudhu dari shalat Isya (tidak batal). Sebab, sesungguhnya riwayat tersebut tidak ada sumbernya dari Abu Hanifah. Bahkan, al-‘Allamah al-Fairus Abadi dalam kitab ar-Radd’alal Mu’taridh (halaman 44/1) berkata, ‘Ini adalah salah satu dari sejumlah riwayat yang dusta secara jelas, dan tidak sepantasnya dinisbatkan kepada Imam Abu Hanifah. Oleh karena, perkara seperti tidak ada fadhilahnya sama sekali yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan sesungguhnya Imam Abu Hanifah pasti akan memilih yang lebih afdhal. Tidak diragukan bahwa berthaharah (wudhu) setiap shalat adalah lebih afdhal, lebih sempurna, dan lebih lengkap. Hal ini dinyatakan kalau benar bahwa Imam Abu Hanifah selalu bangun dan menghidupkan seluruh malamnya sepanjang empat puluh tahun, secara berturut-turut. Perkara seperti ini lebih dekat kepada perkara yang mustahil. Ia juga adalah khurafat dari sebagian para pengikutnya yang fanatik dan bodoh. Mereka mengatakan hal itu terhadap Abu Hanifah dan lain-lain, dan semua itu adalah dusta.”]  Namun hal ini tidak berlaku umum, berdasarkan hadits yang muncul setelahnya, dan berdasarkan hadits Hudzaifah yang terdahulu juga. Ia secara tekstual menunjukkan atas fakta bahwa Rasulullah saw menghidupkan malam secara keseluruhan. Dan yang menjadi syahid (saksi hadits yang menguatkan) bagi hadits ini, juga adalah hadits dari hadits Aisyah sendiri, di mana dia berkata, “Sesungguhnya aku bangun bersama Rasulullah saw pada satu malam semalaman suntuk ……(al-hadits).” Sanad ini adalah sanad yang jayyid sebagaimana telah dijelaskan. Yang menjadi syahid (saksi hadits yang menguatkan) bagi hadits ini adalah hadits Aisyah lainnya, lihat kitab Riyaadhush Shaalihiin (halaman 436).

(84) Memusnahkan secara missal sebagaimana disebutkan dalam hadits Tsauban. An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, “Jangan sampai Dia menghancurkan umat dengan bencana yang menimpa massal dan menyeluruh pada negeri Islam. Namun bila bencana terjadi, maka kejadiannya hanya lokal saja, di suatu tempat yang kecil dibandingkan dengan seluruh negeri Islam. Maka, hanya puji bagi Allah SWT atas karunia-Nya dan nikmat-Nya.”  Sabda Rasulullah saw, “Agar Dia tidak memberikan kemenangan atas kita, yakni atas umat Islam, umat Muhammad saw,”  “Kepada musuh kita dari selain diri kita,”  yaitu dari kelompok-kelompok orang kafir. Dan yang dimaksud adalah agar Allah SWT tidak memberikan kekuasaan kepada orang-orang kafir atas kaum Muslimin, sehingga memusnahkan mereka sampai habis, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Tsauban; “Agar Dia tidak memberikan kekuasan kepada musuh atas umat Islam dari golongan lain dari selain mereka sehingga menghancurkan jamaah (demikian pula kejayaan dan kehormatan) mereka. Yakni, jamaah kaum Muslimin dan keturunan mereka.”  Sabda Rasulullah saw, “Yakni, mengadu domba kita dalam medan pertempuran.” “Yakni, berkelompok-kelompok: yang bertikai antara sesamanya dengan sebagian memerangi sebagian yang lain.” “Namun Dia menolakku dalam permintaan itu.” As-Sanadi berkata, “Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwasanya pengabulan doa dengan menganugerahkan perkara yang diminta, tidak seluruhnya bisa terealisasi, bahkan bisa jadi ia tertunda karena tidak mencukupi beberapa persyaratan yang disyaratkan dalam pengabulan doa.”

(85) Ia adalah bagian dari hadits Khabbab ibnul Aratt. Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i, at-Tirmidzi (halaman 2/26 – cet. Bulaq), Ahmad (halaman 5/108 dan 109) {dan Ibnu Hibban (7129-al-Ihsan), dan ath-Thabrani (1/187/2)=[4/57 dan 58 dan 59]; lewat jalur az-Zuhri, dia berkata, “Aku diberitakan hadits oleh Ubaidullah bin Abdullah ibnul Harits bin Naufal dari Abdullah bin Khabbab ibnul Aratt….dst….” At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan shahih.” Syaikh al-Albani mengomentari, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi tsiqah (terpercaya) dari al-Bukhari dan Muslim selain Abdullah bin Khabbab, dan dia pun adalah perawi yang tsiqah. An-Nasa’i memberikan judul untuk hadits ini dengan bab “Menghidupkan Malam.”

     46)   “Nabi saw bangun shalat malam di suatu malam dengan membaca ayat yang selalu di ulang secara terus-menerus hingga pagi hari, yaitu ayat, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.’ (al-Maa’idah: 118) [dengan membacanya Rasulullah saw ruku’, dengan membacanya Rasulullah saw bersujud, dan dengan membacanya Rasulullah saw berdoa] [setelah pagi, Abu Dzarr r.a. berkata kepada beliau saw, ‘Wahai Rasulullah, engkau terus membaca ayat ini hingga pagi hari, engkau ruku’ membacanya, engkau sujud membacanya], [dan engkau berdoa dengannya], [dan sesungguhnya Allah SWT telah mengajarkan Al-Qur’an seluruhnya kepada engkau (kenapa engkau hanya membaca ayat tersebut? Penj.)], [seandainya sebagian dari kami yang melakukan hal ini, maka kami bisa memahaminya?]. [Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku, Allah Azza wa Jalla, syafaat bagi umatku, kemudian Allah SWT menganugerahkannya kepadaku; dan ia akan diraih oleh siapa pun – insya Allah SWT – bagi orang yang tidak menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu apa pun.’] “” (86) 

(86) Ia adalah hadits Abu Dzarr al-Ghifari r.a..  Hadits ini diriwayatakan oleh an-Nasa’i (halaman 1/156-157), Ibnu Majah (halaman 1/407), ath-Thahawi (halaman 1/205), al-Hakim (halaman 1/241), dan Ahmad (halaman 5/156 dan 177) lewat beberapa jalur dari Qudamah bin Abdullah al-Amiri, dari Jasrah binti Dijajah, dari Abu Dzarr. Al-Hakim berkata, “Sanad ini adalah sanad yang shahih,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Kemudian hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 5/170) dengan tambahan-tambahan lainnya. “Kami diberitahukan hadits oleh Yahya, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Qudamah bin Abdullah, dengan lafazh, ‘Nabi saw bangun di salah satu malam, pada shalat Isya kemudian memimpin shalat para sahabat. Kemudian ada beberapa sahabat Rasulullah saw yang tertinggal menunaikan shalat. Setelah Rasulullah saw melihat berdirinya mereka dan ketertinggalan mereka, Rasulullah saw kembali ke tempat kemahnya. Kemudian setelah melihat sahabat telah mengosongkan tempat itu, Rasulullah saw kembali ketempat itu. Lalu, Rasulullah saw menunaikan shalat, kemudian aku datang dan berdiri di belakang beliau saw. Rasulullah saw mengisyaratkan kepadaku agar pindah di sebelah kanannya, maka aku pun berdiri di sebelah kanannya. Kemudian Ibnu Mas’ud datang, dan berdiri dibelakangku dan dibelakang Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw mengisyaratkan kepadanya agar pindah ke sebelah kirinya, kemudian Ibnu Mas’ud berdiri di samping kirinya. Kemudian masing-masing dari kami bertiga menunaikan shalat dan membaca doa untuk dirinya sendiri, dan membaca Al-Qur’an semampunya atas kehendak Allah SWT. Kemudian Rasulullah saw menunaikan shalat dengan membaca satu ayat dari Al-Qur’an yang secara terus-menerus diulang hingga shalat Shubuh. Setelah pagi hari, aku mengisyaratkan kepada Abdullah bin Mas’ud agar dia bertanya kepada Rasulullah saw tentang apa yang diinginkan oleh beliau saw dengan perbuatan yang dilakukannya semalam. Kemudian Ibnu Mas’ud mengatakan dengan isyarat tangannya, ‘Aku tidak akan bertanya kapadanya tentang sesuatu hingga Rasulullah saw menjelaskannya kepadaku.’ Maka aku pun bertanya, ‘Demi Ayah dan Ibuku! Engkau bangun shalat malam dengan hanya membaca satu ayat dari Al-Qur’an, sementara engkau menghafal seluruh Al-Qur’an. Seandainya sebagian dari kami yang melakukan hal ini, apakah kami dapat memahaminya?’ Rasulullah saw bersanda, ‘Aku berdoa untuk umatku.’ Dia bertanya, ‘Apa yang dikabulkan oleh Allah SWT untuk engkau?’ atau: apa balasan jawaban yang engkau dapatkan?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Aku mendapatkan balasan jawaban dengan perkara yang bila kebanyakan umat mengetahuinya sekilas saja, maka mereka meninggalkan shalat.’ Dia berkata, ‘Tidakkah sebaiknya aku memberitakan kabar gembira ini kepada orang-orang?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Mengapa tidak?’ Maka, aku pun bertolak dengan cepat laksana lemparan batu. Kemudian Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya bila engkau mengutusnya kepada orang-orang dengan menyampaikan berita ini, maka mereka akan takut dan mundur dari beribadah.’  Kemudian Rasulullah saw berseru, ‘Kembalilah.’ Kemudian dia kembali. Ayat itu adalah, ayat no. 118 surat al-Maa’idah/5.  Sanad ini adalah sanad yang kuat seperti sanad hadits sebelumnya.

      47)   Seseorang berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki seorang tetangga yang bangun shalat malam, tetapi dia tidak membaca selain, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (al-Ikhlaash: 1, 4 ayat). [Dia terus mengulang-ulangnya] [dan tidak menambahkan apa pun sesudahnya] – seolah-olah sahabat ini menganggapnya terlalu sedikit. Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya ia setara dengan sepertiga dari Al-Qur’an.”’ (87) 

(87) Ia adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 3/43) lewat jalur Ishaq – dia adalah bin Isa, “Kami diberitahukan hadits oleh Malik dari Abdurahman bin Abdullah bin Abdurahman bin Abi Sha’sha’ah al-Anshari, dari ayahnya.” Sanad ini adalah sanad yang shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daruquthni sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 9/49). Hadits ini telah diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ (halaman 1/211) dan lewat jalurnya hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 9/48-49 dan 13/303), Abu Dawud (halaman 1/230), an-Nasa’i (halaman 1/155), ath-Thahawi dalam al-Musykil (halaman 2/81 dan 82) dan demikian pula Ahmad (halaman 3/35), semuanya lewat jalur riwayat yang serupa dengannya, dan di dalamnya terdapat tambahan pertama. 

7.      Shalat Witir

        48)   Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada rakaat pertama dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.” (al-A’laa: 1, 19 ayat). Pada rakaat kedua Rasulullah saw membaca dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir!”’ (al-Kaafiruun: 1, 6 ayat). Pada rakaat ketiga, Rasulullah saw membaca dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa.”’ (al-Ikhlaash: 1,4 ayat). (88) Terkadang Rasulullah saw menambahkan atasnya dengan bacaan, (yang dalam bahasa  Indonesianya) adalah, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar).”’ (al-Falaq: 1, 5 ayat), dan  Bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia.”’ (an-Naas: 1, 6 ayat). (89)  Suatu kali, Rasulullah saw membaca pada satu rakaat Witir dengan bacaan seratus ayat dari surah an-Nisaa’ [176 ayat]. (90) 

(88) Di dalam masalah ini terdapat beberapa hadits, di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i (halaman 1/249), at-Tirmidzi (halaman 2/325-326), ad-Darimi (halaman 1/372-373), Ibnu Majah (halaman 1/357), Ibnu Nashr (halaman 121), ath-Thahawi (halaman 1/170), Ahmad (halaman 1/299-300, 316, dan 372), ath-Thabrani di dalam ash-Shaghiir (halaman 163), dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir juga lewat beberapa jalur dari Abu Ishaq, dari Sa’id bin Jubair, dan Ibnu Abbas, tentang hal itu.

(89) Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (halaman 1/225), at-Tirmidzi (halaman 2/326), Ibnu Majah (halaman 1/357), al-Hakim (halaman 2/520-521), dan Ahmad (halaman 6/227).

(90) Ia adalah bagian dari hadits Abu Musa, yang diriwayatkan darinya oleh Abu Mijlaz, “Bahwa Abu Musa berada di antara Mekah dengan Madinah, kemudian dia menunaikan shalat Isya dua rakaat. Lalu dia bangun lagi dan shalat satu rakaat untuk menunaikan shalat Witir dengannya. Kemudian dia membaca seratus ayat dari surah an-Nisaa’ [176 ayat], lalu dia berkata, ‘Aku tidak melampaui dalam meletakkan kedua kakiku, di mana Rasulullah saw meletakkan kedua kakinya, dan aku membaca dengan bacaan yang dibaca oleh Rasulullah saw.”’ Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i (halaman 1/251) lewat jalur Hammad bin Salamah, dari Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz. Sanad ini adalah sanad yang shahih. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 4/419) lewat jalur Tsabit, “Kami diberitahukan hadits oleh Ashim dengan riwayat yang semisal dengannya.” Dan sanad ini adalah sanad yang shahih juga berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Mulim.

Bacaan pada shalat dua rakaat setelah Witir.

    49)   Sedangkan pada shalat dua rakaat setelah Witir, Rasulullah saw membaca di dalam keduanya dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, “ {az-Zalzalah: 1} [surah ke-99: 8 ayat] dan “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir!”’ {al-Kaafiruun: 1} [surah ke-109: 6 ayat].  (91)

(91) Ia adalah bagian dari hadits Abu Umamah r.a., ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw menunaikan Witir dengan sembilan rakaat, namun ketika beliau mulai gemuk dan banyak lemaknya, beliau menunaikan Witir tujuh rakaat. Kemudian beliau shalat dua rakaat sambil duduk, lalu membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,’  {az-Zalzalah: 1} [surah ke-99: 8 ayat} dan ‘Katakanlah (Muhammad). ‘Wahai orang-orang kafir!” {al-Kaafiruun:: 1} [surah ke-109: 6 ayat].”  Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 5/269), Ibnu Nashr (halaman 82 dan 130), dan ath-Thahawi (halaman 1/171) lewat jalur Imarah bin Zadan, “Aku diberitahukan hadits oleh Abu Ghalib, dari Abu Umamah.

[Catatan] Penting untuk diketahui bahwa telah terbukti benar dua riwayat ini dari hadits Aisyah, juga dalam shahih Muslim (halaman 2/169), {Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dengan sanad yang hasan shahih}, dan lain-lain {dari perbuatan Rasulullah saw} yang keduanya menafikan sabda Rasulullah saw, dari Abdullah bin Umar r.a., Rasulullah saw bersabda, “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari, adalah shalat Witir.” (HR enam ahli hadits, kecuali Ibnu Majah). Dengan demikian, secara tekstual tampak dari riwayat tersebut bahwa terkadang Rasulullah saw melakukan hal itu untuk menjelaskan kebolehannya, dan bahwa perintah dalam hadits tersebut bukanlah suatu kewajiban. Wallahu a’lam. Silahkan merujuk al-Majmuu’ (halaman 4/16). {Kemudian kami menemukan hadits shahih yang memerintahkan shalat sunnah dua rakaat setelah shalat Witir, sehingga ada kecocokan antara perintah dengan perbuatan Rasulullah saw. Terbuktilah bahwa shalat dua rakaat setelah Witir disyariatkan untuk seluruh manusia. Dengan demikian, perintah pertama didudukkan dalam status hukum sunnah, sehingga tidak ada pertentangan. Kami telah men-takhriij hadits ini dalam kitab ash-Shahiihah (1993) dan alhamdulillah atas taufik-Nya.}

8.      Shalat Jumat 

         50)   Terkadang Rasulullah saw membaca dalam shalat Jumat pada rakaat pertama dengan bacaan surah al-Jumu’ah (11 ayat) dan pada rakaat terakhir, (yang dalam bahasa Indonesianyanya) adalah, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad)…” {al-Munaafiquun} [surah ke-63: 11 ayat], (92) dan terkadang Rasulullah saw membaca – sebagai gantinya: (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? {al-Ghaasyiyah: 1} [surah ke-88: 26 ayat].(93) Terkadang Rasulullah saw membaca pada rakaat pertama, (yang dalam bahasa Indonesianyanya) adalah, “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.”  {al-A’laa: 1} [surah ke-87: 19 ayat]. “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?” {al-Ghaasyiyah: 1} [surah ke-88: 26 ayat]. (Pada rakaat terakhir).  (94)

(92) Dalam masalah ini terdapat dua hadits. Hadits pertama, dari Abu Hurairah r.a.. Hadits ini diriwayatkan darinya, oleh Ubaidullah bin Abi Rafi’, ia berkata, “Marwan menunjuk Abu Hurairah sebagai wakilnya atas Madinah selama dia pergi ke Mekah. Kemudian Abu Hurairah memimpin kami shalat Jumat. Lalu setelah dia membaca surah al-Jumu’ah [62: 11 ayat] pada rakaat pertama, maka pada rakaat terakhir, dia membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad)….’  {surah al-Munaafiquun} [surah ke-63: 11 ayat]. Kemudian aku menyusul Abu Hurairah ketika dia pulang, seraya aku berkata, kepadanya, ‘Sesungguhnya engkau membaca dua surah yang keduanya telah dibaca oleh Ali bin Abi Thalib di Kufah.’ Kemudian Abu Hurairah berkata, ‘Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw membaca keduanya dalam shalat Jumat.”’ Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 3/15) dan lafazh ini adalah miliknya, Abu Dawud (halaman 1/175-176), dan at-Tirmidzi (halaman 2/396-397) – dan dia berkata, “Hadits ini hasan shahih,” dan Ibnu Majah (halaman 1/345), semuanya lewat jalur Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ubaidullah bin Abi Rafi’.  Hadits kedua, dari Ibnu Abbas.  “Nabi saw membaca pada hari Jumat dalam shalat Shubuh, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Alif Laam miim. Turunnya Al-Qur’an ….” {surah as-Sajdah (surah ke 32: 30 ayat)} dalam rakaat pertama dan dalam rakaat kedua, Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?’ (al-Insaan: 1, 31 ayat) dan bahwasanya Rasulullah saw membaca pada shalat Jumat surah al-Jumu’ah [surah ke-62: 11 ayat], dan surah al-Munaafiquun [surah ke-63: 11 ayat].” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 3/16), Abu Dawud (halaman 1/169), an-Nasa’i (halaman 1/209-210), ath-Thahawi (halaman 1/240), ath-Thayalisi (halaman 343), dan Ahmad (halaman 1/340 dan 354) lewat jalur Mukhawwal bin Rasyid dari Muslim al-Bithain dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 1/361) dari Qatadah, dari Azrah, dari Sa’id bin Jubair dengan ringkas, seperti yang disebut dalam bab ini. Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan Muslim. Imam asy-Syafi’i telah memilih dua surah ini dibaca dalam shalat Jumt, dan atasnya bermadzhab kebanyakan ulama ahli fiqih, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Bidaayah (halaman 1/128).

(93) Ia adalah hadits dari an-Nu’man bin Basyir. Hadits ini diriwayatkan dari Ubaidullah bin Utbah bin Mas’ud, bahwa adh-Dhahhak bin Qais bertanya kepada Nu’man bin Basyir, “Apa yang telah dibaca oleh Rasulullah saw pada hari Jumat setelah surah al-Jumu’ah?” Dia menjawab, “Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah,‘Sudahkah sampai kepadmu berita tentang (hari Kiamat)?”’  {al-Ghaasyiyah: 1} [surah ke-88: 26 ayat]. Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ (halaman 1/133-134). Dan lewat jalurnya hadits ini diriwayatkan oleh Muhammad (halaman 135), Abu Dawud (halaman 1/175),  an-Nasa’i (halaman 1/210), ad-Darimi (halaman 1/367), ath-Thahawi (halaman 1/240), dan Ahmad (halaman 4/270 dan 277), mereka semua meriwayatkannya dari Malik dari Dhamrah bin Sa’id al-Mazini, dari Ubaidullah bin Utbah bin Mas’ud. Riwayat hadits ini telah diikuti oleh Sufyan bin Uyainah dari Dhamrah. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 3/16), Ibnu Majah (halaman 1/345), dan ath-Thahawi. Ia juga diikuti oleh Abu Uwais yang terdapat pada riwayat ad-Darimi. Ibnu Rusyd (halaman 1/128) berkata, “Malik mensunnahkan agar beramal berdasarkan hadits ini.” Kemudian dia berkata, “Sedangkan Abu Hanifah tidak meninggalkan riwayat pendapat apa pun di dalam masalah ini.” As-Sanadi berkata, “Perbedaan ini didudukkan pada kebolehan membaca semuanya dan semuanya adalah sunnah. Dan bahwa Rasulullah saw kadangkala membaca yang ini dan kadangkala membaca yang itu. Dengan demikian, tidak ada perselisihan antara hadits-hadits dalam bab ini.” Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad (halaman 1/144) berkata, “Semua riwayat hadits tersebut telah terbukti shahih dari Rasulullah saw, namun tidak disunnahkan membaca setiap surah setengahnya saja, atau membaca salah satunya saja. Di antaranya dalam dua rakaat sekaligus, karena ia bertentangan dengan sunnah. Dan para imam masjid yang tidak mengetahui hal itu biasanya membaca keduanya secara terus-menerus.”

(94) Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 3/15-16), Abu Dawud (halaman 1/175), an-Nasa’i (halaman 1/210 dan 232), at-Tirmidzi (halaman 2/413), ad-Darimi (halaman 1/368 dan 376-377), ath-Thahawi (halaman 1/240), ath-Thayalisi (halaman 107), dan Ahmad (halaman 4/273, 276 dan 277).

9.      Dua Shalat Id.  

         51)   Terkadang Rasulullah saw membaca pada rakaat pertama, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi.”  {al-A’laa: 1}[surah ke-87: 19]. (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?”  (Pada rakaat kedua)  {al-Ghaasyiyah: 1} [surah ke 88: 26 ayat]. (95)  Terkadang Rasulullah saw membaca dalam dua shalat Id dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Qaaf. Demi Al-Qur’an yang mulia.” {Qaaf: 1} [surah ke-50: 45 ayat] dan (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Saat (hari Kiamat) semakin dekat …” {al-Qamar: 1} [surah ke-54: 55 ayat]. (96) 

(95) Ia adalah hadits an-Nu’man bin Basyir. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan lain lain, dan hadits ini telah di-takhrij seperti tersebut di atas.

(96) Ia adalah bagian dari hadits Abu Waqid al-Laitsi r.a.. Hadits ini diriwayatkan oleh Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, bahwa Umar ibnul Khaththab bertanya kepada Abu Waqid al-Laitsi, “Apa yang dibaca oleh Rasulullah saw dalam shalat Idul Adha dan Idul Fitri?” Dia menjawab, “Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Qaaf. Demi Al-Qur’an yang mulia.”’ {Qaaf: 1} [surah ke-50: 45 ayat] dan (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pu terbelah.’ {al-Qamar: 1} [surah ke-54: 55 ayat]”   Hadits diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ (halaman 1/191) dan lewat jalurnya hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 3/21), Muhammad (halaman 137), Abu Dawud ( halaman 1/179-180), at-Tirmidzi (halaman 2/415), ath-Thahawi (halaman 1/240), ad-Daruquthni (halaman 180), dan Ahmad (halaman 5/217-218) semuanya dari Malik dari Dhamrah bin Sa’id al-Mazini, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud.  An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, “Dalam hadits ini terdapat dalil untuk Imam asy-Syafi’i dan ulama-ulama yang menyepakatinya bahwa disunnahkan membaca dua surah ini dalam dua shalat Id.”  Ulama berkata, “Hikmah dari membaca keduanya adalah karena keduanya mengandung berita-berita tentang kebangkitan, berita-berita tentang generasi-generasi terdahulu, penghancuran para kaum pendusta, perumpamaan keluar orang-orang berbondong-bondong ke tempat shalat Id. Mereka nanti dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar, dan keluarnya jasad-jasad dari dalam perut bumi laksana belalang yang beterbangan.”  Mayoritas ulama bermadzhab disunnahkan bacaan surah al-A’laa [surah ke-87: 19 ayat] dan surah al-Ghaayiyah [surah ke-88: 26 ayat], dalam shalat Id berdasarkan hadits an-Nu’man dan lain-lain sebagaimana disebutkan dalam al-Bidaayah (halaman 1/170) karangan Ibnu Rusyd. Dia berkata, “Riwayat tentang hal itu mutawattir dariRasulullah saw.” An-Nawawi dalam al-Majmuu’ (halaman 4/17-18) setelah menyebutkan dua hadits tersebut berkata, “Sesungguhnya keduanya adalah sunnah.” Inilah yang benar insya Allah SWT, sehingga sesekali dibaca yang ini, dan sesekali dibaca yang itu. 

10.    Shalat Jenazah 

         52)   Disunnahkan membaca dalam shalat Jenazah dengan bacaan surah al-Faatihah [dan surah lain] (97). (98) Dan Rasulullah saw merendahkan suara dalam membacanya, (99) setelah takbir yang pertama.(100)

(97) Asy-Syaukani (halaman 4/53) berkata, “Di dalamnya terdapat dalil tentang disyariatkannya membaca surah lain bersama surah al-Faatihah dalam shalat Jenazah. Hal itu mau tidak mau harus diterima, karena ia adalah tambahan yang muncul dari sumber yang shahih. Yang mendukung kewajiban membaca surah dalam shalat Jenazah adalah hadits-hadits yang telah disebutkan terdahulu, dalam bab “Kewajiban Membaca al-Faatihah dari Kitaabuh Shalaah dan hadits-hadits secara tekstual benar-benar menunjukkan dalam setiap shalat.” Disunnahkannya membaca surah pendek adalah salah satu pegangan dalam madzhab asy-Syafi’iyyah sebagaimana disebutkan oleh an-Nawawi dalam al-Majmuu’ [dan itulah pegangan yang benar], dan dasar dalilnya adalah hadits ini. Hadits ini dinyatakan shahih sebagaimana akan dijelaskan.

(98) Ia adalah bagian dari hadits Abdullah bin Abbas r.a..  Hadits ini diriwayatkan oleh Thalhah bin Abdullah bin Auf yang berkata, “Aku shalat dibelakang Ibnu Abbas r.a. atas satu Jenazah. Kemudian dia membaca surah al-Faatihah. Dia berkata, ‘Agar kalian mengetahui bahwa ia adalah sunnah.’”  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukahri (halaman 3/158), Abu Dawud (halaman 2/68), an-Nasa’i (halaman 1/281), at-Tirmidzi (halaman 1/191-cet. Bulaq), ad-Daruquthni (halaman 191), al-Hakim (halaman 1/358 dan 386), dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya lewat jalur Syu’bah dan Sufyan dari Sa’ad bin Ibrahim, dari Thalhah bin Abdullah bin Auf, tentang hal itu. Al-Hakim berkata, “Shahih menurut persyaratan al-Bukhari dan Muslim, dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Namun, kedua telah melakukan wahm (salah duga) dari dua sisi, Pertama, penelusuran atas hadits ini bahwa ia belum diriwayatkan oleh al-Bukhari, padahal faktanya hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. Kedua, bahwa ia bukan sesuai dengan persyaratan Muslim, karena dia tidak pernah meriwayatkan hadits dari Thalhah ini.”

(99) Ia adalah bagian dari hadits Abu Umamah r.a., “Yang termasuk sunnah ketika shalat Jenazah adalah membaca Ummul Qur’an dengan suara pelan pada takbir pertama, kemudian bertakbir tiga kali lagi, kemudian mengucapkan salam pada akhirnya.” Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i (halaman 1/281) dan lewat jalur Ibnu Hazm dalam al-Muhallaa (halaman 5/129) lewat jalur al-Laits, dari Ibnu Syihab, dari Abu Umamah r.a. Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim, sebagaimana dikatakan oleh an-Nawawi dalam al-Majmuu’ (halaman 5/233) dan dia berkata, “Abu Umamah ini adalah seorang sahabat.”  Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 3/158) berkata, “Sanadnya adalah sanad yang shahih.”

(100)   Telah bermadzhab dalam beramal dengannya madzhab asy-Syafi’iyyah, sehingga mereka bersepakat bahwa bacaan tersebut letaknya setelah takbir pertama. Ia juga pendapat dari Ahmad. Abu Dawud dalam Masaa’il-nya (halaman 153) berkata, “Aku bertanya kepada Ahmad tentang doa bagi mayit. Aku bertanya, ‘Apakah pada takbir pertama kita membaca surah al-Faatihah?’ Dia menjawab, ‘Benar’. Aku bertanya, ‘Apa yang diucapkan pada takbir kedua?’ Dia menjawab, ‘Bershalawat kepada Nabi saw.’ Aku bertanya, ‘Apakah doa atas mayit dimunajatkan pada takbir ketiga?’ Dia menjawab, ‘Benar.’ Aku bertanya, ‘Apakah aku langsung salam pada takbir keempat, atau berdoa dulu baru mengucapkan salam?’ Dia menjawab, ‘Kamu berdoa dulu,  kemudian baru salam.”” Demikian pula mereka bersepakat bahwa sunnah dalam shalat Jenazah adalah membaca dengan pelan pada siang hari, kemudian mereka berselisih bila shalat Jenazah ditunaikan di malam hari. Ada yang berpendapat membacanya dengan pelan juga. Dan ada yang berpendapat, disunnahkan membaca dengan suara keras. An-Nawawi dalam Syarah Muslim (halaman 5/234) berkata, “Yang menjadi pegangan madzhab adalah yang pertama, dan tidak diperhitungkan sebanyak apa pun orang yang menyatakan membacanya dengan suara keras. Dengan demikian, pengikut madzhab sangat sedikit berpegang kepadanya dibandingkan dengan orang-orang yang berpegang kepada yang lain. Secara tekstual asy-Syafi’i dalam al-Mukhtashar menyatakan, “Membacanya dengan suara pelan,” karena dia berkata, “Dan menyembunyikan bacaan,” dan dia tidak membedakan antara malam dengan siang. Seandainya berbeda, maka dia pasti menyebutkannya. Yang menjadi pegangan hujjah adalah hadits Abu Umamah yang telah kami sebutkan tadi (tersebut di atas) [secara ringkas].

Alhamdulillah telah selesai.

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 08-03-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

BACAAN-BACAAN SURAH DI DALAM SHALAT NABI SAW. (SITE – V)

(Sumber diambil dari : buku Sifat SHALAT NABI SAW yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin al- Albani pada halaman 249 s/d 305, Penerjemah : Tajuddin Pogo,M.A., Penerbit GEMA INSANI Depok : Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M.)

Lanjutan dari site-IV :

Berikut ini disampaikan hadits-hadits (matan hadits ditulis dalam bahasa Indonesia) tentang bacaan surah di dalam shalat Nabi Muhammad saw, yaitu :

42)   Pernah Rasulullah saw membaca dalam satu malam – ketika menderita sakit – tujuh surah panjang. (68) Dan terkadang Rasulullah saw membaca dalam setiap rakaat dengan satu surah dari tujuh surah panjang tersebut. (69)  

(68) Ia adalah hadits Anas bin Malik r.a., dia berkata, “Rasulullah saw menderita sesuatu di suatu malam. Ketika beliau saw di pagi hari, ada yang berkata, ‘Sesungguhnya bekas sakit masih jelas pada tubuh engkau.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya aku seperti yang kalian lihat, alhamdulillah (segala puji milik Allah SWT), dan aku telah membaca tujuh surat yang panjang.”’   Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim (halaman 1/308) dari Mu’ammil bin Ismail, “Kami diberitahukan hadits oleh Sulaiman ibnul Mughirah, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Tsabit, dari Anas.”’  Al-Hakim berkata, “Shahih menurut persyaratan Muslim,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Namun, ternyata tidak benar adanya, karena Mu’ammil bukanlah termasuk perawi-perawi Muslim, dan dia adalah perawi yang shaduq (jujur) namun hafalannya buruk.

Syaikh al-Albani mengomentari, “Secara tekstual Rasulullah saw membaca tujuh surah panjang itu dalam shalat malam, dan demikian pula kemungkinan bisa jadi Rasulullah saw membacanya di luar shalat. Yang mendukung makna pertama adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad – semoga Allah merahmatinya (halaman 5/388 dan 396-397).

Hudzaifah berkata, “Aku bangun shalat malam bermakmum kepada Rasulullah saw di suatu malam, kemudian beliau saw membaca tujuh surah yang panjang dalam tujuh rakaat. Bila beliau saw mengangkat kepalanya bangun dari ruku’, beliau membaca, ‘Allah SWT Maha Mendengar hamba yang memuji-Nya’, kemudian Rasulullah saw membaca, ‘Segala puji milik Allah yang memiliki kerajaan, kekuasaan mutlak, kesombongan, dan keagungan.’  Sesumgguhnya panjang ruku’nya seperti panjang berdirinya, dan panjang sujud seperti panjang ruku’nya. Kemudian Rasulullah saw selesai dan kembali kerumahnya, dan kedua kakiku rasanya hampir patah.”’

Perawi-perawi hadits ini adalah perawi-perawi Muslim selain anak dari paman Hudzaifah, yang belum disebutkan namanya, dan kami tidak mengetahuinya. Secara tekstual kisah ini adalah kisah lain yang terjadi pada Hudzaifah, bukan kisah yang kami sebutkan sebelumnya tadi. Dan kemungkinan bisa jadi kisah ini adalah kisah yang sama, namun sebagian perawi-perawi telah melakukan kesalahan dalam meriwayatkannya. Wallahu a’lam. 

(69) Di dalam masalah ini terdapat dua hadits, yaitu : Hadits pertama, Auf bin Malik al-Asyja’i berkata, “Aku bangun shalat malam bermakmum kepada Rasulullah saw di suatu malam, kemudian beliau saw memulai dengan bersikat gigi, lalu berwudhu, kemudian bangun untuk shalat. Kemudian aku ikut bermakmum kepada beliau saw. Rasulullah saw mulai membaca surah al-Baqarah. Tidak satu pun ayat yang dilalui oleh Rasulullah saw yang berkenaan dengan rahmat, melainkan beliau saw berhenti padanya, dan berdoa. Dan tidak satu pun ayat yang dilalui oleh Rasulullah saw yang berkenaan dengan ancaman, melainkan beliau saw berhenti padanya, dan berlindung kepada Allah SWT. Kemudian Rasulullah saw melakukan ruku’, dan lamanya beliau saw melakukan ruku’ seperti panjangnya beliau saw berdiri. Rasulullah saw membaca dalam ruku’nya, ‘Mahasuci Tuhan yang memiliki kerajaan, kekuasaan mutlak, kesombongan, dan keagungan.’ Kemudian Rasulullah saw bersujud seperti panjangnya beliau saw melakukan ruku’. Beliau saw membaca dalam sujudnya, ‘Mahasuci Tuhan yang memiliki kerajaan, kekuasaan mutlak, kesombongan, dan keagungan.’ Kemudian beliau saw berdiri lalu membaca surah an-Nisaa’, kemudian surah Ali ‘Imran, kemudian surah demi surah, beliau saw melakukan seperti itu.””  Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (halaman 1/139) dan lewat jalurnya, hadits ini di-takhrij oleh al-Baihaqi (halaman 2/310), an-Nasa’i (halaman 1/169), Ibnu Nashr (halaman 51) dan lafazh ini miliknya, dan Ahmad (halaman 6/24) lewat jalur Mu’awiyah bin Shalih, dari Amru bin Qais al-Kindi, bahwa ia mendengar dari Ashim bin Humaid, dia berkata, “Aku mendengar Auf bin Malik al-Asyja’i tentang riwayat tersebut.” Sanad ini adalah sanad yang shahih sebagaimana dikatakan oleh an-Nawawi dalam al-Adzkaar dan dalam al-Majmuu’ (halaman 4/67). Hadits kedua, hadits Ibnu Abbas, “Aku bermalam di rumah bibiku, Maimunah. Kamudian Rasulullah saw bangun dengan terkejut. Kemudian beliau saw pergi ketempat air, lalu berwudhu. Kemudian Rasulullah saw shalat dan membaca, ‘Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.’ (al-Baqarah: 164) hingga akhir surah. Kemudian Rasulullah saw membuka bacaan dengan surah al-Baqarah. Beliau saw membacanya huruf demi huruf (tartil dan pelan) hingga menamatkannya. Kemudian Rasulullah saw ruku’….(al-hadits).”’  Di dalamnya juga terdapat ungkapan, “Kemudian Rasulullah saw bangun, dan membaca pada rakaat kedua surah Ali ‘Imran….(al-hadits).”  Di dalamnya juga terdapat ungkapan, “Kemudian Rasulullah saw berbaring, kemudian beliau saw bangun sambil terkejut, kemudian beliau saw melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan dalam dua rakaat pertama. Rasulullah saw membacanya huruf demi huruf (tartil dan pelan) hingga Rasulullah saw menyelesaikan delapan rakaat, dan beliau saw selalu berbaring pada setiap dua rakaat….(al-hadits). Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Kabiir dan di dalam sanadnya terdapat Ubaidullah din Ishaq al-Aththar. Al-Haitsami (halaman 2/275) berkata, “Dia dikatakan sebagai perawi yang dhaif (lemah) oleh Ibnu Ma’in dan lain-lain., sementara Abu Hatim merasa puas dengan haditsnya.”

43)   Tidak diketahui sedikit pun bahwa Rasulullah saw pernah membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu malam [sama sekali]. (70) Bahkan, beliau saw tidak meridhai hal itu dilakukan oleh Abdullah bin Amru r.a. ketika beliau saw bersabda kepadanya, “Tamatkanlah Al-Qur’an dalam satu bulan.” Dia berkata, “Aku menjawab sesungguhnya aku punya kekuatan (lebih daripada itu).”’ Rasulullah saw bersabda, “Tamatkanlah dalam dua puluh malam.” Dia berkata, “Aku menjawab sesungguhnya aku punya kekuatan (lebih daripada itu).” Rasulullah saw bersabda, “Tamatkanlah dalam tujuh malam, dan jangan melebihi daripada itu.” (71) “Rasulullah saw memberikan rukhshah (keringanan) baginya untuk menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam lima hari.” (72) Kemudian, “Rasulullah saw memberikan rukhshah baginya untuk menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam tiga hari.” (73) Sesungguhnya Rasulullah saw melarang Abdullah bin Amru r.a. menamatkan  bacaan Al-Qur’an kurang daripada waktu tersebut. (74) Dan Rasulullah saw menjelaskan sebabnya dalam sabda beliau saw, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari, maka dia belum memahaminya.” Dalam lafazh yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya belum memahami Al-Qur’an orang yang menamatkannya kurang dari tiga hari.”  Kemudian dalam sabda Rasulullah saw kepadanya, “Sesungguhnya setiap hamba itu memiliki motivasi, (75) dan setiap motivasi itu ada masa jedanya. Maka, motivasinya bisa tertuju kepada sunnahku, atau malah tertuju kepada bid’ah. Barangsiapa yang masa jedanya itu tertuju kepada sunnah, maka dia telah mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang masa jedanya terarah kepada selain itu, maka dia telah binasa.” (76) (77)

(70) Ia adalah bagian dari hadits Aisyah r.a., ia berkata, “Aku tidak mengetahui Raulullah saw membaca Al-Qur’an seluruhnya dalam satu malam, dan tidak pula bangun shalat malam hingga waktu shubuh.”  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/169-170), Abu Dawud (halaman 1/210-211), an-Nasa’i (halaman 1/237 dan 243), Ibnu Nashr (halaman 48-49), ad-Darimi (halaman 1/344-346), dan Ahmad (halaman 6/53-54) lewat jalur Sa’id bin Abi Arubah dari Qatadah, dari Zurarah, bahwa Sa’ad bin Hisyam bin Amir dari Aisyah. Ia adalah penggalan dari haditsnya yang panjang, tentang shalat witir Rasulullah saw dan di dalamnya terdapat ungkapan, bahwa Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata, “Aku beranjak menuju Ibnu Abbas, kemudian aku memberitahukan hadits Aisyah kepadanya, kemudian Ibnu Abbas berkata, ‘Aisyah telah berkata benar.”’ Tambahan tersebut adalah riwayat Abu Dawud.

(71) Ia adalah bagian dari hadits Abdullah bin Amru. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukahri dalam kitab Shahih-nya (halaman 9/79-80), Muslim (halaman 3/163-164), dan lafazhnya adalah miliknya, Abu Dawud (halaman 1/219-220), dan Ahmad (halaman 2/200 dan 200-201) lewat beberapa jalur darinya.  Muslim (halaman 3/162-163) menambahkan dalam sebuah riwayat, “(Rasulullah saw bersabda kepadaku), ‘Oleh karena sesungguhnya untuk istrimu ada haknya atas dirimu, untuk kerabat yang berziarah kepadamu ada haknya atas dirimu, dan untuk jasadmu ada haknya atas dirimu.’ Dia berkata, ‘Aku telah berlaku keras dengan menyulitkan diriku, sehingga aku merasa tertekan dan kesulitan.’ Dia berkata, ‘Rasulullah saw bersabda kepadaku, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui, karena bisa jadi umurmu panjang.’ Dia berkata, ‘Kemudian aku menjalani apa yang dianjurkan oleh Rasulullah saw kepadaku.’ Kemudian setelah aku memasuki masa tua, aku baru menyadari dan menginginkan seandainya aku menerima keringanan dari Nabi saw.””

(72) Ia adalah bagian dari hadits Abdullah bin Amru juga. Hadits ini memiliki dua jalur : Jalur pertama, dari Syu’bah, “Rasulullah saw bersabda kepadaku, ‘Tamatkanlah bacaan Al-Qur’an dalam sebulan.’ Aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan lebih banyak daripada itu.’ Kemudian aku terus meminta (untuk lebih cepat daripada itu) hingga Rasulullah saw bersabda, ‘Tamatkanlah dalam lima hari …..”’  Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i (halaman 1/326) dan Ahmad (halaman 2/195).  Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim. Jalur kedua, dari Mutharrif, yaitu: Dari Mutharrif, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Abdullah bin Amru, ia berkata, “Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, berapa hari aku dapat menamatkan bacaan Al-Qur’an?’ Rasulullah saw bersabda, ‘Tamatkanlah bacaan Al-Qur’an dalam sebulan.’ Aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih cepat daripada itu.’  Rasulullah saw bersabda, ‘Tamatkanlah bacaan Al-Qur’an dalam dua puluh hari.’  Aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih cepat daripada itu.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Tamatkanlah bacaan Al-Qur’an dalam lima belas hari.’ Aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih cepat daripada itu.’  Rasulullah saw bersabda, ‘Tamatkanlah bacaan Al-Qur’an dalam sepuluh hari.’ Aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih cepat daripada itu.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Tamatkanlah bacaan Al-Qur’an dalam lima  hari.’ Aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku mampu melakukan yang lebih cepat daripada itu.’  Dia berkata, “Rasulullah saw tidak memberikan ijin kepadaku (lebih cepat daripada itu).”  Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (halaman 2/155-156 – cet. Bulaq) dan ad-Darimi (halaman 2/471). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini adalah hadits hasan shahih. Tampaknya aneh hadits Abu Burdah dari Abdullah bin Amru.”  Syaikh al-Albani mengomentari, “Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim.”

[Catatan]  Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 9/79) menisbatkan hadits ini hanya kepada ad-Darimi saja. Tetapi, terjadi kesalahan tulis dalam julukan Abu Burdah, dia berkata, “Sesungguhnya ad-Darimi telah meriwayatkan hadits ini lewat jalur Abu Farwah dari Abdullah bin Amru yang berkata, ‘Aku berkata,’Wahai Rasulullah saw! (kemudian dia menyebutkan hadits tersebut).”” Kemudian al-Hafizh dalam al-Fath berkata, “Abu Farwah ini adalah al-Juhani, dan namanya adalah Urwah ibnul Harits. Dia adalah orang Kufah yang tsiqah (terpercaya).”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Tampaknya hal itu terjadi karena dalam naskah miliknya dari ad-Darimi, padahal itu adalah pemalsuan – sebagaimana telah kami sebutkan – dan yang benar adalah Abu Burdah – sebagaimana dalam naskah kami dari ad-Darimi dan demikian pula yang terdapat dalam naskah kitab at-Tirmidzi. Yang menguatkan hal itu adalah bahwa Abu Burdah adalah perawi yang meriwayatkan hadits tersebut dari Abdullah bin Amru dan yang meriwayatkan hadits tersebut darinya adalah Abu Ishaq as-Sabi’I dan Abu Ishak asya-Syaibani, dan perawi yang pertama yang dimaksudkan di sini.” Sedangkan Abu Farwah tidak disebutkan oleh seorang perawi pun bahwa hadits darinya telah diriwayatkan oleh Abu Ishaq as-Sabi’i, atau Abu Ishaq asy-Syaibani, dan tidak seorang perawi pun yang menyebutkan bahwa salah satu Syaikh dari Abu Farwah adalah Abdullah bin Amru. Bahkan, tidak pula salah seorang sahabat yang lain. Oleh karena itu, al-Hafizh dalam Tahdziibut Tahdziib berkata, “Pengarang kitab tidak menyebutkan bahwa dia memiliki Syaikh dari sahabat, dan Ibnu Hibban telah menyebutkannya dalam perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya) dari generasi tabi’in, dan haditsnya yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru ibnul Ash terdapat dalam Musnad ad-Darimi. Wallahu a’lam.”  Syaikh al-Albani mengomentari, “Pendapat ini berdasarkan atas pemalsuan julukan yang terjadi pada naskahnya dari ad-Darimi, dan kami tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi kepada al-Hafizh. Sesungguhnya Allah SWT sebaik-baik Penjaga.”

(73) Ia adalah bagian dari hadits Abdullah bin Amru juga, dan ia memiliki beberapa jalur. Pertama, Rasulullah saw bersabda, “Tamatkanlah bacaan Al-Qur’an dalam tiga hari.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 4/181-182) dan Ahmad (halaman 2/198). Kemudian hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 2/188). Demikian pula Ibnu Hibban (halaman 1/146) lewat jalur Syu’bah juga. Namun, di dalamnya ada tambahan, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu ada motivasi puncaknya, dan setiap motivasi puncak itu ada masa jedanya. Maka, barangsiapa yang motivasi puncaknya tertuju kepada sunnahku, maka dia telah beruntung. Dan barangsiapa yang masa jedanya terarah kepada selain itu, maka dia telah binasa.”  Sanad ini  adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim.  Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 2/165 dan 189) bagian akhirnya, yaitu, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari, maka dia belum memahaminya.” Kemudian hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 2/195) lewat jalur Syu’bah dari Qatadah, dari Yazid bin Abdullah ibnusy Syakhkhir, dari Abdullah bin Amru, tentang hal itu.  Al-Hafizh dalam al-Fath berkata, “Tidak tertutup kemungkinan dan tidak ada yang menghalangi bahwa sabda Rasulullah saw kepada Abdullah bin Amru terjadi berulang-ulang, sebagai penguatan dan penekanan. Hal itu dikuatkan oleh perbedaan yang terjadi dalam redaksi hadits. Tampaknya larangan Rasulullah saw dari menambahkan lebih daripada itu bukanlah bermakna haram, sebagaimana perintah Rasulullah saw di dalam hadits tersebut juga tidak wajib. Hal itu dapat dipahami dari makna-makna terkait beserta kondisi-kondisinya yang terdapat dalam redaksi hadits, yaitu pertimbangan berkenaan dengan ketidakmampuan Abdullah bin Amru untuk melakukannya pada waktu itu, atau pada waktu yang akan datang dari umurnya. Keanehan dilakukan oleh madzhab Zhahiriyyah, di mana mereka berpendapat bahwa haram menghatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari.” An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, “Kebanyakan ulama tidak menentukan batas minimalnya dalam hal itu, tetapi bergantung pada kekuatan dan semangat. Dengan demikian, ia berbeda sesuai dengan perbedaan kondisi dan orang.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Pendapat ini bertentangan dengan tekstual hadits Rasulullah saw, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari, maka dia belum memahaminya.”    Ini adalah nash umum dan mencakup seluruh orang, dan di sini disebutkan ketentuan minimal tiga malam. Dengan demikian, bagaimana seorang ulama mengatakan tidak ada ketentuan minimal dalam hal itu? Jadi, Rasulullah saw menyebutkan bahwa siapa pun yang menamatkan bacaan Al-Qur’an kurang dari tiga malam, maka dia belum memahami Al-Qur’an, dan dia tidak mengerti arti dan tujuan yang dimaksudkan dalam membaca Al-Qur’an. Dan hal itu sesungguhnya telah diisyaratkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (Muhammad: 24)  Ibnu Mas’ud berkata, “Barangsiapa menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam kurang dari tiga malam, maka dia orang yang tergesa-gesa. Dia telah membaca Al-Qur’an dengan cepat seperti sedang membaca syair, dan seperti jatuhnya buah kurma yang kering dari batangnya.”

Sesungguhnya Mu’adz bin Jabal tidak menamatkan bacaan Al-Qur’an kurang dari tiga malam. Kedua pernyataan tersebut disebutkan oleh Ibnu Nashr (halaman 63). Rasulullah saw telah menisbatkan orang-orang yang melakukan demikian sebagai orang-orang yang tidak memiliki pemahaman sebagaimana secara jelas dapat dipahami dari lafazh kedua hadits tersebut. Dengan demikian, pendapat yang benar adalah tidak boleh menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga malam. Itu adalah pilihan madzhab imam Ahmad dan para imam lainnya – sebagaimana telah disebutkan.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Fadhaa’ilul Qur’aan (halaman 172) berkata, “Sesungguhnya beberapa ulama salaf telah memakruhkan menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga malam, sebagaimana disebutkan dalam madzhab Abu Ubaid, Ishak bin Rahawaih dan lain-lain, dan dari ulama belakangan juga. Telah terbukti ada riwayat dari ulama salaf yang menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam waktu kurang daripada itu, dan riwayat tersebut didudukkan pada kemungkinan belum kepada mereka riwayat hadits tersebut, atau bisa jadi mereka dapat memahami dan merenungkan seluruh Al-Qur’an dalam waktu yang lebih cepat daripada itu.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Jawaban yang benar adalah jawaban pertama. Sedangkan yang terakhir, adalah bertentangan dengan sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa membaca Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari, maka dia belum memahaminya,” sebagaimana telah kami jelaskan.

Sesungguhnya Rasulullah saw tidak pernah – sebagaimana telah disebutkan sebelumnya dalam (halaman 511)  menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam waktu kurang daripada itu, dan kepada beliau saw kita berteladan yang terbaik bagi diri kita.

(74) Hal ini dapat dipahami dari prolog kisah ini dan alurnya. Walaupun demikian, hadits ini diriwayatkan oleh ad-Darimi (halaman 2/471) dengan lafazh, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah saw agar tidak menamatkan bacaan Al-Qur’an kurang dari tiga malam.” Sanad ini adalah sanad yang dhaif (lemah), namun maknanya shahih berdasarkan apa yang telah kami jelaskan.

(75) Syirrah adalah semangat dan kemauan yang kuat. Syirrah syabab maknanya adalah masa muda pada awalnya dan puncaknya. Demikianlah yang disebutkan dalam kitab at-Targhiib. Ath-Thahawi berkata, “Syirrah adalah puncak semangat dalam setiap urusan yang diinginkan oleh kaum Muslimin untuk diri mereka sendiri dalam perbuatan-perbuatan mereka untuk ber-tqarrub kepada Allah SWT. Sesungguhnya Rasulullah saw tidak suka amalan taqarrub dari kaum Muslimin dalam ibadah di bawah semangat yang berlebihan, yang pasti mereka lalai darinya dalam suatu waktu tertentu dan mereka meninggalkannya kepada yang lain. Rasulullah saw memerintahkan kepada mereka untuk berpegang kepada amal-amal saleh yang memungkinkan mereka untuk menjaganya dengan stabil dan berkomitmen kepadanya hingga mereka menemui Allah SWT. Telah diriwayatkan dari Rasulullah saw sebuah hadits yang menyingkapkan makna tersebut di mana Rasulullah saw bersbada, dari Aisyah r.a., “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah amal yang paling abadi dan konsisten walaupun sedikit.”’  Hadits ini disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah r.a.. Hadits ini adalah hujjah yang lain tentang makruhnya menamatkan bacaan Al-Qur’an dalam kurang dari tiga malam, karena dikhawatirkan terjadinya kebosanan dan hilangnya semangat, serta tidak mampu mempertahankan amal tersebut secara terus-menerus melainkan dengan kesulitan dan beban yang berat. Hal itu sebagaimana terjadi pada Abdullah bin Amru, dimana dia setelah berusia lanjut berkata, “Kamudian setelah aku memasuki masa tua, aku baru menyadari dan menginginkan seandainya aku menerima keringanan dari Nabi saw.” Oleh karena itu wahai kaum Muslimin, terimalah keringanan dari Rasulullah saw yang sesungguhnya adalah keringanan dari Allah SWT juga. Oleh karena, “Sesungguhnya Allah SWT senang keringanan-keringanannya dilakukan, sebagaimana Allah SWT senang ketetapan-ketetapannya dilakukan,”  sebagaimana telah terbukti dalam hadits yang shahih. Mahabenar Allah SWT yang menggambarkan tentang sifat Rasulullah saw yang mulia (yang ditulis dalam bahasa Indonesianya) bahwa beliau saw adalah, “…penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah: 128) 

(76) Ini adalah bagian penggalan dari hadits Abdullah bin Amru yang terdapat pada Ahmad dan lain-lain sebagaimana telah disebutkan takhrij-nya.

(77) Di sini dalam kitab Shifatush Shalaah yang dipublikasikan dalam halaman 120 terdapat pernyataan Syaikh al-Albani, “Oleh karena itu, ‘Rasulullah saw agar tidak menamatkan bacaan Al-Qur’an kurang dari tiga malam.”’

Di lanjutkan ke site – VI

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 01-03-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

BACAAN-BACAAN SURAH DI DALAM SHALAT NABI SAW. (SITE – IV)

(Sumber diambil dari : buku Sifat SHALAT NABI SAW yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin al- Albani pada halaman 249 s/d 305, Penerjemah : Tajuddin Pogo,M.A., Penerbit GEMA INSANI Depok : Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M.)

Lanjutan dari site-III :

Berikut ini disampaikan hadits-hadits (matan hadits ditulis dalam bahasa Indonesia) tentang bacaan surah di dalam shalat Nabi Muhammad saw, yaitu :

37)   Dan pada suatu perjalanan, Rasulullah membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,” (at-Tiin: 1, 8 ayat), (58) [Pada rakaat pertama]. (59)  

(58) Ia adalah bagian dari hadits al-Barra’ bin Adzib r.a., “Bahwa Nabi saw berada di suatu perjalanan, kemudian dalam shalat Isya beliau saw membaca dalam salah satu rakaatnya, dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.’ (at-Tiin: 1, 8 ayat).”  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/199 dan 8/579), Muslim (halaman 2/41), Abu Dawud (halaman 1/190), an-Nasa’i (halaman 1/155), al-Baihaqi (halaman 2/393), dan Ahmad (halaman 4/284 dan 302), lewat beberapa jalur dari Syu’bah, dari Adi bin Tsabit, dari al-Barra’ bin Adzib, tentang hal itu. Hanya Nasa’i yang        meriwayatkan dengan lafazh, “Pada rakaat pertama.”  Al-Hafizh dalam al-Fath telah mencantumkannya tanpa berkomentar apa pun. Sanad ini adalah sanad yang shahih. Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Malik dalam al-Muwaththa’  (halaman 1/101) dan lewat jalurnya hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i, at-Tirmidzi (halaman 2/115), Ibnu Majah (halaman 1/276), al-Baihaqi, dan Ahmad (halaman 4/286 dan 303),  lewat jalur Yahya bin Sa’id dari Adi secara ringkas, tanpa menyebutkan perjalanan dan rakaat.  Al-Hafizh dalam al-Fath berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca bacaan surah-surah pendek dari al-Mufashshal, karena beliau saw berada dalam perjalanan, dan dalam perjalanan dituntut untuk diberikan keringanan. Sementara, hadits Abu Hurairah harus didudukkan dalam bahasan ketika Rassulullah saw bermukim dan berdiam. Oleh karena itu,  Rasulullah saw membaca bacaan surah-surah pertengahan dari al-Mufashshal.”

(59) Yang menyebutkan tambahan ini sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya adalah al-Hafizh dalam al-Fath, kemudian dia melakukan kelalaian dalam hal itu ketika menyatakan dalam bahaan Tafsir (halaman 8/580), “Orang-orang telah banyak bertanya, ‘Apakah Rasulullah saw membacanya pada rakaat pertama atau kedua? Atau, apakah Rasulullah saw membaca keduanya dalam kedua rakaat tersebut secara bersama-sama? Atau, apakah Rasulullah saw juga membaca surah lainnya di dalamnya? Apakah hal itu diketahui?’ Namun saya tidak menemukan jawabannya, hingga saya melihatnya dalam Kitaabush Shahabah karangan Ali ibnus Sakan dalam tarjamah (biografi yang berkenaan dengan kelayakan perawi hadits) Zur’ah bin Khalifah – seseorang dari al-Yamamah – bahwa dia berkata, ‘Kami mendengar kedatangan Nabi saw kemudian kami menghadap kepada beliau saw. Lalu, Raulullah saw menawarkan Islam kepada kami, hingga kami masuk Islam, dan memberikan jatah rampasan perang untuk kami. Rasulullah saw membaca dalam shalatnya dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,’ (at-Tiin: 1, 8 ayat) dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.’ (al-Qadr: 1, 5 ayat). Dengan demikian, bila shalat tersebut adalah shalat yang ditetapkan oleh al-Barra’ bin Adzib bahwa ia adalah shalat Isya, maka dapat dikatakan bahwa Rasulullah saw membaca pada rakaat pertama, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah; ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,’ (at-Tiin: 1, 8 ayat). Dan pada rakaat kedua, Rasulullah saw membaca bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah,“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.’ (al-Qadr: 1, 5 ayat).

Dengan jawaban tersebut, terjawablah pertanyaan-pertanyaan tadi. Yang mendukung hal itu bahwa kita tidak mengetahui dari suatu hadits pun yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw membaca bacaan; (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,’ (at-Tiin: 1,8 ayat) selain pada hadits al-Barra’, kemudian pada hadits Zur’ah ini.” 

38)   Hadits dengan matan sbb., “Dan Rasulullah saw melarang dari memanjangkan bacaan di dalamnya, dan hal itu terjadi ketika, ‘Mu’adz bin Jabal al-Anshari mengimami shalat bagi para shahabatnya, kemudian dia memanjangkan bacaan atas mereka. Kemudian seseorang dari Anshar keluar dan menunaikan shalat sendirian. Hal itu diberitahukan kepada Mu’adz. Kemudian Mu’adz berkomentar, ‘Sesungguhnya dia adalah Munafik.”’ Setelah komentar itu sampai kepada orang tersebut, dia mendatangi Rasulullah saw dan memberitahukan kepada beliau saw tentang komentar Mu’adz itu. Kemudian Rasulullah saw bersabda kepada Mu’adz, “Apakah kamu ingin menjadi pembuat fitnah, wahai Mu’adz?  Bila kamu mengimami orang-orang maka bacalah, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari,’ (asy-Syams: 1, 15 ayat) dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,’ (al-A’laa: 1, 19 ayat), dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,’ (al-‘Alaq: 1, 19 ayat) dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).’ (al-Lail: 1, 21 ayat). [Oleh karena, sesungguhnya orang-orang yang shalat di belakangmu ada orang tua, lemah, dan memiliki hajat].”” (60) 

(60)  Hal itu diriwayatkan dari beberapa orang sahabat, di antaranya Jabir bin Abdullah al-Anshari, dan dia memiliki beberapa jalur.  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/42), an-Nasa’i (halaman 1/155), Ibnu Majah (halaman 1/275 dan 311), dan al-Baihaqi (halaman 2/392-393).  Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya (halaman 2/155-156 dan 10/424), Muslim (halaman 2/41-42), an-Nasa’i (halaman 1/134), ad-Darimi (halaman 1/297), Ahmad (halaman 3/308 dan 369), dan lewat jalur Abu Dawud (halaman 1/126-127), dan sanadnya pada riwayat adalah tsulatsi (tiga tingkatan perawi-perawinya). Perlu diketahui bahwa di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa imam tidak boleh memanjangkan bacaan lebih panjang daripada yang dibaca oleh Rasulullah saw atau lebih panjang daripada yang ditentukan oleh beliau saw. Hal itu terlarang disebabkan bisa terjadinya fitnah dalam agama, dan menyebabkan orang lari dari shalat berjamaah.

Banyak sekali hadits yang memerintahkan untuk memendekkan bacaan dalam kitab shahih al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain. Yang menjadi ‘illat-nya (sebab hukumnya) adalah bahwa di dalam jamaah itu ada orang sakit, lemah, orang tua, dan orang yang memiliki kebutuhan.

Yang penting bagi kita dalam masalah ini dan harus kami jelaskan adalah memperhatikan masalah sebagian makmum yang dituntut oleh nafsunya untuk membaca surah yang paling pendek pada shalat yang paling panjang yaitu seperti shalat Shubuh dan shalat-shalat yang mendekatinya. Pada kondisi demikian, apakah imam harus mengikuti standar mereka, atau standar orang yang paling lemah dari mereka – sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits – walaupun hal itu harus bertentangan dengan kebiasaan Rasulullah saw yang memanjangkan bacaan di dalamnya?

Pendapat yang kuat menunjukkan bahwasanya imam tidak boleh melakukan hal itu, dan bahwasanya hadits-hadits yang disebutkan tidak mencakup keringanan dan pemendekkan bacaan seperti itu, karena hal itu menyebabkan terlantarnya kebanyakan sunnah-sunnah Nabi saw, karena keringanan dan pemendekkan itu adalah perkara yang relatif. Dengan demikian, bisa jadi menurut kebiasaan suatu kaum, bacaan tertentu dianggap pendek, sementara bagi kaum yang lain, bacaan itu sudah panjang – sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiq al-Id.

Hal itu juga bergantung pada tingkat semangat orang-orang pada komitmen terhadap sunnah Nabi saw dan mengikutinya, dan lemahnya semangat orang lain dalam hal itu. Demikian pula bergantung pada kekuatan orang dalam berdiri dan kelemahan orang lain dalam hal itu, dan masalah-masalah lain yang berbeda-beda. Oleh karena itu, harus ditetapkan batasan untuk bacaan yang pendek yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Itulah yang telah kami singgung dalam masalah ini, bahwa ketetapan tersebut sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw dalam bacaan beliau saw. Jadi, barangsiapa berpegang pada tuntunan tersebut, maka dia telah meringankan makmumnya. Dan barangsiapa membaca lebih panjang daripada itu, maka dia telah membaca bacaan yang memberatkan makmumnya, dan dia telah menentang perintah Rasulullah saw.

Oleh karena itu, setelah orang tersebut mengadu kepada Rasulullah saw tentang masalah Mu’adz, maka Rasulullah saw memerintahkan kepada Mu’adz untuk membaca seperti beliau saw membaca, dan Rasulullah saw tidak memerintahkan kepada Mu’adz untuk membaca yang lebih pendek dari pada bacaan beliau saw. Kami telah mengambil manfaat dari pernyataan Ibnul Qayyim – semoga Allah merahmatinya – dalam bahasan ini, dan semoga Allah SWT membalasnya atas khidmatnya terhadap sunnah Nabi saw dengan balasan sebaik-baiknya, di mana Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad (halaman 1/76) berkenaan dengan bantahan terhadap orang-orang yang shalatnya seperti mematuk, dan terlalu memendekkan bacaan sehingga malah bertentangan dengan sunnah Nabi saw, sedangkan sabda Nabi saw, “Barangsiapa menjadi imam dari kalian, maka hendaklah memendekkan bacaannya.” (HR Ahli hadits yang enam) dan perkataan Anas r.a., “Rasulullah saw adalah orang yang paling ringan dan pendek shalatnya, tetapi sempurna.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Maka,keringanan dan pemendekkan itu adalah perkara yang relative, di mana ukurannya harus dirujuk kembali kepada perbuatan Rasulullah saw dan kebiasaan yang terjaga dari beliau saw atasnya. Hal itu sama sekali tidak bisa diukur dengan standar nafsu orang-orang yang menjadi makmum. Oleh karena, Rasulullah saw tidak pernah menyuruh para sahabat dan umat ini, kemudian beliau saw melanggarnya. Rasulullah saw juga mengetahui di belakang beliau saw ada orang-orang yang menjadi makmumnya: orang tua, lemah, dan orang yang memiliki hajat. Jadi, yang dilakukan oleh Rasulullah saw adalah keringanan dan pemendekkan bacaan yang diperintahkan oleh beliau saw sendiri. Oleh karena,bila tidak demikian adanya, maka shalat Rasulullah saw pasti lebih panjang berkali-kali lipat dari pada itu. Dengan demikian, shalat itu diukur pendek dan ringan bila dibandingkan dengan bacaan yang lebih panjang dari padanya, dan petunjuk Rasulullah saw yang selalu dilakukan secara konsisten dan terus-menerus adalah pemutus keputusan atas setiap perkara yang diperselisihkan oleh para kelompok yang bertikai dan berselisih pendapat.

Yang menunjukkan dalil atas hal itu adalah riwayat hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan lain-lain, dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah menyuruh kami untuk memendekkan (meringankan) bacaan, dan sesungguhnya beliau saw mengimami kami dengan surah ash-Shaaffat (182 ayat).” Dengan demikian, bacaan surah ash-Shaaaffat termasuk surah pendek yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk memendekkan bacaan.

Syaikh al-Albani mengomentari, “Sanad hadits Ibnu Umar ini adalah hadits yang sanadnya hasan dan telah kami bahas dalam bahasan ‘Bacaan dalam Shalat Shubuh.”’ Dalam hadits tersebut terdapat beberapa faedah lainnya, yang disebutkan oleh an-Nawawi dalm Syarah Muslim, dan al-Hafizh dalam al-Fath. Silakan merujuknya.

6.  Shalat  Malam 

     39)   Dengan salah satu haditsnya adalah, “Sesungguhnya Nabi saw {terkadang membaca bacaan di dalamnya dengan suara keras dan membaca dengan suara pelan.” (61)

(61) Lihat takhrij-nya dalam bahasan sebelumnya pada (halaman 419) atau pada butir 17) footnote no.(29) dan butir 20) footnote no.(34) tersebut dalam site II di atas, dan demikian pula ada dalil lain atas masalah tersebut dalam hadits Hudzaifah yang akan disebutkan nanti.

      40)  Terkadang Rasulullah saw memendekkan bacaan di dalamnya, dan terkadang memanjangkannya, dan terkadang Rasulullah saw terlalu memanjangkannya, sehingga Ibnu Mas’ud berkata, “Aku shalat menjadi makmum bersama imam Nabi saw suatu malam, dan beliau tetap terus berdiri, hingga aku ingin melakukan sesuatu yang buruk.” Kami bertanya, “Apa yang engkau inginkan?” Dia menjawab, “Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi saw.” (62)  

            (62)  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya (halaman 3/14-15), Muslim (halaman 2/186), dan Ahmad (halaman 1/385) lewat beberapa jalur dari al-A’masy, dari Abu Wa’il, dari Abdullah bin Mas’ud. Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi (halaman 3/8).

      41)   Hudzaifah ibnul Yaman berkata, “Aku shalat menjadi makmum bersama imam Nabi saw suatu malam, kemudian beliau mulai membaca surah al-Baqarah. Lalu, aku berkata dalam diriku, mungkin Rasulullah saw berhenti pada ayat keseratus. Tetapi, Rasulullah saw tetap meneruskan. Lalu aku berkata dalam diriku, mungkin Rasulullah saw membacanya dalam satu rakaat. (63) Tetapi, Rasullullah saw tetap meneruskan. Lalu aku berkata dalam diriku, mungkin Rasulullah saw membacanya dalam satu rakaat kemudian ruku.’ Namun, Rasulullah saw malah memulai surah an-Nisaa’, kemudian beliau terus membacanya hingga mulai membaca surah Ali ‘Imran, (64) dan terus membacanya secara tartil (tarassul: membaca dengan baik dan pas huruf-huruf Al-Qur’an). Bila Rasulullah saw melalui bacaan ayat tentang tasbih, maka beliau saw bertasbih. Bila Rasulullah saw melalui bacaan ayat tentang permohonan (doa), maka beliau saw memohon. Bila melalui bacaan ayat tentang perlindungan, maka beliau saw berlindung, (65) kemudian baru beliau ruku’ (66) ….. (al-hadits).(67)

(63)  Maksunya dalam satu shalat dua rakaat masing-masing setengah surah, sebagaimana dijelaskan oleh an-Nawawi dalam Syarah Muslim. Jadi, harus dirujuk kembali ke dalam lafazh hadits tentang maknanya. Kemudian silakan rujuk riwayat Ibnu Nashr, karena di dalamnya disebutkan dengan lafazh, ‘Dalam dua rakaat.’

(64) Demikianlah riwayat-riwayat menyebutkan dengan mendahulukan surah an-Nisaa’ atas surah Ali ‘Imran, yang bertentangan dengan urutan yang ada dalam Mushaf Utsmani. Hal itu disebutkan di dalam semua riwayat hadits yang di-takhrij oleh para ahli hadits, kecuali riwayat dari Ahmad yang menyebutkan surah Ali ‘Imran baru kemudian surah an-Nisaa’.Ia adalah riwayat dari Mu’awiyah dari al-A’masy. Sementara, riwayat pertama adalah riwayat dari Abdullah bin Numair dan Jarir, keduanya meriwayatkannya dari al-A’masy. Dan Imam Muslim telah meriwayatkan kedua riwayat itu bersama-sama. Demikian pula al-Baihaqi, dan dia tidak menyebutkan tentang perbedaan antara Mu’awiyah dengan Abdullah bin Numair dan Jarir tentang kalimat tersebut. Wallahu a’lam.

Apa pun adanya, riwayat pertama adalah lebih shahih karena telah terjadi kesepakatan antara dua perawi-perawi yang tsiqah atasnya dari al-A’masy, dan karena telah datang lewat jalur lain dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Ahmad – sebagaimana telah disebutkan.

Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 3/15) telah melakukan wahm (salah duga) dan telah diikuti oleh Syaikh al-Qari dan lain-lain dalam kitab Syarah asy-Syamaa’il (halaman 2/95) di mana keduanya telah menisbatkan lafazh dalam riwayat kedua kepada shahih Muslim, padahal lafazh tersebut tidak terdapat padanya. Bahkan, ia juga tidak terdapat dalam riwayat seorang pun dari yang men-takhrij-nya, selain dalam  riwayat Ahmad – yang telah kami sebutkan. Riwayat ini telah di-tarjih (menimbang mana yang lebih kuat) oleh Syaikh al-Qari seraya berkata, “Sesungguhnya riwayat inilah (riwayat kedua) yang benar, berdasarkan yang diketahui dan ditetapkan dari perilaku Rasulullah saw dan ketetapan yang dipegang oleh para sahabat, tentang ijma yang berkenaan dengan urutan surah-surah, walaupun terjadi perselisihan atas masalah tauqifi-nya (harus berlandaskan dalil). Urutan surah memang berbeda dengan urutan ayat, karena ia adalah qath’i (pasti, tidak diperselisihkan).

Syaikh al-Albani mengomentari, “Tidak samar atas orang yang berakal, bahwa apa yang disebutkan oleh Syaikh al-Qari tidak bisa dijadikan sebagai hujjah untuk menguatkan riwayat ini, karena bisa jadi Rasulullah saw membaca berbeda dengan urutan yang dikenal luas, untuk suatu sebab tertentu, seperti untuk menjelaskan kebolehannya. Jadi, bila hal ini bisa jadi sebagai sebabnya, maka pada kondisi demikian, cara men-tarjih-nya harus sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu hadits dalam menyatakan bahwa riwayat ini lebih kuat daripada riwayat lain.”

Kami telah menyebutkannya bahwa riwayat yang pertama adalah lebih kuat daripada riwayat yang kedua. Jadi, riwayat itulah yang menjadi sandaran dan bukan riwayat yang lain. Oleh karena itu, al-Qadhi Iyadh berkata, “Di dalamnya terdapat dalil atas orang yang berkata bahwa urutan surah-surah dalam Al-Qur’an adalah ijtihad dari kaum Muslimin, ketika mereka menulis mushaf dan bahwasanya urutan itu bukanlah dari Nabi saw, tetapi beliau saw telah mendelegasikannya kepada umatnya setelahnya.”  Dia berkata, “Menurut pendapat kami, bahwa urutan surah-surah bukanlah suatu kewajiban dalam menulisnya, tidak pula dalam membacanya di dalam shalat, dan tidak pula dalam mengajarkannya. Demikian pula tidak diharuskan urutan itu dalam men-talqin (mengajarkan langsung dengan tuntunan guru dan menirukan ucapannya) dan mengajarkannya. Sesungguhnya Nabi saw tidak menyebutkan nash atau batasan yang tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, telah terjadi perbedaan urutan Mushaf sebelum Mushaf Utsman.”

Dia berkata, Nabi saw membolehkan – demikian pula para umatnya di seluruh negeri setelahnya – untuk mengabaikan urutan surah-surah dalam bacaan shalat, pengajaran, dan talqin (mengajarkan langsung dengan tuntunan guru dan menirukan ucapannya).”  Dia berkata, “Sedangkan berdasarkan pendapat beberapa ahli ilmu yang mengatakan – bahwa perkara tersebut adalah petunjuk dari Nabi saw yang telah ditetapkan oleh beliau saw sendiri sebagaimana telah ditetapkan dalam Mushaf Utsman, dan bahwa pertentangan yang terjadi sebelumnya pada mushaf-mushaf lain, disebabkan belum sampai kepada mereka petunjuk dan keterangan terakhir dari Rasulullah saw – maka beliau saw memulai lebih dahulu bacaan surah an-Nisaa’ kemudian baru membaca surah Ali ‘Imran di dalam riwayat tersebut. Hal itu bisa ditakwilkan dengan kemungkinan bahwa hal itu terjadi sebelum ditetapkan urutan masing-masing surah, dan kedua surah itu urutannya demikian dalam Mushaf Ubay.”

Dia berkata, “Tiada perbedaan pendapat bahwa orang yang shalat boleh membaca dalam rakaat kedua, surah yang urutannya berada sebelum surah yang telah dibaca pada rakaat pertama. Tetapi membaca demikian dimakruhkan, kalau membaca kedua surah itu dalam satu rakaat, dan dimakruhkan pula bagi orang yang membacanya di luar shalat.”  Dia berkata, “Sebagian ulama telah membolehkan, dan larangan para ulama salaf  dari membaca terbalik adalah ditakwilkan dengan membaca satu surah dari akhirnya kepada awalnya.”

Apa yang disebutkan oleh al-Qadhi Iyadh tentang sebagian ulama yang membolehkan bacaan surah-surah dengan cara melanggar urutan yang ditetapkan dalam Mushaf Utsmani dalam satu rakaat, itulah yang tampak dalam hadits-hadits seperti hadits Ibnu Mas’ud yang lalu (halaman 402-403), “Sesungguhnya Rasulullah saw menggabungkan antara beberapa surah semisal dari al–Mufashshal, dan di dalamnnya disebutkan ……..Jadi, terkadang Rasulullah saw membaca surah al-Muthaffifiin (36 ayat)  dengan surah ‘Abasa (42 ayat) dalam satu rakaat. Surah al-Muddatstsir (56 ayat)dengan surah al-Muzammil (20 ayat) dalam satu rakaat …..dst.”

Tampak dari riwayat tersebut bahwa Rasulullah saw membaca surah al-Muthaffifiin (36 ayat) dan surah al-Muddatstsir (56 ayat) lebih dahulu secara lengkap baru membaca, surah ‘Abasa (42 ayat) dan surah la-Muzammil (20 ayat).

(65) An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, “Di dalamnya terdapat dalil tentang disunnahkan beberapa perkara tersebut bagi setiap orang yang membaca Al-Qur’an, baik di dalam shalat ataupun diluar shalat. Dan menurut madzhab kami, hal itu disunnahkan untuk Imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian.” An-Nawawi dalam al-Majmu’ (halaman 4/66) menambahkan, “Karena ia adalah doa sehingga hukumnya sama dengan hukum mengucapkan aamiin.” Dia berkata, “Baik shalat  itu adalah shalat fardhu ataupun shalat sunnah.” Dia berkata, “Abu Hanifah – semoga Allah merahmatinya – berkata, “Dimakruhkan membaca doa dalam ayat rahmat dan ber-ta’awwudz di dalam shalat.”  Yang berpendapat sama dengan madzhab kami adalah jumhur ulama dari salaf dan para ulama setelah mereka.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Kami mengingat bahwa Imam Muhammad – semoga Allah merahmatinya – telah dengan terang-terangan membolehkan hal itu dan mensunnahkannya dalam kitabnya, al-Atsar, namun dia mengkhususkannya dalam shalat sunnah saja tanpa shalat fardhu. Dalil tersebut mendukungnya, dan kami ingin menukilkan pendapatnya dalam hal tiu. Namun, kami kehilangan kitab tersebut. Sehingga, kami tidak menemukannya saat ini.(*) (*) Nashnya dalam (halaman 1/141) darinya adalah, hal ini dalam shalat di siang hari. Dan kami tidak memandang bermasalah bila seseorang menemukan dalam Al-Qur’an seperti ini, kemudian dia berhenti untuk berdoa untuk dirinya dalam shalat sunnah. Tetapi, dalam shalat fardhu tidak dibolehkan.”

Abul Hasanat dalam kitab ‘Umdatur Ri’aayah (halaman 1/142) setelah memaparkan hadits tersebut berkata, “Para pengikut madzhab kami mendudukkan hadits ini pada shalat sunnah dan dibolehkan untuk orang yang shalat sendirian, dan dibolehkan pula bagi imam dalam shalat sunnah, bila hal itu terjamin dari tidak memberatkan orang-orang yang mengikutinya sebagai makmum, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-‘Inaayah, al-Binaayah, Fathul Qadiir, dan lain-lain.”

(66)  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/186), an-Nasa’i (halaman 1/169-170 dan 245-246), at-Tirmidzi dalam kitabnya asy-Syamaa’il (halaman 2/96-97), Ibnu Nashr dalam Qiyamul Lail (halaman 51), al-Baihaqi (halaman 2/85 dan 309), dan Ahmad (halaman 5/384 dan 397) lewat jalur al-A’masy dari Sa’ad bin Abidah, dari al-Mustaurid ibnul Ahnaf, dari Shilah bin Zufar, darinya.

(67)  Dan lengkapnya sebagai berikut, “Kemudian Rasulullah membaca, ‘Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung.” Panjang ruku’nya seperti panjangnya beliau saw berdiri. Kemudian Rasulullah saw bangun dari ruku’ dan mengangkat kepalanya seraya mengatakan, ‘(Allah SWT Maha Mendengar hamba yang memuji-Nya)’ dan tambahan dari Jarir. “Rabbanaa lakal hamdu (Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian).

Kemudian Rasulullah saw berdiri lama, mirip dengan panjang ruku’nya, kemudian beliau melakukan sujud, seraya berkata, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinngi.”  Dan lamanya beliau saw melakukannya hampir seperti panjangnya beliau saw berdiri.

Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 3/15) berkata, “Hal ini hanya dapat dilakukan sekitar dua jam, jadi kemungkinan Rasulullah saw menghidupkan malam itu seluruhnya. Sedangkan kondisi Rasulullah saw pada malam-malam selain mala mini, maka sesungguhnya dalam hadits-hadits dari Aisyah ditentukan bahwa Rasulullah saw bangun sekitar sepertiga malam.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Telah terbukti shahih riwayat dari Aisyah bahwa Rasulullah saw bangun malam hingga pagi hari, dan hal itu didudukkan pada kondisi dominan yang terjadi pada Rasulullah saw, sebagaimana akan dijelaskan.”

Kemudian perkiraan al-Hafizh bahwa hal itu lamanya sekitar dua jam adalah sangat jauh dalam praktiknya. Oleh karena, kami pernah shalat beberapa hari lalu yaitu shalat gerhana yang terjadi pada malam Senin (16/1/1366 H), kemudian kami membaca pada rakaat pertama dengan bacaan surah Ibrahim dan pada rakaat kedua dengan bacaan surah al-Israa’, dan kami memanjangkan dua ruku’ dalam setiap dua rakaat tersebut. Demikian pula dua sujud dan duduk antara dua sujud – sesuai dengan petunjuk As-Sunnah, yang mana panjangnya tidak benar bila dikatakan bahwa setiap gerakan tersebut seperti lamanya berdiri atau mendekatinya. Namun walaupun demikian, shalat seperti itu saja telah memakan waktu selama satu jam penuh.

Kemudian bandingkanlah hal itu dengan shalat Rasulullah saw yang empat rakaat, atas riwayat yang rajih dari beberapa riwayat. Rasulullah saw membaca dalam rakaat pertama tiga surah panjang dengan tartil dan pelan dalam bacaannya, beliau saw berhenti memohon dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, kemudian beliau saw berlindung kepada Allah SWT. Lalu, beliau saw menjadikan ruku’ dan sujudnya dan duduk antara dua sujud, masing-masing daripadanya, lamanya seperti lamanya beliau saw berdiri. Hal itu tidak mungkin selesai kurang dari tiga jam lamanya. Bila ditambah dengan tiga rakaat berikutnya, maka Rasulullah saw telah menghidupkan malam seluruhnya.

Bisa jadi langsung dapat dipahami oleh akal – berdasarkan atas apa yang telah kami sebutkan – bahwa malam tidak mungkin cukup untuk shalat seperti ini, karena dengan demikian ia membutuhkan sekitar dua belas jam. Maka jawabannya adalah, kemungkinan tiga rakaat berikutnya lebih pendek daripada rakaat pertama, karena yang diketahui dari tuntunan Rasulullah saw biasanya beliau memanjangkan rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua sebagaimana telah dijelaskan. Wallahu a’lam.

Di lanjutkan ke site – V

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 27-02-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

BACAAN-BACA AN SURAH DI DALAM SHALAT NABI SAW. (SITE – III)

(Sumber diambil dari : buku Sifat SHALAT NABI SAW yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin al- Albani pada halaman 249 s/d 305, Penerjemah : Tajuddin Pogo,M.A., Penerbit GEMA INSANI Depok : Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M.) 

Lanjutan dari site-II :

Berikut ini disampaikan hadits-hadits (matan hadits ditulis dalam bahasa Indonesia) tentang bacaan surah di dalam shalat Nabi Muhammad saw, yaitu :

3.  Shalat Ashar. (38) 

(38) Kami (Penerbit) belum menemukan dalam manuskrip asli dari Syaikh al-Albani – semoga

Allah merahmatinya – tentang takhrij hadits-hadits dalam bahasan ini. Kemungkinan Syaikh

al-Albani menginginkan penisbatannya kepada takhrij-takhrij sebelumnya yang terdapat

dalam bahasan “Shalat Zhuhur,” sebagaimana dapat dipahami dari pernyataannya pada akhir

bahasan ini. Untuk memudahkan pembaca, kami meletakkan petunjuk-petunjuk berikut.

24)   “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada dua rakaat pertama dengan bacaan Faatihatul Kitaab dan dua surah. Rasulullah saw memperpanjang bacaan pada rakaat pertama, apa yang tidak beliau saw lakukan pada rakaat kedua.”(39)

(39) Telah disebutkan takhrij-nya (halaman 457-458) – (pada kitab aslinya) atau pada footnote no. (25) tersebut di atas.

25)   “Mereka (para sahabat) menduga bahwa sesungguhnya Rasulullah saw  menginginkan – dengan bersikap demikian – agar orang-orang mendapatkan rakaat pertama (tidak masbuq, penj.).” (40)

 (40) Semuanya telah di-takhrij pada halaman 457-458 (pada kitab aslinya) atau pada footnote no. (27) tersebut di atas.

26)   Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada setiap rakaat dari keduanya sekitar lima belas ayat, yaitu sepanjang setengah daripada bacaan yang dibaca oleh Rasulullah saw pada setiap rakaat dari dua rakaat pertama dalam shalat Zhuhur. “Rasulullah saw menjadikan dua rakaat terakhir lebih pendek daripada dua rakaat pertama, sekitar setengahnya.” (41)

 (41) Telah disebutkan takhrij-nya pada halaman 460-461 atau pada footnote no. (35) tersebut di atas.

27)   “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada dua rakaat itu (dua rakaat terakhir) dengan Faatihatul Kitaab.” (42)

 (42) Semuanya telah di-takhrij pada halaman 457 – 458 (pada kitab aslinya) atau pada footnote no. (36) tersebut di atas.

28)   “Terkadang Rasulullah saw memperdengarkan ayat kepada mereka.” (43) Rasulullah saw membaca surah-surah yang kami (penulis) sebutkan dalam bahasan “Shalat Zhuhur.”

 (43) Semuanya telah di-takhrij pada halaman 457-458 (pada kitab aslinya) atau pada footnote no. (34) tersebut di atas.

4.  Shalat Maghrib.

29)   “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada shalat Maghrib dengan surah-surah pendek dari al-Mufashshal.(44) Sehingga, mereka (para sahabat), “Bila shalat Maghrib bersama Rasulullah saw hingga salam bersama mereka, seseorang dari mereka ketika pulang masih melihat sasaran anak panahnya.” (45)


(44) Di dalam masalah ini terdapat hadits Abu Hurairah r.a. dan telah di-takhrij sebelumnya pada bahasan “Bacaan dalam Shalat Shubuh.” Ketentuan ini juga telah diriwayatkan oleh ath-Thahawi (halaman 1/126) lewat jalur sebelumnya, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Abdil Barr juga – sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad (halaman 1/75).

(45) Dalam masalah ini terdapat beberapa hadits, di antaranya dari Rafi’ bin Khadij, “Kami diberitahukan hadits oleh al-Awza’i, dia berkata, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Abun Najasyi Shuhaib, pelayan Rafi’ bin Khadij, dia berkata, ‘Aku mendengar Rafi’ bin Khadij berkata, ‘Sesungguhnya kami menunaikan shalat Maghrib bersama Rasulullah saw hingga seseorang dari kami ketika pulang masih melihat sasaran anak panahnya.””’  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/33), Muslim (halaman 2/115), Ibnu Majah (halaman 1/233), dan Ahmad (halaman 4/141-142).

30)   “Rasulullah saw membaca dalam perjalanan pada shalat Maghrib, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,’ (1) surah al-Tin, 8 ayat, pada rakaat kedua.”’ (46)

(46) Hadits ini diriwayatkan ole ath-Thayalisi (halaman 99), dia berkata,”Kami diberitahukan hadits oleh Syu’bah, dari Adi bin Tsabit, bahwa dia mendengar al-Barra’ berkata, ‘Aku bersama Rasulullah saw dalam sebuah perjalanan, dan beliau membaca dalam shalat Maghrib pada rakaat kedua, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.’ (at-Tiin: 1,8 ayat).”’

Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini telah diikuti oleh Yahya bin Sa’id dari Adi, dan diriwayatkan darinya oleh Abu Khalid al-Ahmar secara ringkas, al-Barra’ bin Azib berkata, “Aku menunaikan shalat di belakang Nabi saw yaitu shalat Maghrib, kemudian Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesanya) adalah, ‘Demi (buah) Tiin dan (buah) Zaitun.’ (at-Tiin: 1,8 ayat).  Hadits diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 4/286). Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim juga, namun al-Bukhari dan Muslim men-takhrij-nya lewat dua jalur ini dari Adi dengan lafazh, “Shalat Isya,” sebagai ganti daripada, “Shalat Maghrib,” sebagaimana akan dijelaskan nanti. Tidak satu pun dari keduanya yang menyebutkan dengan lafazh, “Shalat Maghrib…..”  Sementara, menyalahkan dua perawi yang tsiqah seperti Syu’bah dan Yahya bin Sa’id atau perawi-perawi yang meriwayatkan dari keduanya adalah sulit. Dengan demikian, selama riwayat itu bisa dipadukan dengan menyatakan bahwa Rasulullah saw membacanya pada shalat Maghrib dan shalat Isya, (kedua-keduanya), jadi Adi bin Tsabit telah meriwayatkan matan hadits ini sekali dan matan hadits itu sekali.  Ibnu Abdil bin Barr telah menyatakan riwayat pertama adalah shahih sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad (halaman 1/75).

31)   Terkadang Rasulullah saw membaca bacaan dengan surah-surah panjang dari alMufashshal dan surah-surah pertengahannya. Dan terkadang Nabi saw membaca dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal mereka.” (Muhammad: 1, 38 ayat) (47)  Dan terkadang, “Rasulullah saw membaca surah ath-Thuur.” (49 ayat)  (48)

(47) Hadits ini adalah bagian dari hadits Ibnu Umar r.a.. “Kami diberitahukan hadits oleh al-Husain bin Huraits al-Marwazi,’Kami diberitahukan hadits oleh Abu Mu’awiyah, Muhammad bin Hizam, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Ubaidullah bin Umar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang berkata, ‘Sesungguhnya Nabi saw membaca dalam shalat Maghrib dengan bacaan,   (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal mereka.’ (Muhammad: 1, 38 ayat)  Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim.

(48) Ia adalah bagian dari hadits Jubair bin Muth’im r.a., Kami diberitahukan hadits oleh Yahya dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im r.a., dari bapaknya yang berkata , ‘Aku mendengar Rasulullah  saw membaca surah ath-Thuur (49 ayat) dalam shalat Maghrib.”’

Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam al- Muwaththa’ (halaman 1/99) dan lewat jalurnya, hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/197), Muslim (halaman 2/41), Muhammad dalam Muwaththa’-nya (halaman 142), Abu Dawud (halaman 1/129), an-Nasa’i (halaman 1/154), ath-Thahawi (halaman 1/124), al-Baihaqi (halaman 2/392), ath-Thayalisi Halaman 127), Ahmad (halaman 4/85), dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir.

Hadits ini menjadi dalil bahwa shalat Maghrib tidak khusus hanya dibacakan surah-surah pendek dari al-Mufashshal – sebagaimana yang masyhur dilakukan – bahkan terkadang disunnahkan agar dibaca surah-surah panjang dari al-Mufashshal dan dengan surah yang lebih panjang daripada itu – sebagaimana akan dijelaskan dalam kitab ini. Dengan pendapat ini, telah berpegang Imam asy-Syafi’i dll sebagai madzhabnya, sementara Malik dan kebanyakan ulama kita berpendapat sebaliknya.

At-Tirmidzi (halaman 2/113) berkata, bahwa asy-Syafi’i berkata, “Disebutkan dari Malik bahwa dia  memakruhkan bacaan surah yang panjang dalam shalat Maghrib seperti surah ath-Thuur dan al-Mursalaat.” Asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak memakruhkan hal itu, bahkan aku mensunnahkan surah-surah panjang ini untuk dibaca dalam shalat Maghrib.” Al-Hafizh dalam al-Fath berkata, “Demikian pula yang dinukilkan oleh al-Bagawi dalam Syarhus Sunnah dari asy-Syafi’i. Yang dikenal dari madzhab asy-Syafi’iyyah adalah bahwa hal itu tidak dimakruhkan dan tidak disunnahkan.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Hal ini tidak masuk akal, karena bacaan Al-Qur’an adalah ibadah. Jadi, ia bisa jadi hukumnya disunnahkan bila sesuai dengan sunnah atau dimakruhkan bila ia bertentangan dengan sunnah. Sedangkan bila ia tidak disunnahkan dan tidak pula dimakruhkan, maka hal ini tidak masuk akal dalam perkara yang menyangkut ibadah secara mutlak, maka hendaklah Anda renungkan.”

Imam Muhammad setelah memaparkan hadits tersebut berkata, “Pandangan umum menyebutkan bahwa bacaan dipendekkan dalam shalat Maghrib; di dalamnya dibaca surah-surah pendek dari al-Mufashshal dan kami memandang bahwa begitulah awalnya kemudian ditinggalkan! Terkadang Rasulullah saw membaca sebagian surah kemudian ruku.’ Dengan pendapat ini kami berpegang, dan ia juga adalah pendapat dari Abu Hanifah.”

Pengomentarnya dari ulama menyebut jawaban ketiga, bahwasanya hal ini terjadi sesuai dengan perbedaan kondisi. Rasulullah saw membaca surah-surah panjang untuk menjelaskan kebolehannya, dan peringatan bahwa waktu shalat Maghrib adalah panjang, dan bahwasanya membaca surah-surah pendek di dalamnya bukanlah perkara yang pasti.

Kemudian pengomentar Abul Hasanat berkata, “Aku berkata bahwa dua jawaban pertama terbantahkan.

Pertama, karena jawaban tersebut berdasarkan kemungkinan adanya nasakh (penganuliran hokum), sementara nasakh itu tidak dapat ditetapkan dengan kemungkinan. Karena, bila perkara membaca bacaan panjang itu ditinggalkan, maka ia baru terbukti benar kalau bacaan surah-surah pendek terjadi pada waktu belakangan daripada bacaan surah-surah panjang dari sisi tinjauan sejarah. Hal itu ternyata tidak terbukti, karena sesungguhnya hadits Ummul Fadhl – yang akan dijelaskan – dengan tegas menyatakan bahwa surah yang paling akhir dia dengar dari Rasulullah saw adalah surah al-Mursalaat dalam shalat Maghrib.  Dengan demikian, berarti bahwa Rasulullah saw telah membaca surah al-Mursalaat sehari sebelum beliau meninggal dunia. Setelah itu, Rasulullah saw tidak pernah lagi shalat Maghrib. Hal itu telah disebutkan secara terang-terangan dalam Sunan an-Nasa’i. Jadi, bila orang ingin tetap berpegang pada jalur hukum nasakh (penganuliran hukum), maka benar adalah, nasakh atas hukum membaca surah-surah pendek, dan bukan sebaliknya.

Sedangkan jawaban kedua, oleh karena untuk membuktikan bahwa terjadi pemecahan surah pada seluruh hadits-hadits yang menyebutkan tentang bacaan surah-surah panjang adalah perkara yang sulit. Dan karena telah disebutkan secara terang-terangan dari riwayat al-Bukhari dan lain-lain, yang menunjukkan bahwa Jubair bin Muth’im telah mendengar bacaan surah ath-Thuur secara lengkap, yang dibaca oleh Rasulullah saw pada shalat Maghrib, sehingga tidak ada faedahnya lagi berandai-andai (bahwa Rasulullah saw membacanya sebagian saja, penj.).

Dan karena, telah disebutkan dalam hadits Aisyah pada Sunan an-Nasa’i, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw membaca dalam shalat Maghrib dengan bacaan surah al-A’raaf, beliau membaginya menjadi dua bagian dalam dua rakaat.’

Telah diketahui bahwa setengah dari surah al-A’raaf tidak sama panjang dengan surah-surah pendek, sehingga pemecahan surah itu tidak bisa dijadikan bukti untuk menetapkan bacaan surah-surah pendak dalam shalat Maghrib. Dan jawaban yang benar adalah jawaban ketiga.”

32)   Terkadang Rasulullah saw membaca bacaan surah al-Mursalaat (50 ayat). Beliau saw membacanya pada akhir shalat Maghrib yang beliau saw lakukan. (49) Dan terkadang, “Rasulullah saw membaca surah yang lebih panjang dari dua surah yang panjang, (50) (surah al-A’raaf, 206 ayat) (51) [pada dua rakaat]. (52)

(49) Ia adalah bagian dari hadits Ummul Fadhl bintil Harits r.a. dan hadits tersebut memiliki dua jalur darinya. Pertama, dari anaknya, Abdulllah bin Abbas r.a., “Dari Abdullah bin Abbas r.a. dari Ummul Fadhl bintil Harits bahwa dia mendengar Abdullah bin Abbas r.a. membaca surah al-Mursalaat (50 ayat), kemudian dia berkata, ‘Wahai anakku, kau telah mengingatkanku dengan bacaanmu terhadap surah ini, bahwa ia adalah surah yang paling akhir aku dengar dari Rasulullah saw yang dibaca pada shalat Maghrib.”’

Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ (halaman 1/99-100) dan lewat jalurnya, hadits ini diriwayatkan al-Bukhari (halaman 2/195) dan Muslim (halaman 2/40-41), Muhammad dalam Muwaththa’-nya (halaman 142), Abu Dawud (halaman 1/129), ath-Thahawi (halaman 1/124), al-Baihaqi (halaman 2/392), dan Ahmad (halaman 6//340). Mereka semua meriwayatkannya dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud, dari Abdullah bin Abbas r.a. dari Ummul Fadhl bintil Harits.

Jalur yang kedua, dari Anas, dari Ummul Fadhl bintil Harits, ia berkata, “Rasulullah saw memimpin shalat kami di rumahnya – dengan berselimut kain – dalam shalat Maghrib, dan Rasulullah saw membaca surah al-Mursalaat (50 ayat). Setelah itu beliau saw tidak pernah lagi shalat Maghrib hingga beliau saw menemui ajalnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i, ath-Thahawi (halaman 1/125), dan Ahmad (halaman 6/338).  Sanad hadits ini adalah hadits yang shahih berdasarkan persyaratan Muslim. Dan telah disebutkan dalam al-Bukhari (halaman 2/137) dan lain-lain dari hadits Aisyah, bahwa shalat yang dilakukan oleh Rasulullah saw bersama para sahabat pada saat beliau sakit adalah shalat Zhuhur.

Al-Hafizh dalam al-Fath telah memadukan antara riwayat ini dengan riwayat Ummul Fadhl bintil Harits, bahwa shalat yang diceritakan oleh Aisyah dilakukan di masjid sedangkan shalat yang diceritakan oleh Ummul Fadhl bintil Harits dilakukan di rumah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat jalur kedua.

Kemudian dia menakwilkan hadits Ibnu Ishak yang disebutkan tadi, bahwa maknanya adalah Rasulullah saw keluar dari tempat beliau berbaring ke tempat shalat di rumahnya, kemudian beliau saw memimpin shalat mereka.

Syaikh al-Albani mengomentari, “Ini adalah jamak (pemaduan) yang sangat baik, namun Ibnu Ishak terkadang melakukan kesalahan. Ibnu Ishak meriwayatkan sendirian dengan menyebutkan bahwa Rasulullah saw keluar, sementara perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya) lainnya yang meriwayatkan dari az-Zuhri tidak menyebutkan hal itu. Oleh karena itu, ia tidak terlalu kuat untuk menentang riwayat Anas bin Malik yang shahih. Dengan demikian, tidak ada kebutuhan untuk memadukan antara keduanya, sebagaimana hal itu tidak samar adanya.

Hadits ini adalah dalil – sebagaimana hadits-hadits lainnya – atas disunnahkan bacaan surah-surah panjang dari al-Mufashshal pada shalat Maghrib yang dilakukan sekali-sekali, sebagaimana telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya. Hal itu telah dibantah oleh madzhab Hanafiyyah, bahwa hal itu harus didudukkan pada kemungkinan bahwa Rasulullah saw hanya membaca sebagian surah dan bukan seluruhnya, atau ia adalah mansukh (dianulir hukumnya) sebagaimana telah dijelaskan dari Imam Muhammad.

Pernyataan pertama bertentangan dengan kenyataan, dan tidak boleh keluar darinya kecuali dengan dalil. Dalil puncak yang dijadikan  pegangan oleh ulama kita dalam masalah itu adalah hadits Abu Hurairah yang disebutkan pada awal pembahasan ini, bahwa Rasulullah saw membaca surah-surah pendek dari al-Mufashshal pada shalat Maghrib. Dengan hadits tersebut, ath-Thahawi dan lain-lain menentang hadits-hadits yang menetapkan disunnahkannya membaca bacaan surah-surah panjang dari al-Mufashshal, dan mereka menakwilkannya dengan takwil-takwil yang telah disebutkan. Sebenarnya takwil tersebut tidak beralasan, karena memadukan beberapa riwayat itu lebih dekat kepada penyatuan perawi-perawi tersebut dari pada takwil tersebut. Yaitu, dengan mendudukkan hadits-hadits tersebut pada kondisi yang berbeda-beda – sebagaimana telah dijelaskan – apalagi dalam hadits-hadits tersebut terdapat makna yang tidak menerima adanya takwil seperti yang mereka sebutkan, secara mutlak – sebagaimana telah disebutkan dari al-Laknawi.* (*lihat bahasan sebelumnya (halaman 480)) atau pada butir 21), footnote no. (35), halaman 5 dari alinea paling atas hingga akhir footnote no.35, yang tersebut di site II di atas.

Sedangkan dakwaan telah terjadinya nasakh (penganuliran hukum), maka ia batal dengan kesaksian dari hadits shahih ini, karena ia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa bacaan yang paling akhir dibaca oleh Rasulullah saw adalah bacaan surah al-Mursalaat tersebut.

Dengan demikian, bila dakwaan nasakh beralasan maka seharusnya hukum yang sebaliknya yang dianulir (yaitu nasakh surah-surah pendek, penj.). Hal itu lebih bisa diterima oleh orang-orang yang berakal, namun hal itu tidak perlu dilakukan selama masih memungkinkan untuk dijamak (dipadukan). Dan Allah SWT yang memberikan taufik.

(50) Surah yang terpanjang dari dua surah panjang. Kata thulaa adalah ta’nits (kata untuk benda berjenis perempuan) dari kata athwal ‘yang terpanjang,’ sedangkan kata ath-thulayain adalah kata tatsniyah (berarti dua) dari kata thulaa. Dua surah tersebut adalah surah al-A’raaf menurut kesepakatan ulama, dan surah al-An’aam menurut pendapat yang lebih kuat, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh dalam al-Fath.

(51) Ia adalah bagian dari hadits Zaid bin Tsabit r.a..  Hadits ini diriwayatkan darinya oleh Marwan ibnul Hakam, kemudian Urwah ibnuz Zubair.  Hadits yang pertama dari Marwan ibnul Hakam. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/196), Abu Dawud (halaman 1/129), an-Nasa’i (halaman 1/154), {Ibnu Khuzaimah (halaman 1/68/2) = [1/4259/516]}, al-Baihaqi (halaman 2/392, dan Ahmad (halaman 5/188 dan 189) lewat beberapa jalur, di antaranya, “Kami diberitakan hadits oleh Ibnu Juraij, dia berkata, ‘Aku mendengar Abdullah bin Abi Mulaikah (yuhadditsu = memberitahukan hadits) dia berkata, ‘Aku diberitakan hadits oleh Urwah ibnuz Zubair bahwa Marwan ibnul Hakam akhbarahu (dia memberitakan hadits kepadanya), dia berkata, ‘Zaid bin Tsabit berkata kepadaku, ‘Mengapa kamu membaca dalam shalat Maghrib surah-surah pendek dari al-Mufashshal? Sesungguhnya Rasulullah saw membaca dalam shalat Maghrib surah yang lebih panjang dari dua surah yang panjang.’ Aku bertanya kepada Urwah, ‘Surah apa yang lebih panjang dari dua surah yang panjang?’ Dia menjawab, ‘Surah al-A’raaf (206 ayat).””

`Redaksi ini adalah riwayat Ahmad. Sementara dalam riwayat Abu Dawud, dia menambahkan, “Dia berkata, ‘Aku bertanya kepada Ibnu Mulaikah, kemudian dia menjawab dari pendapatnya sendiri, ‘Keduanya adalah surah al-Maa’idah (120 ayat) dan surah al-A’raaf (206 ayat).””

Menurut Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad, “Bahwasanya memelihara bacaan ayat-ayat pendek dan surah-surah pendek dari surah-surah al-Mufashshal, adalah bertentangan dengan sunnah Nabi saw dan itu adalah perbuatan Marwan ibnul Hakam. Oleh karena itu, Zaid bin Tsabit telah mengingkarinya.”

(52) Ia adalah bagian dari hadits Zaid bin Tsabit pada hadits sebelumnya.

33)   Terkadang, “Rasulullah saw membaca dalam shalat Maghrib surah al-Anfaal (75 ayat) [pada dua rakaat].(53)

(53) Ia adalah hadits Abu Ayyub r.a., “Bahwa Rasulullah saw membaca dalam shalat Maghrib surah al-Anfaal (75 ayat).”   Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Kabiir. Sanad ini adalah sanad yang shahih, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (tepercaya) dari perawi-perawi shahih.

Bacaan pada Shalat Sunnah Maghrib.

34)   Sedangkan dalam shalat sunnah Maghrib Ba’diyyah, Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir,” (al-Kaafirun: 6 ayat), dan “Katakanlah (Muhammad),’Dialah, Yang Maha Esa.”’ (al-Ikhlaash: 4 ayat).(54)

        (54) Ia adalah bagian dari hadits Ibnu Umar yang disebutkan sebelumnya dalam bahasan Sunnah Fajar seperti pada butir 13) footnote  no.(22) dan (23) tersebut pada site I di atas.  

5.  Shalat Isya.

35)   Rasulullah saw membaca dalam dua rakaat pertama di dalamnya dengan surah-surah yang pertengahan dari al-Mufashshal. (55) Maka, terkadang Rasulullah saw membaca surat, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari.” (asy-Syams, 15 ayat) dan surah-surah yang semisal dengannya.” (56)

(55) Ia adalah bagian dari hadits Abu Hurairah yang lalu dalam bahsan (Shalat Fajar).  As-Suyuthi dalam kitab al-Itqaan (halaman 1/63) berkata, “Al-Mufashshal terdiri dari surah-surah yang panjang, pertengahan, dan pendek.” Ibnu Ma’in berkata, “Surah-surah yang panjangnya adalah sampai surah an-Naba’ (40 ayat) dan surah-surah yang pertengahan darinya adalah  dari surah an-Naba’ hingga surah adh-Dhuhaa (11 ayat), dan dari surah adh-Dhuhaa hingga akhir Al-Qur’an adalah surah-surah pendek. Inilah pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, dari beberapa pendapat yang ada dalam masalah ini.”

(56) Ia adalah bagian dari hadits Buraidah ibnul Hushaib. Hidits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 5/354).

36)   Terkadang, Rasulullah saw membaca dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Apabila langit terbelah (al-Insyiqaaq: 25 ayat), dan Rasulullah saw melakukan sujud karenanya.”(57)

(57) Ia adalah bagian dari hadits Abu Hurairah r.a.. Abu Rafi’ telah meriwayatkan darinya, ia berkata, “Aku menunaikan shalat bersama Abu Hurairah dalam shalat Isya, kemudian dia membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Apabila langit terbelah,’ (al-Insyiqaaq/84: 25 ayat), kemudian dia melakukan sujud karenanya. Kemudian aku bertanya, ’Mengapa engkau melakukan ini?’ Dia menjawab, ‘Aku telah melakukan sujud karenanya di belakang Abu Qasim (Rasulullah saw), maka aku akan terus melakukan sujud karenanya hingga aku menemui beliau.”’ (Sujud Tilawah).

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukahri (halaman 2/199 dan 448), Muslim (halaman 2/89), Abu Dawud (halaman 1/222), an-Nasa’i (halaman 1/152), ath-Thahawi (halaman 1/210), al-Baihaqi (halaman 2/322), ath-Thayalisi (halaman 321), dan Ahmad (halaman 2/229 dan 459 dan 466) lewat beberapa jalur darinya. Ini adalah lafazh dari Sulaiman at-Taimi, dari Abu Hurairah. Tampaknya Abu Hurairah bersujud di dalam shalat karena membacanya.

Di lanjutkan ke site – IV

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 24-02-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

BACAAN-BACA AN SURAH DI DALAM SHALAT NABI SAW. (SITE – II)

(Sumber diambil dari : buku Sifat SHALAT NABI SAW yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin al- Albani pada halaman 249 s/d 305, Penerjemah : Tajuddin Pogo,M.A., Penerbit GEMA INSANI Depok : Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M.)

Lanjutan dari site-I :

Berikut ini disampaikan hadits-hadits (matan hadits ditulis dalam bahasa Indonesia) tentang bacaan surah di dalam shalat Nabi Muhammad saw, yaitu :

2.      Shalat Zhuhur. 

15)   Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada dua rakaat pertama dengan bacaan Faatihatul Kitaab dan dua surah. Rasulullah saw memanjangkan bacaan pada rakaat pertama, apa yang tidak beliau saw lakukan pada rakaat kedua.”(25) 

(25) Ia adalah bagian dari hadits Abu Qatadah r.a.. Dari Yahya bin Abi Katsir dari Abdullah bin Abi Qatadah dari Abi Salamah dari Abi Qatadah, berkata, “Sesungguhnya Nabi saw membaca dalam shalat Zhuhur pada dua rakaat pertama dengan bacaan Ummul Kitab dan dua surah. Dalam dua rakaat terakhir, beliau saw membaca Ummul Kitab (saja), dan terkadang beliau saw memperdengarkan bacaan ayat. Beliau saw memperpanjang rakaat pertama, apa yang tidak beliau lakukan pada rakaat kedua. Demikianlah pada shalat Ashar dan demikian pula pada shalat Shubuh.”  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya (halaman 2/193-194 dan 207), dan dalam Juz’ul Qiraa’ah (halaman 24), Muslim (halaman 2/37), Abu Dawud (halaman 1/127-128), an-Nasa’i (halaman 1/153), ad-Darimi (halaman 1/296), Ibnu Majah (halaman 1/274-275), ath-Thahawi (halaman 1/131) secara ringkas, al-Baihaqi (halaman 2/59 dan 65-66 dan 193 dan 347-348), dan Ahmad (halaman 5/295,297,300, 301, 305, 307, 311, dan 4/383) dari beberapa jalur dari Yahya bin Abi Katsir, dari Abdullah bin Abi Qatadah, dari Abu Salamah, dari Abu Qatadah, tentang hal itu. An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, “Masalah ini termasuk masalah yang diperselisihkan oleh ulama dalam beramal dengan tekstualnya, dan dalam madzhab kami ada dua pendapat, yang paling masyhur dari mereka adalah bahwa imam tidak memanjangkan, dan hadits ini ditakwilkan bahwa Rasulullah saw memanjangkan doa iftitah dan ta’awwudz, jadi bukan bacaan Al-Qur’an. Pendapat kedua, bahwa disunnahkan memanjangkan bacaan pada rakaat pertama dengan sengaja. Inilah pendapat yang benar dan menjadi pilihan sesuai dengan tekstual hadits ini.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Namun, ada riwayat lain yang muncul atas masalah ini, yaitu riwayat yang datang dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, bahwa perkiraan, bacaan Rasulullah saw di dalamnya adalah tiga puluh ayat, sehingga Rasulullah saw tidak membedakan antara keduanya.”

Jadi, secara tekstual dapat dipahami bahwa Rasulullah saw terkadang menyamakan antara kedua rakaat itu, dan terkadang memanjangkan rakaat pertama lebih lama daripada rakaat kedua. Wallahu a’lam.

16)  Terkadang beliau saw memanjangkan bacaannya di dalam menunaikan shalat Zhuhur. Sampai-sampai, Abu Sa’id al-Khudri mengatakan, “Suatu saat shalat Zhuhur didirikan, seseorang pergi ke Baqi’ (Kuburan dan tempat buang hajat) untuk membuang hajatnya, kemudian dia pergi ke rumahnya (keluarganya) untuk berwudhu. Ketika kembali ke masjid, dia mendapatkan Nabi saw masih pada rakaat pertama, karena Rasulullah saw memanjangkan bacaannya.” (26) “Dan mereka menduga bahwa sesungguhnya Rasulullah saw menginginkan – dengan bersikap demikian – agar orang-orang mendapatkan rakaat pertama (tidak masbuq/datang terlambat, penj.).” (27)

(26) Ini adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/38), an-Nasa’i (halaman 1/153), dan al-Baihaqi (halaman 2/66) dari al-Walid bin Muslim, dari Sa’id bin Abdul Aziz, dari Athiyyah bin Qais, dari Qaza’ah, dari Abu Sa’id al-Khudri.

(27) Ini adalah hadits Abu Sa’id. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dll., (1) {(1) dan {Ibnu Khuzaimah (halaman 1/65/1)=[3/37/1580] – sebagaimana telah dijelaskan tadi. Sanad ini adalah sanad yang shahih.  Sebagian dari pengikut madzhab Syafi’iyyah menjadikan hadits ini sebagai dalil atas kebolehan imam memanjangkan bacaan untuk orang yang ingin masuk ke dalam shalat jemaah. Namun, al-Qurthubi berkata, “Tetapi sebenarnya mereka tidak memiliki hujjah dalam hadits itu, karena hikmah itu tidak bisa dijadikan sebagai ‘illat (sebab hukum), karena ia tersembunyi atau tidak konsisten.”  Demikianlah yang disebutkan oleh al-Hafizh dalam al-Fath dan bahasan ini telah dijelaskan sebelumnya dan dalil kebolehannya setelah bahasan (mengucapkan aamiin), maka hendaknya Anda merujuknya.

17)   Sesungguhnya Rasulullah saw membaca bacaan pada setiap rakaat dari dua rakaat pertama, bacaan sekitar tiga puluh ayat, yaitu surah sepanjang surah as-Sajdah (30 ayat) dan di dalamnya termasuk bacaan (al-Faatihah).(28)  “Sesungguhnya mereka mendengar dari Rasulullah saw senandung (suara pelan) dengan membaca,(yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,’ (al-A’laa:1, 19 ayat) dan, ‘Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?’ (al-Ghaasyiyah: 1, 26 ayat) (29) 

(28) Hadits ini juga bagian dari hadits Abu Sa’id al- Khudri, “Sesungguhnya kami memperkirakan lama berdirinya Rasulullah saw dalam shalat Zhuhur dan Ashar. Maka, kami memperkirakan lama berdirinya Rasulullah saw dalam shalat Zhuhur pada dua rakaat pertama adalah kira-kira bacaan tiga puluh ayat, sepanjang surah as-Sajdah, (30 ayat). Kami memperkirakan lama berdirinya Rasulullah saw dalam dua rakaat terakhir, sepanjang setengah daripada itu. Dan kami memperkirakan lama berdirinya Rasulullah saw pada shalat Ashar dalam dua rakaat pertama, sepanjang setengah dari pada itu. Kami memperkirakan lama berdirinya Rasulullah saw dalam dua rakaat terakhir, sepanjang setengah dari pada itu.”  Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 3/2), dan lafazh ini adalah miliknya, Muslim (halaman 2/37), al-Bukhari dalam kitab Juz’ul Qiraa’ah (halaman 25), Abu Dawud (halaman 1/128), ath-Thahawi (halaman 1/122), ad-Darimi (halaman 1/295), an-Nasa’i (halaman 1/83), ad-Daruquthni (halaman 128-129), dan al-Baihaqi (halaman 2/64 dan 66 dan 390) lewat beberapa jalur, dari Husyaim, “Kami diberitahukan hadits oleh Manshur, dari al-Walid bin Muslim al-Hujaimi, dari Abul Mutawakkil atau dari Abush Shiddiq. ”Demikianlah yang dikatakan oleh Ahmad dengan cara meragukan, dari Abu Sa’id al-Khudri. Sementara, para ahli hadits yang lain meriwayatkan dari Abush Shiddiq tanpa keraguan.

(29) Ini adalah bagian dari hadits Anas bin Malik r.a..  Hadits ini diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Ahaadiitsul Mukhtarah lewat jalur dan {Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahihnya (halaman 1/67/2) = [1/257/512]} dan Ibnu Hibban lewat jalur, “Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah saw bahwa para sahabat mendengar dari Rasulullah saw senandung (suara pelan) dengan membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah,‘Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi,’ {surah al-A’laa hingga habis} ‘Sudahkah sampai kepadamu berita tentang (hari Kiamat)?’ {al-Ghaasyiah}, hingga selesai.”  Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan Muslim. Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 2/194) telah menisbatkan kepada Ibnu Khuzaimah, yakni dalam kitab Shahihnya. Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i (halaman 1/153). Demikian pula al-Maqdisi, lewat jalur lain.

18)   Dan terkadang Rasulullah saw membaca bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,’ (al-Buruuj: 1 hingga selesai, 22 ayat) dan bacaan, (yang dalam bahasa indonesianya) adalah, ‘Demi langit dan yang datang pada malam hari,’ (ath-Thaariq: 1 hingga selesai, 17 ayat) dan surah-surah lain yang semisal dengan keduanya.” (30)

(30) Hadits ini diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah r.a. dengan lafazh, “Nabi saw membaca pada shalat Zhuhur dan Ashar dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,’ (al-Buruuj: 1,hingga habis, 22 ayat) dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi langit dan yang datang pada malam hari,’ (ath-Thaaariq: 1 hingga habis, 17 ayat) dan surah-surah lain yang semisal dengan keduanya.”’

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Juz’ul Qiraa’ah (halaman 21), Abu Dawud (halaman 1/128), an-Nasa’i (halaman 1/153), at-Tirmidzi (halaman 2/110-111), ad-Darimi (halaman 1/295), ath-Thahawi (halaman 1/122), al-Baihaqi (halaman 2/391), ath-Thayalisi (halaman 105), Ahmad (halaman 5/103, 106 dan 108), dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir lewat beberapa jalur, dari Hammad bin Salamah, dari Simak, dari Jabir bin Samurah. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”  Syaikh al-Albani mengomentari, “Hadits ini shahih berdasarkan persyaratan Muslim.

19)   Terkadang Rasulullah saw membaca bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),” (al-Lail: 1, 21 ayat) dan surah-surah yang semisal dengannya.” (31)  Dan terkadang Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Apabila langit terbelah,” (al-Insyiqaaq: 1, 25 ayat) (32) Mereka mengetahui bacaan Rasulullah saw dalam shalat Zhuhur dan Ashar dengan gerakan jenggotnya.(33) 

(31) Hadits ini adalah hadits Jabir bin Samurah r.a., dia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca dalam shalat Zhuhur dan Ashar dengan bacaaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),’  (al-Lail: 1, 21 ayat) dan surah-surah lain yang semisal dengannya. Rasulullah saw membaca dalam shalat Shubuh bacaan yang lebih panjang daripada itu.”  Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thayalisi (halaman 104) dari Syu’bah, dari Simak, dia berkata, “Aku mendengar Jabir bin Samurah tentang hal itu.” Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/40) dari Abdurahman bin Mahdi tentang hal itu.

(32) Hadits ini diriwayatkan oleh {Ibnu Khuzaimah (halaman 1/67/2) = [1/257/511]}.       

(33) Hadits ini telah diriwayatkan pada (halaman 413-414).

20)   “Dan terkadang Rasulullah saw memperdengarkan ayat kepada mereka.” (34) 

(34) Ini adalah bagian hadits Abu Qatadah dan telah berlalu pada footnote no.(25) tersebut di atas. Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 2/194) berkata, “Hadits ini dijadikan dalil tentang bolehnya membaca dengan jahr (keras) dalam shalat-shalat sirriyyah (dibaca pelan) dan bahwasanya tidak ada sujud sahwi atas perbuatan itu, sebagai bantahan atas pendapat yang menyatakan hal itu dari madzhab al-Hanafiyyah dan lain-lain, baik kita mengatakan hal itu dilakukan oleh Rasulullah saw dengan sengaja untuk menjelaskan kebolehannya, ataupun tanpa sengaja untuk melibatkan selruh makmum dalam men-tadabbur-nya bersama-sama. Di dalamnya terdapat  hujjah bantahan atas para ulama yang menjadikan dugaan bahwa membaca dengan sirr  adalah syarat sahnya shalat sirriyyah. Pernyataannya, akhyaanaa ‘kadangkala,’ menunjukkan bahwa hal itu terjadi berulang-ulang dari Rasulullah saw.  Syaikh al-Albani mengomentari, “Tampak dari hadits ini bahwa Rasulullah saw melakukan hal itu dengan sengaja. Yang lebih menguatkan hal itu adalah telah terbukti shahih dari sebagian sahabat melakukan hal itu. Secara tekstual, mereka melakukan hal itu tidak lain melainkan dengan tuntunan Rasulullah saw bukan berdasarkan ijtihad mereka sendiri.”

Ada riwayat yang diriwayatkan oleh ath-Thahawi (halaman 1/122) dari Jamil bin Murah dan Hakim, bahwa mereka menemui Muwarriq al-Ijli, kemudian dia memimpin mereka dalam shalat Zhuhur. Kemudian dia membaca surah Qaaf dan surah adz-Dzaariyaat. Dia memperdengarkan mereka sebagian bacaannya. Setelah shalat, dia berkata, “Aku telah shalat di belakang Ibnu Umar, kemudian dia membaca surah Qaaf dan surah adz-Dzaariyaat. Dia memperdengarkan kepada kami sebagian bacaannya, sebagaimana kami memperdengarkan kepada kalian sebagian bacaan kami.”

Kemudian dia dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir  meriwayatkan dari Abu Maryam al-Asdi, ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Mas’ud membaca dalam shalat Zhuhur……” Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi (halaman 2/348) dengan tambahan, “Dan shalat Ashar…..”  Dia mengisyaratkan kepada yang pertama. Sanad kedua hadits ini adalah sanad yang shahih. Kemudian dia berkata, “Disebutkan dari Qatadah, bahwa Anas bin Malik membaca bacaan dengan suara jahr (suara keras) dalam shalat Zhuhur dan Ashar, tetapi dia tidak sujud sahwi.”

Diriwayatkan pula dari Alqamah, ia berkata, “Aku shalat di samping Abdullah, namun aku tidak mengetahui bacaannya sedikit pun, hingga aku mendengarnya membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’ {Thaha: 114 ayat}, maka aku pun mengetahui bahwa dia membaca surah Thaahaa.”’

Demikian pula perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya). Syaikh al-Albani mengomentari, hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muhammad dalam al-Atsar (halaman 15) yang semisal dengannya, namun dia tidak menyebutkan Alqamah.

Bacaan Rasulullah saw beberapa ayat setelah al-Faatihah dalam dua rakaat terakhir. 

21)   “Sesungguhnya Rasulullah saw menjadikan dua rakaat terakhir, lebih pendek dari pada dua rakaat  pertama sepanjang setengah darinya, sekitar lima belas ayat.” (35)

(35) Ia adalah bagian dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah r.a., lewat dua jalur, yaitu : Jalur pertama, Para penduduk Kufah melaporkan Sa’ad kepada Umar, mereka berkata, “Sesungguhnya Sa’ad tidak baik dalam menunaikan shalat.”  Sa’ad berkata, “Orang-orang Arab badui? Demi Allah—aku tidak melampaui shalat Rasulullah saw dalam mengimami mereka, dalam shalat Zhuhur dan Ashar, aku berdiri tenang dan lama (memanjangkan) dalam dua rakaat pertama dan aku memendekkan dua rakaat terakhir.” Kemudian aku mendengar Umar r.a. yang berkata, “Demikianlah yang kami duga kepadamu, wahai Abu Ishaq!”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 1/179) yang berkata, “Kami diberitahukan hadits oleh Sufyan dari Abdul Malik bin Umair, tentang hal itu. Demikian pula hadits ini diriwayatkan leh al-Bukhairi (halaman 2/187) dan Muslim (halaman 2/38), an-Nasa’i (halaman 1/156), al-Baihaqi (halaman 2/60), ath-Thayalisi (halaman 30), Ahmad (halaman 1/176 dan 180) dari beberapa jalur dari Ibnu Umair. Jalur kedua, dari Syu’bah, dari Muhammad bin Ubaidullah Abi Aun, dari Jabir tentang riwayat yang semisal dengannya.  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/199-200), Muslim, Abu Dawud (halaman 1/128), an-Nasa’i (halaman 1/155), al-Baihaqi, ath-Thayalisi, dan Ahmad (halaman 1/175) lewat beberapa darinya.

Telah bermadzhab kepada hadits ini para ulama yang berpendapat bahwa surah lain juga dibaca pada dua rakaat terakhir – dan nanti akan disebutkan tentang mereka – namun semua ulama sepakat bahwa bacaan dalam dua rakaat terakhir lebih pendek dari pada bacaan dalam dua rakaat pertama. Dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri r.a. dan telah disebutkan lafazhnya dengan lengkap dalam halaman 460-461, yaitu, “Sesungguhnya mereka memperkirakan lama berdirinya Rasulullah saw dalam dua rakaat terakhir, adalah sepanjang setengah daripada  lama berdirinya Rasulullah saw dalam dua rakaat pertama, yang lamanya kira-kira sepanjang bacaan tiga puluh ayat. Dengan demikian, lama berdirinya Rasulullah saw dalam dua rakaat terakhir, sepanjang setengah daripada itu, yaitu sekitar lima belas ayat.”

Telah terjadi perselisihan pendapat ulama dalam perkara sunnahnya membaca surah dalam dua rakaat terakhir, dari shalat yang empat rakaat dan pada rakaat ketiga dari shalat Maghrib. Ada ulama yang menyatakan sunnah dan tidak sunnah, dan keduanya pendapat ini adalah pendapat Syafi’i – semoga Allah SWT merahmatinya – sebagaimana disebutkan oleh an-Nawawi dalam Syarah Muslim.

Syaikh al-Albani mengomentari,”Para sahabat juga berbeda pendapat dalam masalah itu. Sebagian mereka tidak membaca surah – dan telah dipaparkan berita tentang mereka oleh ath-Thahawi (halaman 1/122-124) dan al-Baihaqi (halaman 2/65). Sebagian mereka membaca surah – dan diantara mereka Abu Bakar r.a..  Muhammad dalam al-Muwaththa’ (halaman 1/100) dan lewat jalurnya diriwayatkan oleh al-Baihaqi (halaman 2/64 dan 391) disebutkan, “Bahwa Abu Bakar r.a. membaca pada rakaat ketiga dari shalat Maghrib dengan bacaan Ummul Qur’an dan ayat ini, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘(Mereka berdo’a), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”” (Ali ‘Imran/3 ayat 8).    Sanad ini adalah sanad yang shahih – sebagaimana dikatakan oleh an-Nawawi dalam Syarah Muslim (halaman 3/383), dan al-Baihaqi menambahkan dalam riwayat, Sufyan bin Uyainah berkata, “Setelah Umar bin Abdul Aziz mendengar hal ini dari AbuBakar r.a., dia berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak berada di atas tuntunan ini, sehingga aku mendengar hal ini dan aku menjadikannya sebagai pegangan.”’

Ulama kita yang belakangan juga memegang pendapat ini, di antaranya Abul Hasanat al-Laknawi  dalam at-Ta’liiqul Mumjid (halaman 102) dan dia berkata, “Sebagian pengikut madzhab kami telah berpendapat aneh, di mana mereka menghukumkan wajibnya sujud sahwi atas bacaan surah di dua rakaat terakhir.” Pendapat ini telah disanggah oleh para pensyarah (pemberi penjelasan) atas al-Min-yah, yaitu, Ibrahim al-Halabi, Ibnu Amir Hajil Halabi, dan lain-lain dengan sanggahan yang baik. Kami tidak meragukan bahwa para ulama yang mengatakan demikian, pasti belum sampai kepadanya hadits ini atau telah sampai kepadanya, namun mereka belum menggunakannya sebagai dasar pendapatnya.

An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, “Para ulama madzhab kami berbeda pendapat tentang masalah memanjangkan rakaat ketiga lebih panjang daripada rakaat keempat, bila kami berpegang kepada pendapat memanjangkan rakaat pertama atas rakaat kedua.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Al-Baihaqi telah meriwayatkan sebuah hadits tentang masalah memanjangkan rakaat ketiga atas rakaat keempat, dari Abdullah bin Abi Aufa, namun di dalam sanadnya terdapat Tharafah al-Hadhrami, dan dia adalah majhul (tidak dikenal) sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Dan lewat jalurnya, hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir sebagaimana disebutkan dalam al-Majma’  (halaman 2/133).”

22)   Terkadang Rasullah saw hanya membaca bacaan al-Faatihah pada kedua rakaat terakhir. (36) 

(36) Ini adalah bagian dari hadits Abu Qatadah r.a. dan telah disebutkan takhrij-nya sebelumnya pada footnote no.(25) tersebut di atas. Di dalamnya terdapat dalil bahwa adalah sunnah Nabi saw membaca al-Faatihah dalam dua rakaat terakhir dari shalat yang empat rakaat. Kepada pendapat ini, bermadzhab jumhur ahli ilmu dari para sahabat dan orang-orang yang setelah mereka, dan ia adalah madzhab ulama kita juga. Namun, mereka mengatakan bahwa boleh memilih antara membaca, atau berdiam atau bertasbih.

Imam Muhammad dalam al-Muwaththa’ (halaman 101) berkata, “Termasuk sunnah Nabi saw membaca pada dua rakaat pertama, bacaan al-Faatihah dan surah, dan pada dua rakaat terakhir membaca al-Faatihah (saja). Bila tidak dibaca al-Faatihah pada kedua rakaat itu, maka shalat tetap sah. Dan bila hanya bertasbih saja pada dua rakaat terakhir, juga sah. Dan ini adalah pendapat Abu Hanifah – semoga Allah merahmatinya.”

Ishak bin Rahawaih – semoga Allah merahmatinya – telah mengisyaratkan bantahan terhadap mereka, dalam riwayat yang dinukilkan darinya oleh Ishaq bin Manshur al-Marwazi, dalam Masaa’il-nya, dia berkata bahwa Ishaq berkata, “Bacaan dalam dua rakaat terakhir dengan bacaan al-Faatihah adalah sunnah. Kepada madzhab ini berpegang sepuluh orang dari sahabat Rasulullah saw setelahnya. Apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyebutkan tasbih pada dua rakaat terakhir adalah kesalahan.

Syaikh al-Albani mengomentari, “Bila anda memasukkan masalah ini kepada perbuatan Rasulullah saw dan ditambah dengan perintah beliau kepada orang yang buruk shalatnya, agar dia membaca al-Faatihah pada setiap rakaat – sebagaimana akan dijelaskan kemudian – maka terbuktilah dengan meyakinkan bahwa membaca al-Faatihah adalah wajib pada setiap rakaat.

Ini adalah madzhab jumhur – sebagaimana disebutkan oleh an-Nawawi dan lain-lain. Ia juga diriwayatkan lewat al-Hasan dari Abu Hanifah, bahwa membaca al-Faatihah pada dua rakaat terakhir adalah wajib, sehingga bila dia meninggalkannya karena lupa, dia harus melakukan sujud sahwi.  Kepada madzhab ini, al-Kamal ibnul Humam condong sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 1/322-323) dan inilah yang benar, insya Allah SWT. Sebab, sesungguhnya mereka tidak memiliki jawaban atas hadits orang yang buruk shalatnya. Demikian pula mereka tidak memiliki dalil-dalil atas pendapat itu, selain atsar dari sahabat. Jelas sekali bahwa atsar tersebut tidak bisa dijadikan hujjah untuk menentang hukum yang terbukti dari sunnah yang shahih. 

23)   Rasulullah saw telah menyuruh orang yang buruk shalatnya untuk membaca al-Faatihah pada setiap rakaat, di mana beliau bersabda kepadanya setelah menyuruhnya untuk membacanya pada setiap rakaat, “Kemudian kerajakanlah itu semua dalam shalatnya seluruhnya.” (Dan dalam sebuah riwayat disebutkan : pada setiap rakaat) (37)

(37) Telah disebutkan takhrij-nya pada awal kitab (halaman 55) dalam sebuah lafazh pada riwayat Ahmad (halaman 4/340) dari hadits Rifa’ah, “Kemudian berbuatlah demikian pada setiap rakaat.”  Dengan demikian, barangsiapa bermadzhab bahwa Rasulullah saw hanya menyuruhnya membaca bacaan secara mutlak – seperti madzhab Hanafiyyah – maka seharusnya mereka mewajibkan hal itu dalam setiap rakaat. Barangsiapa bermadzhab bahwa Rasulullah saw menyuruhnya untuk membaca al-Faatihah, maka seharusnya mereka mewajibkan untuk membacanya pada setiap rakaat. Itulah pendapat yang benar, insya Allah SWT. 

Di lanjutkan ke site – III

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 20-02-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

BACAAN-BACA AN SURAH DI DALAM SHALAT NABI SAW. (SITE – I)

BACAAN-BACA AN  SURAH  DI  DALAM  SHALAT  NABI  SAW. (SITE – I)

(Sumber diambil dari : buku Sifat SHALAT NABI SAW yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin al- Albani pada halaman 249 s/d 305, Penerjemah : Tajuddin Pogo,M.A., Penerbit GEMA INSANI Depok : Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta: Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M.)

Berikut ini disampaikan hadits-hadits (matan hadits ditulis dalam bahasa Indonesia) tentang bacaan surah di dalam shalat Nabi Muhammad saw, yaitu :

 1. Shalat Shubuh / Fajar.  

1) Sesungguhnya Rasulullah saw membaca di dalamnya dengan surah yang panjang dari al-Mufashshal, (1) maka terkadang Rasulullah saw membaca surah {al-Waqi’ah (56 : 96)} (2) dan  surah-surah yang semisal dalam dua rakaat tersebut. (3)

(1) Ia adalah bagian sepertujuh akhir dari Al-Qur’an yang diawali dengan surah Qaaf.  Inilah pendapat yang paling kuat – sebagaimana yang telah dijelaskan dari al-Hafizh dalam al-Fath dll. Ini adalah hadits Abu Hurairah. Hadits ini diriwayatkan oleh Sulaiman bin Yasar, Abu Hurairah berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah saw daripada shalat Fulan – seorang imam di Madinah. Sulaiman bin Yasar berkata, ‘Maka aku pun shalat menjadi makmum di belakangnya. Imam itu memanjangkan dua rakaat pertama dari shalat Zhuhur, dan memendekkan dua rakaat terakhir, dan dia memendekkan dalam shalat Ashar. Dalam shalat Maghrib dia membaca pada dua rakaat pertama dengan surah-surah pendek dari al-Mufashshal, dan dalam shalat Isya dia membaca pada dua rakaat pertama dengan surah-surah pertengahan dari al-Mufashshal, sedangkan dalam shalat Shubuh, dia membaca dengan surah-surah panjang dari al-Mufashshal.”’ Adh-Dhahhak berkata, “Aku diberitahukan hadits oleh Anas bin Malik bahwa dia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah saw daripada shalat pemuda ini – yakni, Umar bin Abdul Aziz.”’ Adh-Dahhak berkata, “Maka, aku pun shalat menjadi makmum di belakang Umar bin Abdul Aziz, dan dia melakukan sebagaimana yang digambarkan oleh Sulaiman bin Yasar.”  Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i (halaman 1/154), al-Baihaqi (halaman 2/388), dan Ahmad (halaman 2/300, dan 329-330).

(2)     Nomor pertama untuk nomor surah dan angka kedua untuk jumlah ayat, demikian pula dalam nomor-nomor berikutnya.

(3)     Ini adalah bagian dari hadits Jabir bin Samurah r.a., “Kami diberitahukan hadits oleh Israil dari Simak bin Harb bahwa dia mendengar Jabir bin Samurah berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah saw menunaikan shalat-shalatnya seperti shalat-shalat yang kalian lakukan hari ini. Namun, sesungguhnya Rasulullah saw telah memendekkan shalatnya. Dan sesungguhnya shalat Rasulullah saw lebih ringan dan pendek dari pada shalat kalian. Rasulullah saw membaca dalam shalat Fajar; surah al-Waaqi’ah dan surah-surah yang semisal dengannya.”  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim (halaman 1/240), Ahmad (halaman 5/104),{Ibnu Khuzaimah (halaman 1/69/1)=[1/260/531]}, dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir.

2)  Rasulullah saw membaca surah ath-Thuur (52:49) dan hal itu dilakukan dalam Haji Wada’. (4)  

(4)     Ini adalah bagian dari hadits Ummu Salamah r.a.. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/201) dengan cara ta’liq (bergantung) kemudian dia menyebutkan,  “[Bab Membaca dengan Jahr (suara keras) dalam bacaan shalat Shubuh] dan Ummu Salamah berkata, ‘Aku berkeliling di belakang orang-orang dan Nabi saw sedang menunaikan shalat dan beliau membaca surah ath-Thuur.”’ Sanad hadits ini telah disambungkan jalur sanadnya oleh al-Bukhari sendiri (halaman 3/377-378 dan 385), Muslim (halaman 4/68), Abu Dawud (halaman 1/295), an-Nasa’i (halaman 2/37), Ibnu Majah (halaman 2/225), dan Ahmad (halaman 6/290 dan 319). Mereka semua meriwayatkannya dari Malik dalam al-Muwaththa’ (halaman 2/336).

3) Sesungguhnya Rasulullah saw terkadang membaca surah Qaaf (50:45) dan surah-surah yang semisal dengannya pada [rakaat pertama].(5)

(5)  Ini adalah bagian dari hadits  Jabir bin Samurah r.a. juga. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/40), al-Baihaqi (halaman 2/389), Ahmad (halaman 5/91 dan 102 dan 105), dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir dan redaksi hadits ini berasal darinya. Hadits ini di-takhrij olehnya dari, “Aku diberitahukan hadits oleh Jabir bin Samurah, bahwa Rasulullah saw membaca dalam shalat Shubuh dengan bacaan, {‘Qaaf. Demi Al-Qur’an yang mulia.’ (Qaaf:1) (tetapi maksudnya seluruh surah ini)}, dan surah-surah lain yang semisal dengannya.   {dan hadits ini telah di-takhrij dengan hadits sesudahnya dalam al-Irwaa’ (halaman 340)}. 

4)  Sesungguhnya Rasulullah saw terkadang membaca surah-surah pendek dari al-Mufashshal seperti, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Apabila matahari digulung.” (at-Takwir:1) [surah at-Takwir (81:29)]. (6)

(6)  Hadits ini diriwayatkan oleh Amru bin Huraits r.a., dari Mis’ar dan al-Mas’udi, dari al-Walid bin Sari’, dari Amru bin Huraits r.a., ia berkata, “Aku mendengar Nabi saw membaca dalam shalat Shubuh, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Apabila matahari digulung.”’  (at-Takwiir: 1) [surah at-Takwir (81:29)].”’ Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/39), an-Nasa’i (halaman 1/151), ad-Darimi (halaman 1/297), al-Baihaqi (halaman 2/388), ath-Thayalisi (halaman 142 dan 168), dan Ahmad (halaman  4/306-307).

5)       Pernah terjadi suatu kali, Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.“ (az-Zalzalah: 1) [surah az-Zalzalah (99:8)] pada kedua rakaat shalat Shubuh semuanya, sehingga perawi hadits berkata, “Aku tidak tahu, apakah Rasulullah saw lupa atau beliau membaca surah itu dengan sengaja.(7)” (8) 

(7)     Keraguan seorang sahabat dalam pengulangan Rasulullah saw terhadap surah tersebut, apakah disebabkan oleh kelupaan, karena biasanya Rasulullah saw membaca pada rakaat kedua selain surah yang dibaca pada rakaat pertama, sehingga hal itu tidak disyariatkan untuk umatnya. Atau, apakah Rasulullah saw melakukan hal itu untuk menjelaskan kebolehannya. Sehingga, pengulangan tersebut berkisar antara disyariatkan ataukah tidak disyariatkan. Namun, bila permasalahan tersebut berkisar antara disyariatkan ataukah tidak disyariatkan, maka perbuatan Rasulullah saw lebih utama didudukan sebagai perbuatan yang disyariatkan, karena hukum pokok dalam perbuatan Rasulullah saw adalah disyariatkan.Sementara, kasus lupa Rasulullah saw bertolak belakang dengan hukum pokok. Demikianlah yang disebutkan dalam Nailul Awtaar.  {dan secara tekstual dan menurut pendapat yang kuat terbukti bahwasanya Rasulullah saw melakukan hal itu dengan sengaja, untuk menjelaskan kebolehannya dari sisi syariat}

(8)     Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (halaman 1/130), “Kami diberitahukan hadits oleh Ahmad bin Shalih, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Ibnu Wahab, ‘Aku diberitakan hadits oleh Amru dari Ibnu Abi Hilal, dari Mu’adz bin Abdullah al-Juhani, bahwa seseorang dari Juhainah mengabarkan kepadanya bahwa dia mendengar Rasulullah saw membaca dalam shalat Shubuh, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat.’ (az-Zalzalah:1) [‘Surah Al-Zalzalah (99:8)]’…..(al-Hadits).’ pada masing-masing rakaat, dan saya pun tidak tahu apakah beliau lupa atau sengaja melakukannya.’”  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi (halaman 2/390) dari jalurnya. An-Nawawi dalam al-Majmuu’ (halaman 3/384) berkata, “Sanad ini adalah sanad yang shahih.” Hadits ini memang seperti yang dikatakannya, karena sesungguhnya perawi-perawanya adalah perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya).

6)       Suatu kali dalam perjalanan, Rasulullah saw membaca dua surah (al-Mu’awwidzatain: mohon perlindungan),(yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),”’ (al-Falaq: 5) [surah al-Falaq (113:5)] dan (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia.”’ (an-Naas: 6) [surah an-Naas (114 : 6)]. Rasulullah saw bersabda kepada Uqbah bin Amir r.a., “Bacalah dua surah (al-Mu’awwidzatain : mohon perlindungan) dalam shalatmu, [karena tidak ada sesuatu yang lain, yang semisal dengan keduanya, yang orang dapat berlindung dengannya]. (9)

(9)  Hadits ini adalah hadits Uqbah bin Amir r.a.. Hadits ini memiliki beberapa jalur darinya, di antaranya, “Sungguh aku telah menuntun unta Rasulullah saw dalam suatu perjalanan, kemudian beliau bersabda kapadaku, ‘Wahai Uqbah, maukah aku ajarkan kepadamu dua surah yang paling baik dibaca?’ Kemudian Rasulullah saw mengajarkan kepadaku, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Katakanlah,’Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),’ (al-Falaq:5) [surah al-Falaq (113 : 5)] dan ‘Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia.” (an-Naas:6) [surah al-Naas (114 : 6)] Uqbah berkata, “Maka setelah itu, Rasulullah saw belum pernah melihatku sangat bahagia dengan keduanya. Ketika Rasulullah saw beranjak untuk menunaikan shalat Shubuh, beliau membaca dua surah itu pada shalat Shubuh untuk orang-orang. Setelah Rasulullah saw menyelesaikan shalatnya, beliau menoleh kepadaku, seraya bersabda, ‘Wahai Uqbah! Bagaimana pendapatmu?”’ Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (halaman 1/230), {Ibnu Khuzaimah (halaman 1/69/2) = [1/268/535], al-Hakim (halaman 1/240), al-Baihaqi (halaman 2/394), dan Ahmad (halaman 4/149-150 dan 153) dari beberapa jalur dari Mu’awiyah. Sanad ini adalah sanad yang hasan. Kemudian hadits ini diriwayatkan oleh Nasa’i, {Ibnu Khuzaimah (halaman 1/69/2) = [1/266-267/534], ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (halaman 1/35), dan Ahmad (halaman 4/144).

7)  Terkadang, Rasulullah saw membaca lebih banyak daripada itu (tersebut butir 6) di atas). Maka, pernah terjadi Rasulullah saw membaca enam puluh ayat atau lebih.(10) Seorang perawinya (Sayyar) berkata, “Aku tidak tahu dalam satu dari dua rakaat itu atau dalam kedua-duanya.”  Kadangkala Nabi saw membaca surah ar-Ruum (30 :60), (11) dan terkadang, Rasulullah saw membaca surah Yasiin (36:83). (12)

(10) Ia adalah bagian dari hadits Abu Barzah al-Aslami. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/17 dan 21-22 dan 200), Muslim (halaman 2/40), Abu Dawud (halaman 1/66), an-Nasa’i (halaman 1/151), ad-Darimi (halaman 1/298), Ibnu Majah (halaman 1/272), al-Baihaqi (halaman 2/389), ath-Thayalisi (halaman 124), dan Ahmad (halaman 4/419 dan 420 dan 423 dan 425) dari beberapa jalur dari Sayyar Abul Minhal, dari Abu Barzah al-Aslami. Al-Bukhari dan Ahmad dalam sebuah riwayat menambahkan, “Sayyar berkata, ‘Aku tidak tahu dalam satu dari dua rakaat itu atau dalam kedua-duanya.”’

(11) Di dalam riwayat ini ada dua hadits, salah satunya adalah, dari al-Aghar al-Muzani, “Rasulullah saw membaca dalam shalat Shubuh surah ar-Ruum.”  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar.

(12) Ini adalah bagian dari hadits Jabir bin Samurah, “Rasulullah saw membaca dalam shalat Shubuh surah Yaasiin.” Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Awsath dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi tsiqah dalam ash-Shahih, dan demikianlah dalam al-Majma’ (halaman 2/119).

8)  Satu kali pernah terjadi, “Rasulullah saw menunaikan shalat Shubuh di Mekah bersama kami dengan menajadi imam, kemudian beliau memulai bacaan dengan surah {(al-Mu’minuun/23 : 118 ayat)} hingga sampai bacaan yang menyebutkan tentang Musa dan Harun, atau sebutan tentang Isa,(13) – sebagian perawi-perawinya ragu dan berselisih (Muhammad bin Abbad) – tiba-tiba Rasulullah saw menderita batuk,(14) maka beliau pun langsung ruku’.”(15)  

(13) Sebutan tentang Musa terdapat dalam firman Allah SWT, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata.” (al-Mu’minuun/23: ayat 45).  Sedangkan ayat yang menyebutkan tentang Isa terdapat pada sesudah empat ayat berikutnya, (yang dalam bahasa Indonesianya) yaitu, “Dan telah Kami jadikan (‘Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu bukti yang nyata (bagi kebesaran Kami), dan Kami melindungi mereka di sebuah dataran tinggi, (tempat yang tenang, rindang dan banyak buah-buahan) dengan mata air yang mengalir.” (al-Mu’minuun/23: ayat 50) 

(14) Dari pernyataan ini, dijadikan dalil bahwa batuk itu tidak membatalkan shalat. Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 2/203), “Dan hal itu sangat jelas, bila batuk telah menguasainya.” Dia berkata, “Dari situ dapat disimpulkan sebuah hukum, bahwa memotong bacaan karena batuk atau lainnya yang semisal dengannya adalah lebih utama daripada meneruskan bacaan dengan batuk-batuk atau dengan mendehem, walaupun konsekwensinya adalah memendekkan bacaan pada shalat yang disunnahkan untuk memanjangkan bacaan.” An-Nawawi dalam Syarah Muslim, “Dalam hadits ini terdapat dalil tentang kebolehan memotong bacaan dan membaca dengan setengah dari surah. Perkara ini dibolehkan tanpa ada perbedaan pendapat dan tidak dimakruhkan, bila memotongnya disebabkan oleh suatu udzur. Bila tidak ada udzur pun tidak dimakruhkan juga, namun ia bertentangan dengan perbuatan utama dan fadhilah. Ini adalah madzhab kami dan madzhab jumhur, dan dengannya Malik berpegang dalam suatu riwayat darinya, tetapi riwayat yang mashur darinya adalah makruh.” Syaikh al-Albani mengomentari, “Hadits ini tidak mendukungnya, karena hal itu terjadi disebabkan oleh suatu kondisi darurat. Tetapi, hadits yang mendukungnya adalah hadits yang akan disebutkan berikut ini pada (bahasan tentang Sunnah Subuh) dan (shalat Maghrib) dari pembatasan yang dilakukan oleh Rasulullah saw atas beberapa surah.”

(15) Ini adalah hadits dari Abdullah ibnus Sa’ib r.a.. Abdullah ibnus Sa’ib berkata, “Rasulullah saw menunaikan shalat Shubuh di Mekah bersama kami dengan menjadi imam. Kemudian beliau memulai bacaan dengan surah al-Mu’minuun (23:118) hingga sampai bacaan yang menyebutkan tentang Musa dan Harun, atau sebutan tentang Isa, — sebagian perawinya ragu dan berselisih (Muhammad bin Abbad) – tiba-tiba Rasulullah saw terserang batuk, maka beliau pun langsung ruku’.”’  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/39), an-Nasa’i (halaman 1/156), Ibnu Majah (halaman 1/273), ath-Thahawi (halaman 1/205), al-Baihaqi (2/60 dan 389), dan Ahmad (halaman 3/411) dari beberapa jalur yang diriwayatkan oleh satu orang yaitu Muhammad bin Ibad bin Ja’far, dan dialah yang ragu. Namun, dia tidak ragu dalam beberapa riwayat lain darinya.

9)  Kadangkala Rasulullah saw mengimami shalat dengan membaca surah asy-Shaafat (37:182). (16) Dan, “Sesungguhnya Rasulullah saw menunaikan shalat Shubuh pada hari Jum’at dengan membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Alif Laam Miim. Tanziil ….(as-Sajdah: 30) [surah as-Sajdah (32:30)] dalam rakaat pertama, dan dalam rakaat kedua, Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Bukankah pernah dating kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?’ (al-Insaan: 31 ayat) [surah al-Insaan (76:31)]. (17)  Dan, sesungguhnya Rasulullah saw memanjangkan bacaan dalam rakaat pertama, dan memendekkan dalam rakaat kedua. (Komentar atau keterangan  ini susulan dari Penerbit: Maktabatul Ma’arif, Riyadh).

16.    Ini adalah bagian dari hadits Ibnu Umar r.a.. Salim bin Abdullah dari ayahnya berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah menyuruh kami untuk memendekkan (meringankan) bacaan, dan sesungguhnya Rasulullah saw mengimami kami dengan surah ash-Shaafaat (37:182). Yazid berkata, dalam shalat Shubuh.”  Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 2/40), {dan Abu Uwanah [5/42/5422]} dari jalur Yazid bin Harun yang berkata, “Kami diberitakan hadits oleh Ibnu Abi Dzi’b dari al-Harits bin Abdurahman, dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, tentang hal itu. Sanad ini adalah sanad yang hasan dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya).

(17) Di dalam masalah ini terdapat banyak hadits, di antaranya, Abu Hurairah r.a. berkata, “Sesungguhnya Nabi saw membaca pada hari Jum’at dalam shalat Shubuh, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Alif Laam Miim. Tanziil [surah as-Sajdah (32:30)] dalam rakaat pertama, dan dalam rakaat kedua, Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”’  [surah al-Insaan (76:31)] Lihat riwayatnya dalam hadits berikutnya dari hadits Abu Qatadah (halaman 457).

Bacaan dalam Sunnah Fajar / Shubuh.  

10)   Sementara, bacaan Rasulullah saw dalam dua rakaat sunnah fajar, sangat pendek, (18) sehingga Aisyah r.a. pernah berkata, “Apakah Rasulullah saw membaca Ummul Kitab (al-Faatihah) ketika shalat fajar?”(19). (20)

(18) Ia adalah hadits Hafshah binti Umar r.a.. Ibnu Ishaq berkata, “Aku diberitahukan hadits oleh Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Hafshah binti Umar r.a. istri Rasulullah saw, ia berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah saw menunaikan dua rakaat shalat sunnah fajar di rumahku. Beliau sangat memendekkan kedua rakaatnya.”’  Sanad ini adalah sanad yang jayyid. Hadits ini terdapat pada al-Bukhari (halaman 3/39), Muslim (halaman 2/159), an-Nasa’i (halaman 1/67 dan 253-254), ad-Darimi (halaman 1/336), Ibnu Majah (halaman 1/350), ath-Thahawi (halaman 1/175), al-Baihaqi (halaman 2/481), dan demikian pula Ahmad (halaman 6/283-284) dari beberapa jalur dari Nafi’ tentangnya, tanpa pernyataannya alfajri (sangat).

(19) Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 3/35 dan 36), Muslim (halaman 2/159-160), Abu Dawud (halaman 1/197), an-Nasa’i (halaman 1/121), ath-Thahawi (halaman 1/175), dan Ahmad (halaman 6/164 dan 235), Aisyah r.a. berkata, “Sesungguhnya Nabi saw memendekkan dua rakaat sebelum shalat Shubuh hingga aku bertanya, ‘Apakah Rasulullah saw membaca di dalam kedua rakaat itu dengan bacaan Ummul Qur’an?”’

(20) Al-Qurtubi berkata, “Bukanlah hal ini bermakna bahwa Aisyah telah meragukan bacaan Rasulullah saw terhadap al-Faatihah, tetapi maknanya adalah bahwa biasanya Rasulullah saw memanjangkan shalat-shalat sunnah. Maka, ketika Rasulullah saw memendekkan bacaan dua rakaat sunnah fajar, menjadi seolah-olah Rasulullah saw tidak membaca dibandingkan dengan shalat-shalat lainnya. Demikianlah yang disebutkan dalam tulisan al-Hafizh dalam al-Fath. An-Nawawi dalam Syarah Muslim menyatakan yang mirip dengannya. Kemudian dia berkata, “Di dalamnya terdapat dalil tentang meringankan bacaan dalam sunnah Shubuh, dan ia adalah madzhab Malik, Syafi’i, dan Jumhur.” Sebagian ulama salaf berkata tidak menjadi masalah memanjangkan bacaannya, dan tampaknya mereka bermaksud tidak haram memanjangkannya, dan mereka tidak menentang hukum sunnahnya memendekkan bacaan. Namun, ada suatu kelompok yang berlebihan, ketika berpendapat tidak ada bacaan di dalamnya sama sekali. Pendapat ini adalah kesalahan fatal.

11)   Terkadang setelah {al-Faatihah} Rasulullah saw membaca pada rakaat pertama sunnah Fajar, ayat 136 surah al-Baqarah/2. Dalam rakaat lainnya, Rasulullah saw membaca ayat 64 surah Ali ‘Imran/3.

12)   Terkadang Rasulullah saw membaca ayat penggantinya (tersebut butir 11) di atas), yaitu ayat 52 surah Ali ‘Imran/3. (21)

(21) Ia adalah bagian dari hadits Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Rasulullah saw membaca dalam dua rakaat shalat sunnah fajar. Pada rakaat pertama, Rasulullah saw membaca, ayat 136 surah al-Baqarah/2.” Pada rakaat terakhir darinya, beliau saw memebaca, ayat 52 surah Ali ‘Imran/3. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/161), {Ibnu Khuzaimah (halaman [2/163/460])} dari jalur Abu Khalid al-Ahmar, dari Utsman bin Hakim al-Anshari, dari Sa’id bin Yasar, tentang hal itu.

13)   Terkadang, Rasulullah saw membaca, “Surah al-Kaafiruun (109:6) pada rakaat pertama, dan surah al-Ikhlaash (112:4) pada rakaat lainnya.” (22) {Rasulullah saw bersabda, “Alangkah indahnya dua surah ini.”} (23)

(22) Di dalam masalah ini terdapat banyak hadits, di antaranya hadits dari Abu Hurairah, “Kami diberitahukan hadits oleh Marwan bin Mu’awiyah dari Yazid bin Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw membaca dalam dua rakaat sunnah fajar, ‘Katakanlah, ‘Wahai orang-orang kafir,” {al-Kaafiruun:1[6 ayat]}, dan ‘Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa,” {al-Ikhlaash:1[4 ayat]}.”  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/160-161), Abu Dawud (halaman 1/197), an-Nasa’i (halaman 1/151), dan Ibnu Majah (halaman 1/351) dari Marwan bin Mu’awiyah, dari Yazid bin Kaisan, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah.

(23) {Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah.}

14)   Rasulullah saw mendengar seseorang membaca surah pertama pada rakaat pertama, kemudian Nabi saw bersabda, “Orang ini adalah hamba yang beriman kepada Tuhannya, Allah Azza wa Jalla.” Kemudian dia membaca surah kedua pada rakaat lainnya, kemudian Nabi saw bersabda, “Orang ini adalah hamba yang mengenal Tuhannya.” (24)

(24) Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thahawi (halaman 1/176).

Di lanjutkan ke site – II

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 14-02-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

BAGAIMANAKAH AMIN DIUCAPKAN IMAM DAN MAKMUM SAAT SHALAT JAHR (SUARA KERAS)?

Mengucapkan Aamiin dan Perihal Imam Meninggikan Suara dalam Mengucapannya.

A.  Materi di ambil dari : Buku “Sifat SHALAT NABI saw” yang disusun/ditulis oleh M. Nashiruddin al-Albani, pada halaman 225 s/d 229, Penerbit di Indonesia GEMA INSANI, Depok: Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta: Jln. Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M, dengan penjelasan/uraian sebagai berikut :

Berikut ini disampaikan hadits-hadits shahih yang mengatur ucapan aamiin yang dilakukan Imam dan Makmum pada shalat jahr (suara keras), yaitu :

  1. Hadits nomor 1 (satu).  

Disebutkan bahwa ketika Rasulullah saw selesai membaca al-Faatihah, beliau     saw   mengucapkan amin dengan suara jelas dan panjang. 1)

1)  Hal ini terdapat  dalam beberapa hadits, di antaranya, Hadits dari Wa’il bin Hujr, dan ia memiliki beberapa jalur, di antaranya, (dalam bahasa Indonesia) adalah, “Kami diberitakan hadits oleh Sufyan ats-Tsauri dari Salamah bin Kuhail, dari Hujr bin Anbas al-Hadhrami, dari Wa’il bin Hujr, ia berkata,’Sesungguhnya Rasulullah saw bila selesai membaca, ‘Dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat’, beliau membaca, ‘Ya Allah, perkenankanlah (aamiin).’ Dan beliau meninggikan suaranya.”’

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab juz’ul Qiraa’ah (halaman 20) dan Abu Dawud (halaman 1/148), at-Tirmidzi (halaman 2/27), ad-Darimi (halaman 1/284), ad-Daruquthni (halaman 127), al-Baihaqi (halaman 2/57), dan Ahmad (halaman 4/316) dari beberapa jalur dari Sufyan tentangnya. At-Tirmidzi dan Ahmad meriwayatkan dengan kata, (madda) “Memanjangkan,” sebagai ganti kata,  (warafa’a) “Meninggikan”.

Riwayat seperti itu uga terdapat dalam riwayat al-Bukhari, ad-Daruquthni, dan al-Baihaqi. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan.” Demikian pula yang dikatakan oleh al-Hafizh dalam Takhriij Ahaadiits al-Kasysyaaf (halaman 3). Ad-Daruquthni berkata,”Shahih.” Hadits ini memang seperti yang dikatakannya. Jadi, perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya) dan termasuk perawi-perawi al-Bukhari dan Muslim selain Hujr ibnul Anbas, namun dia adalah perawi yang tsiqah dan masyhur, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ma’in.

Al-Hafizh dalam at-Talkhiish (halaman 3/348) berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Abu Dawud, ad-Daruquthni, dan Ibnu Hibban dari jalur ats-Tsauri tentangnya.” Dia berkata, “Sanadnya shahih, dan telah dishahihkan oleh ad-Daruquthni. Namun, Ibnul Qaththan menyebutkan ‘illat-nya (sebab tersembunyi dan samar yang melemahkan hadits) dengan kritikan terhadap Hujr ibnul Anbas, dan bahwa dia adalah perawi yang tidak dikenal. Tetapi, dia (Ibnul Qaththan) telah salah dalam hal ini. Bahkan, dia adalah perawi yang tsiqah (terpercaya) dan dikenal – bahkan ada yang mengatakan, bahwa dia telah mendapatkan status sebagai sahabat Rasulullah saw. Dia telah dikatakan tsiqah oleh Yahya bin Ma’in, dll.””

Jadi secara umum, beberapa jalur ini sebagiannya menguatkan sebagian yang lain, namun seandainya dalam bab ini tidak ada hadits lain selain hadits Wa’il tersebut di atas, maka hadits itu sudah cukup.

Dalam masalah ini ada beberapa persoalan, yaitu :

Persoalan pertama, bahwa membaca,”Aamiin, (Ya Allah, perkenankanlah),” adalah disyariatkan bagi imam. Ini adalah madzhab jumhur ulama, dan yang menentang dalam pendapat ini adalah Abu Hanifah (1) dalam sebuah riwayat seraya berkata,”Yang membaca aamiin hanyalah makmum di belakang imam, sedangkan imam tidak membaca aamiin.”

Riwayat ini disebutkan oleh muridnya, yaitu Muhammad dalam al-Muwaththa’ (halaman 103), tetapi Muhammad sendiri menentangnya dengan berkata, “Bila seorang imam selesai membaca ummul kitab seharusnya imam membaca aamiin, dan demikian pula makmum, orang-orang yang berada di belakangnya, dan mereka seharusnya mengeraskan suara dalam mengucapkannya.”

Demikian pula telah diriwayatkan dari Malik (2) sebuah riwayat yang semisal dengan riwayat yang kami sebutkan dari Abu Hanifah (1). Namun dalam riwayat lain, Malik berkata,”Imam tidak mengatakan aamiin, dalam shalat jahriyyah saja.”

Tetapi, hadits-hadits dalam bab ini telah membantah keduanya, sebagaimana asy-Syaukani (halaman 2/186). Maka,tidak diragukan bahwa kebanyakan kitab-kitab tentang matan telah menentang riwayat ini dari Abu Hanifah (1), karena di dalamnya terdapat “Imam dan makmum sama-sama membaca aamiin.”

Persoalan kedua, sesungguhnya hadits (Wa’il bin Hujr) tersebut menjadi dalil bahwa sunnah bagi imam untuk meninggikan suara dalam mengucapkan aamiin. At-Tirmidzi berkata, “Pendapat ini dipegang oleh beberapa ahli ilmu dari para sahabat Nabi saw, tabi’in, dan orang-orang yang setelah mereka, mereka semuanya memandang bahwa orang yang shalat meninggikan suaranya dengan membaca aamiin, dan tidak merendahkan suaranya.” Pendapat ini dipegang oleh asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishak.

Persoalan ketiga, apakah makmum mengucapkan aamiin dengan suara keras? Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat, madzhab Ishaq – sebagaimana disebutkan sebelumnya – bahwa makmum membacanya dengan suara keras, dan ia adalah madzhab Syafi’i dalam al-qaulul qadim (pendapat lama) sebagaimana disebutkan al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 2/212), dan lain-lain. Dia berkata, “Ia dijadikan pegangan dalam berfatwa.” Ar-Rafi’i berkata, “Kebanyakan ulama berkata, dalam masalah ini ada dua pendapat, yang paling benar adalah pendapat bahwa makmum membaca dengan suara keras.”

Imam asy-Syafi’i dalam al-qaulul jadid (pendapat baru) berkata, “Sesungguhnya makmum tidak boleh membaca aamiin dengan suara keras.” Nash ini terdapat dalam al-Umm (halaman 1/65), “Bila imam telah selesai dari membaca Ummul Kitab, maka dia mengucapan aamiin, dan dengan meninggikan suaranya, agar diikuti oleh orang-orang yang ada dibelakangnya. Bila imam telah mengatakannya, para makmum bersamanya mengatakannya juga dan hendaklah mereka memperdengarkannya untuk dirinya sendiri saja. Aku tidak suka mereka mengeraskan suara karenanya. Bila mereka tetap melakukannya, maka tidak ada dosa atas mereka.”

Dengan pendapat ini, kami berpegang insya Allah SWT, berdasarkan dalil-dalil sebelumnya. Demikian pula tidak ada seorang pun dari perawi-perawi yang meriwayatkan tentang Rasulullah saw yang mengatakan aamiin dengan suara keras, yang menukilkan kepada kita bahwa para sahabat mengeraskan suara dengan mengucapkan aamiin di belakang Rasulullah saw. Seandainya para sahabat telah melakukan hal itu, maka mereka pasti menukilkan hal itu kepada kita. Apalagi mengatakan aamiin dengan suara keras adalah bertentangan dengan hukum asalnya. Allah SWT berfirman yang dalam bahasa Indonesianya adalah, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Surat al-A’raaf : 55)

Dengan demikian, kita tidak boleh keluar dari hukum asal ini, kecuali dengan dalil shahih.  

Sesungguhnya kami telah men-takhrij hadits Rasulullah saw yang berkenaan dengan imam mengucapkan aamiin dengan suara, karena hal itu telah menjadi ketetapan dari Rasulullah saw. Maka hukumnya bagi makmum tetap berada dalam hukum asal (dengan suara lembut/rendah). Allah SWT yang Maha Memberikan Taufik.

Persoalan keempat, al-Hafizh Abu Zur’ah dalam Syarah at-Taqriib (halaman 2/269) berkata,”Yang disunnahkan adalah cukup mengucapkan aamiin setelah al-Faatihah tanpa menambah apa pun atasnya, untuk mengikuti hadits ini. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari hadits Wa’il bin Hujr, dengan matan dalam bahasa Indonesia adalah : “Bahwa dia mendengar Rasulullah saw bila selesai membaca, ‘…. bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula alan) mereka yang sesat.’ ‘(al-Faatihah:7), beliau berdoa, ‘Ya Tuhanku, ampunilah diriku. Aamiin.’

Tetapi, sesungguhnya dalam sanad hadits ini terdapat Abu Bakar an-Nahsyali, dan dia adalah dhaif (lemah).”’

  1. Hadits nomor 2 (dua).

          Rasulullah saw bersabda, dengan matan dalam bahasa Indonesia adalah : “Apabila imam selesai membaca, ‘….. bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.’ (al-Faatihah: 7), maka katakanlah,2) ‘Aamiin.’ (Sesungguhnya malaikat mengucapkan aamiin dan imam pun mengucapkan aamiin). [Dalam lafazh lain disebutkan bahwa jika seorang imam mengucapkan aamiin, maka ikutilah dengan mengucapkan aamiin]. Barangsiapa mengucapkan aamiin bersamaan dengan ucapan malaikat, (Dalam lafazh lain disebutkan, ‘Apabila seseorang dari kalian 3) mengucapkan aamiin dalam shalat, dan para malaikat di langit mengucapkan aamiin dengan bersamaan, sehingga salah satunya bersamaan dengan yang lainnya) niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni 4).” 5)

2)  Jumhur ulama telah mendudukkan perintah ini sebagai perintah yang sunnah, dan di antaranya Ibnu Hazm dalam al-Muhallaa (halaman 3/262). Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 2/210) berkata, “Ibnu Bazizah dari sebagian ahli ilmu telah menceritakan bahwa mereka berpendapat, ‘Wajib atas makmum mengucapkan aamiin berdasarkan perintah secara tekstual tersebut.”’ Dia berkata, “Madzhab Zhahiriyyah telah mewajibkannya atas setiap orang yang shalat.”

Asy-Syaukani (halaman 2/187) berkata, “Secara tekstual sesungguhnya hadits ini hanya mewajibkannya atas para makmum saja, tetapi tidak mutlak. Namun ia terkait dengan bacaan aamiin dari sang imam. Sedangkan imam dan orang yang shalat sendirian, ia hanya disunnahkan mengucapkan aamiin.”

Al-Hafizh Abu Zur’ah [al-Iraqi] (halaman 2/266) berkata, “Di dalam hadits terdapat bantahan atas madzhab Imamiyyah yang berpendapat bahwa mengucapkan aamiin adalah membatalkan shalat. Dan dalam pendapat seperti itu, mereka telah keluar dari ijma ulama yang terdahulu dan belakangan (salaf dan khalaf), dan mereka tidak memiliki hujjah atas pendapat itu baik yang shahih ataupun yang cacat.”

Al-Khaththabi (halaman 1/224) berkata, “Makna hadits ini adalah katakanlah oleh kalian bersama imam, sehingga ucapan aamiin kalian bersamaan dengan ucapannya. Sedangkan sabda Rasulullah saw, dalam bahasa Indonesia adalah : “Jika seorang imam mengucapkan aamiin, maka ikutilah dengan mengucapkan aamiin.” Maka sabda ini tidak bertentangan dengan makna (hadits no.2) tersebut, dan ia juga tidak menunjukkan bahwa para makmum menunda dalam mengucapkan aamiin setelah imam selesai mengucapkannya.

Tetapi pernyataan hadits seperti ini, laksana orang yang mengatakan, “Bila panglima telah bergerak maju, maka bersiaplah kalian untuk bergerak, agar kalian bersama-sama bergerak maju dengannya.” Penjelasan makna ini terdapat pada hadits lain (tidak disebut sumber dan status hadits), yang dalam bahasa Indonesia adalah, “Sesungguhnya malaikat mengucapkan aamiin dan imam pun mengucapkan aamiin. Barangsiapa mengucapan aamiin bersamaan dengan ucapan malaikat, niscaya dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” Dengan demikian Allah SWT menyukai agar semua ucapan aamiin itu terkumpul menjadi satu (sama); dengan harapan mendapatkan ampunan.

3)  Di dalamnya terdapat dalil tentang disunnahkan mengucapkan aamiin bagi makmum dan orang yang shalat sendirian, berdasarkan dalil umumnya sabda Rasulullah saw, yang dalam bahasa Indonesia adalah,  “…. seseorang dari kalian …..” Pengarang al-Mufhim berkata, “Ulama telah bersepakat bahwa orang yang shalat sendirian mengucapkan aamiin secara mutlak, sedangkan imam dan makmum ketika membaca dengan suara sirr (pelan) keduanya mengucapkan aamiin. Demikianlah yang disebutkan dalam Tharhut Tatsrib (halaman 2/267).”

4) Sedangkan tambahan kalimat (dalam hadits no.3 tersebut di atas), yang dalam bahasa      Indonesia adalah, “Dosa-dosanya yang akan datang,” maka adalah riwayat yang aneh   dan dhaif (lemah) dalam hadits ini, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 2/211). Demikianlah riwayat tambahan seperti, dalam bahasa Indonesia adalah, “Maka dosa-dosa akan diampuni bagi orang-orang yang berada dalam masjid.”

5) Hadits ini adalah bagian dari hadits Abu Hurairah r.a. dan ia memiliki beberapa lafazh. Syaikh al-Albani telah menyebutkannya sesuai dengan yang cocok dengan bahasan masalah ini.

  1. Hadits nomor 3.

Dalam hadits lain Rasulullah saw bersabda yang dalam bahasa Indonesia adalah,“Maka katakanlah oleh kalian,‘Aamiin.’‘Sesungguhnya Allah pasti 6) mengabulkan permintaan kalian.” 7)

6)  Yakni, Allah SWT pasti mengabulkan doa kalian. Di dalam hadits ini terkandung anjuran yang sangat agung berkenaan dengan ucapan aamiin. Jadi, hal ini harus lebih diperhatikan dengan penekanan dan keseriusan. Hal ini dikatakan oleh an-Nawawi.

7) Hadits ini adalah hadits Abu Musa al-Asy’ari r.a. Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim        (halaman 2/14-15) {dan Abu Uwanah [2/128]}, Abu Dawud (halaman 1/153-154), an-Nasa’i (halaman 1/162 dan 175 dan 188), ad-Darimi (halaman 1/315), al-Baihaqi (halaman 2/140- 141) {dan Ar-Ruyani dalam Musnad-nya (halaman 24/119/1)}, dan Ahmad (halaman 4/409) dari jalur Qatadah, dari Yunus bin Jubair, dari Hiththan bin Abdullah ar-Raqasyi, dari Abu Musa al-Asy’ari r.a.

  1. Hadits nomor 4.

Rasulullah saw juga bersabda, yang dalam bahasa Indonesia adalah, “Tidak ada sesuatu yang paling menjadikan orang-orang Yahudi iri pada kalian, kecuali ucapan salam dan aamiin 8) (di belakang imam).9)

8) Karena, orang-orang Yahudi mengetahui keutamaan dan keberkahannya. Jadi, selayaknya kalian memperbanyak keduanya. Ini dikatakan oleh as-Sanadi.

9) Hadits ini shahih dari sekelompok sahabat – semoga Allah meridhai mereka semuanya – dan mereka adalah Aisyah, Ummul Mukminin; Abdullah bin Abbas; Anas bin Malik; dan Mu’adz bin Jabal.  Hadits Aisyah r.a. diriwayatkan oleh Ibnu Majah (halaman 1/281).

B.  Fatwa Syaikh Albani khusus Tentang “Mengikuti Salafush – Shalih.”

(Diambil dari : Buku yang berjudul Fatwa-Fatwa Syaikh Albani, pada halaman 108 s/d 109, Penerbit di Indonesia PUSTAKA AZZAM, Jl.Kp.Melayu Kecil III/15 Jak-Sel 12840, Cetakan Pertama Januari 2003, Penyusun Ukasyah Abdul Manan Athaiby, Penerjemah Amiruddin Abdul Djalil, Editor: Ibnu Mukti Lc.).

Tidak ada keanehan jika mayoritas manusia menyalahi Sunnah, karena mereka sejak asalnya sangat jauh dari Sunnah itu sendiri. Akan tetapi keanehan yang sebenarnya apabila sikap menyalahi Sunnah dilakukan oleh mereka yang menisbatkan diri terhadap Sunnah serta mengerahkan segala usahanya dalam rangka membela Sunnah.

Contohnya seperti apa yang kita dengarkan tadi, berupa keanehan dan keanggalan saat mengucapkan ‘Aamiin’ di belakang imam.

Ini merupakan musibah yang sangat merebak. Aku sangat heran bagaimana dunia Islam senantiasa berada dalam kesalahan seperti ini, sementara di sana terdapat orang-orang yang menisbatkan diri kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti yang dikatakan oleh sebagian orang pada zaman ini.

Aku (Penyusun) maksudkan dengannya adalah penyelisihan mereka terhadap sabda Nabi saw dalam hadits shahih, diterima kebenarannya oleh umat, yaitu sabda beliau saw, yang dalam bahasa Indonesia adalah, “Apabila imam membaca Aamiin maka ucapkanlah oleh kalian Aamiin. Karena barangsiapa yang ucapan Aamiinnya bertepatan dengan ucapan Aamiin para malaikat, niscaya akan diampuni dosanya yang lalu.”

Hadits ini sangat berbeda dengan praktik yang dilakukan oleh mayoritas mereka yang melakukan shalat. Tidak terkecuali pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang telah memproklamirkan diri memerangi bid’ah, kecuali sedikit sekali di antara mereka dan tersebar di mana-mana, mereka lenyap ditelan sekelompok besar umat. Suara mereka tidak terdengar, akan tetapi hanya merekalah yang memperhatikan hadits tersebut.

Apakah kalian dalam skala kecilnya, juga mengetahui dan memperhatikan makna hadits tersebut ? “Apabila imam mengucapkan Aamiin, maka ucapkanlah oleh kalian Aamiin.”

Makna hadits ini bukan seperti yang kalian praktikan, kalian mendahului imam dalam mengucapkan ‘Aamiin’. Hampir-hampir imam belum selesai mengucapkan ‘Waladhaaliin’, tiba-tiba para makmum telah mendahuluinya dengan ucapan ‘Aamiin’. Mengapa demikian? Apakah indikasi dari perbuatan ini?

Hal ini merupakan indikasi kelalaian para mamum, mereka tidak menghadirkan pikiran bersama bacaan imam yang ada di depan mereka. Oleh sebab itu, maka mereka terjerumus pada penyimpangan yang sangat jelas seperti ini.

Namun perkara yang lebih aneh di atas segala keanehan, bahwa di sana salah seorang saudara kita yang biasa memberikan khutbah Jum’at di masjid Shalahuddin, yaitu Al Ustadz Abu Malik (kukira kalian semua mengenalnya insya Allah), pada setiap shalat Jum’at tidak melakukan takbiratul ihram, kecuali setelah mengingatkan para makmum agar tidak mendahuluinya dalam mengucapkan ‘Aamiin’.    

Akan tetapi – subhanallah (Maha Suci Allah) – seakan-akan beliau berbicara dengan benda-benda mati. Hampir-hampir beliau belum menyelesaikan bacaan Al Fatihah pada rakaat pertama, tiba-tiba mesjid telah bergemuruh dengan suara ‘Aamiin’  para makmum sebelum kami mendengar ucapan ‘Aamiin’  dari beliau. Bahkan kami tidak pernah mendengarkannya, sebab ucapan ‘Aamiin’ dari beliau lenyap oleh suara para makmum, bukan suara para makmum yang mengikuti suara imam.

C.      S i m p u l a n.

Berdasarkan penjelasan dari hadits-hadits dan fatwa Syaikh Albani tersebut butir A dan B di atas, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Imam mengucapkan aamiin dalam suara keras (jahr) pada shalat jahr (suara keras), sebagaimana yang dimaksud pada butir A.1. yaitu hadits nomor 1 tersebut di atas.
  2. Makmum mengucapkan aamiin secara sirr (suara pelan) setelah imam selesai mengucapkan aamiin secara keras (jahr), sebagaimana yang dimaksud butir A.1. khusus pada penjelasan Persoalan Ketiga yaitu pada ketiga alinea terakhir tersebut di atas dan pada hadits nomor 2 butir A.2. tersebut di atas.
  3. Imam dan makmum membaca aamiin dengan suara sirr (pelan) ketika shalat sirr (pelan), sebagaimana yang dimaksud butir A.2. yaitu hadits nomor 2 footnote no.3 tersebut di atas.
  4. Barangsiapa yang ucapan aamiin-nya bertepatan dengan ucapan aamiin para malaikat, niscaya akan diampuni dosanya yang lalu, sebagaimana hadits yang disebutkan pada butir A hadits nomor 2 dan hadits yang disebutkan di butir B (Fatwa Syaikh Albani) tersebut di atas.

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 25-01-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

BENARKAH BACAAN BASMALAH DENGAN SIRR (SUARA PELAN) DILAKUKAN IMAM DALAM SHALAT YANG JAHR (SUARA KERAS) ?

BENARKAH BACAAN BASMALAH DENGAN SIRR (SUARA PELAN) DILAKUKAN IMAM DALAM SHALAT YANG JAHR (SUARA KERAS) ?

 (Sangat disarankan didampingi dengan buku “Sifat SHALAT NABI SAW” yang disusun oleh M. Nashiruddin Al-Albani yang diterbitkan oleh Gema Insani, Depok :Jl.Ir.H.Juanda Depok 16418, Cetakan Pertama Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M, khususnya pada footnote 4 halaman 160 s/d 170.)

A.  DALIL / NASH BACAAN BASMALAH DENGAN SIRR (SUARA PELAN).

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dan ia (hadits ini) datang darinya lewat beberapa jalur dengan lafazh-lafazh yang berbeda. Namun, yang dapat disimpulkan darinya adalah bahwa Rasulullah saw membacanya dengan suara pelan. Kami (Syaikh Al-Albani) akan memaparkannya agar menjadi jelas bagi Anda (para pembaca), yaitu :

Jalur pertama, adalah : “Kami diberitahukan hadits oleh Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, (dalam matan bahasa Indonesia-nya), adalah:’Nabi saw., Abu Bakar, dan Umar – semoga Allah SWT meridhai keduanya—memulai (bacaan dengan suara keras) shalat dengan,’Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”’ (al-Faatihah : 2).

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/180) dari kitab Shahih-nya dan dalam Juz’ul Qiraa’ah (halaman 12), Muslim (halaman 2/12) {dan Abu Uwanah [2/122]}, ath-Thahawi (halaman 1/119), ad-Daruquthni (halaman 119), al-Baihaqi (halaman 2/51), ath-Thayalisi (halaman 266), dan Ahmad (halaman 3/179 dan 273 dan 275) dari beberapa jalur darinya. Lafazh ini adalah lafazh al-Bukhari.

Dalam sebuah riwayat ada tambahan, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah “….dan (semasa) Utsman …..”

Ath-Thayalisi menambahkan – dan darinya Muslim, (matan dalam bahasa Indonesia) yaitu : “Dia berkata – yakni Syu’bah, ‘Aku bertanya kepada Qatadah,’Apakah kamu telah mendengarnya dari Anas?’ Dia menjawab,”Ya, kami telah menanyakannya tentang hal itu.’”

Ini adalah riwayat dari Ahmad juga dengan lafazh, (matan dalam bahasa Indonesia) yaitu : ”Qatadah berkata,’Aku bertanya kepada Anas bin Malik,’Dengan apa Rasulullah saw membuka bacaan (shalatnya)?’ Dia menjawab,’Sesungguhnya kamu menanyakan sesuatu yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun.””

Sanadnya shahih sesuai dengan persyaratan ahli hadits yang enam.

Sedangkan lafazh Muslim {dan Abu Uwanah} ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan Ahmad dalam sebuah riwayat (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Anas berkata, bahwa dia telah shalat bersama Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka membaca (dengan suara keras), ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.’”

Demikian pula lafazh ath-Thahawi, hanya dia berkata, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah :”Rasulullah saw membaca dengan suara keras, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” Demikian pula dalam riwayat ad-Daruquthni darinya.

Dan dalam sebuah lafazh dari riwayat Ahmad (matan dalam bahasa Indonesia) disebutkan, “Sesungguhnya mereka tidak membaca dengan suara keras,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”’

Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan dia menambahkan (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,” (al-Faatihah : 2) sebagaimana disebutkan dalam Nashbur Raayah (halaman 1/327).

Hadits ini juga di-takhrij oleh al-Bukhari dalam Juz’ul Qiraa’ah dan Muslim, Abu Dawud (halaman 1/125), asy-Syafi’i dalam al-Umm (halaman 1/93), an-Nasa’I (halaman 1/143), at-Tirmidzi (halaman 2/15) dan ia mengatakannya shahih, ad-Darimi (halaman 1/283), Ibnu Majah (halaman 1/271) {dan Abu Uwanah [2/122]} ath-Thahawi, ad-Daruquthni, al-Baihaqi dan Ahmad (halaman 3/223 dan 273) dari beberapa jalur lain dari Qatadah dengan riwayat semisal lafazh pertama.

Muslim {dan Abu Uwanah}, dan Ahmad menambahkan dalam sebuah riwayat, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah : “Mereka tidak menyebutkan (membaca dengan suara keras),’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ pada awal bacaan dan tidak pula pada akhirnya.”

Jalur kedua, Dan diriwayatkan oleh an-Nasa’i (halaman 1/144) dari jalur Uqbah bin Khalid, ia berkata,”Kami diberitahukan hadits oleh Syu’bah dan Ibnu Abi Arubah, dari Qatadah, dari Anas, dengan lafazh yang dalam bahasa Indonesia-nya, adalah, “Aku telah shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan aku tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka membaca (dengan suara keras),’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”’

Syaikh al-Albani mengomentari,”Ia adalah madzhab Abu Hanifah dan dua sahabat-nya, sebagaimana diceritakan oleh ath-Thahawi dan lain-lain. Imam Ahmad menyebutkan secara tekstual pendapatnya seperti itu dalam al-Atsar (halaman 15-16) dan dengannya berpendapat mayoritas ahli hadits, sebagaimana dikatakan oleh al-Hazimi (halaman 56).

Yang berbeda dengan mereka dalam hal itu adalah Imam asy-Syafi’i dan para pengikutnya, dan sebagian orang-orang yang terdahulu darinya yakni sebagian sahabat dan tabi’in.

Mereka berpendapat bahwa membaca basmalah adalah dengan jahr (suara keras), dan sesungguhnya yang demikian itu adalah sunnah.”

An-Nawawi dalam al-Majmuu’ (halaman 3/334-356) telah membahas panjang lebar tentang dalil-dalil dari banyak hadits yang dipaparkannya. Orang yang menelitinya dengan obyektif dan jujur, akan menyimpulkan dari penelitiannya bahwa mereka tidak berpegang kepada satu hadits pun yang shahih dan secara jelas menyatakan tentang madzhab mereka itu.

B.  DALIL / NASH BACAAN BASMALAH DENGAN JAHR (SUARA KERAS) ADALAH HADITS DHAIF (LEMAH) .

Oleh karena itu, kami (Syaikh al-Albani) akan memaparkan dalam komentar di sini tentang riwayat yang menyebutkan dengan tegas tentang bacaan secara jahr, yang bisa jadi dianggap sebagai hadits shahih oleh sebagian dari mereka, dan kami membiarkan bahasannya secara keseluruhan berada dalam kitab-kitab tebal dan panjang seperti Nashbur Raayah, Nailul Awthaar, dan lain-lain, seperti berikut ini :

Hadits pertama, hadits dari Anas bin Malik r.a. dan ia memiliki beberapa jalur.

 Jalur pertama, hadits ini di-takhrij oleh asy-Syafi’i dalam al-Umm (halaman 1/93) dan dari jalurnya diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (halaman 117), al-Hakim (halaman 1/233), dan al-Baihaqi (halaman 2/49). Ketiga-tiganya, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Kami diberitahukan hadits oleh asy-Syafi’i, dia berkata, ‘Kami diberitakan hadits oleh Abdul Majid bin Abdul Aziz dari Ibnu Juraij, ia berkata,’Aku diberitakan hadits oleh Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, bahwa Abu Bakar bin Hafsh bin Umar diberitakan hadits olehnya, bahwa Anas bin Malik diberitakan hadits olehnya, dia berkata,’Mu’awiyah memimpin suatu shalat di Madinah, kemudian dia membaca secara jahr ketika membaca, ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ untuk Ummul Qur’an (al-Faatihah), namun dia tidak membacanya (basmalah) secara jahr ketika membaca surah setelahnya, hingga dia menghabiskan bacaan tersebut. Dan dia tidak bertakbir ketika dia turun untuk sujud, sampai dia menyelesaikan shalat itu. Maka setelah dia mengucapkan salam, dia diseru oleh orang-orang yang mendengar hal itu dari kaum Muhajirin dan Anshar dari setiap tempat, ‘Wahai Mu’awiyah, apakah ada yang tercuri dari shalat, atau kamu sendiri memang lupa?’ Setelah itu setiap Mu’awiyah shalat, maka ia membaca (basmalah) secara jahr ketika membaca surah setelah Ummul Qur’an, dan dia bertakbir ketika dia turun untuk sujud.””

Ad-Daruquthni berkata, “Semua perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya),” dan al-Hakim berkata,”Shahih menurut persyaratan Muslim,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Kemudian al-Hakim berkata,”Muslim telah ber-hujjah dengan Abdul Aziz dan semua perawinya disepakati atas kejujuran dan keadilan mereka. Ia adalah ‘illat (sebab yang melemahkan hadits) atas hadits Syu’bah dari Qatadah, karena sesungguhnya Qatadah – walaupun tinggi derajatnya – tetapi ia adalah mudallis (perawi yang menyamarkan sanad hadits), dan dia mengambil hadits dari siapa pun.”

Demikianlah yang dikatakannya. Dia mengisyaratkan dengan hal itu kepada hadits Anas yang lalu, dalam membaca basmalah dengan suara sirr (pelan). ‘llatnya-nya (sebab tersembunyi dan samar yang melemahkan hadits) seperti ini tidaklah menjadi masalah, karena Qatadah telah menjelaskan dengan tegas bahwa dia telah mendengarnya dari Anas, sehingga menjadi batallah ‘illat-nya yang disebutkan oleh al-Hakim tentangnya.

Kemudian dalam perkataan al-Hakim terdapat kritikan lainnya :

a)      Pertama, sesungguhnya Muslim belum berhujjah dengan Abdul Aziz ini, tetapi dia meriwayatkan haditsnya dengan terkait bersama riwayat lainnya – sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh dalam at-Tahdziib. Al-Hafizh dalam at-Taqriib berkata, “Dia shaduq (jujur) tetapi sering salah.” Hanya saja, dia telah diikuti dengan penguatan oleh Abdur Razzaq pada ad-Daruquthni dan al-Baihaqi.

b)      Kedua, sesungguhnya Abdullah bin Utsman ini tidak disepakati atas hukum ber-hujjah dengannya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh pernyataan al-Hakim sendiri. Sedangkan al-Bukhari meriwayatkan darinya dalam bentuk hadits yang menggantung (ta’liq) dan dia diperselisihkan oleh ulama tentang dirinya, walaupun Muslim telah ber-hujjah dengannya. Dia dikatakan tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Ma’in, dan an-Nasa’i dalam satu riwayat, sedangkan dalam riwayat lain, dia berkata,”Dia tidak kuat (haditsnya).” Telah diriwayatkan dari Ibnu Ma’in, komentar yang semisal dengan itu. Ibnu Adi berkata, “Hadits-haditsnya adalah hasan.

Syaikh al-Albani mengomentari,”Yang benar, bahwa  dia adalah tsiqah dan menjadi hujjah.  Haditsnya paling kurang hasan dan bisa dijadikan hujjah, kecuali bila ia menentang hadits yang lebih kuat darinya dalam derajat hadits. Faktanya terjadi demikian dalam masalah ini. Oleh karena, kami telah menjelaskan bahwa sekelompok perawi telah meriwayatkan dari kelompok perawi juga dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw membaca basmalah dengan suara sirr (pelan).”

Dengan demikian, bagaimana mungkin Anas bin Malik meriwayatkan hadits seperti hadits Mu’awiyah ini sebagai hujjah dan dalil, padahal ia bertentangan dengan hadits-hadits yang diriwayatkannya dari Rasulullah saw dan para Khulafaur Rasyidin? Dan tidak pernah diketahui dari seorangpun diantara teman-teman Anas yang terkenal dan telah bergaul dengannya, yang telah menukilkan dari Anas seperti riwayat hadits Mu’awiyah tersebut.

Inilah salah satu pertimbangan yang membuat para peneliti mengatakan dhaif (lemah) atas hadits Ibnu Khaitsam ini dari Anas bin Malik.

Pertimbangan kedua, bahwa periwayatannya tidak konsisten baik secara sanad ataupun matan. Dari sisi sanad, kadangkala diriwayatkan dari Abu Bakar bin Hafsh bin Umar dari Anas bin Malik, sebagaimana telah disebutkan.Dan kadangkala diriwayatkan dari Isma’il bin Ubaid bin Rifa’ah dari ayahnya, dari Mu’awiyah.

Riwayat ini diriwayatkan oleh asy-Syafi’i (halaman 1/93-94) dan dari jalurnya, diriwayatkan oleh al-Baihaqi (halaman 2/49-50) dari Ibrahim bin Muhammad al-Aslami dan Yahya bin Sulaim, keduanya dari Ibnu Khutsaim dari Isma’il dengannya. Kadangkala dia berkata, “Dari Isma’il bin Ubaid bin Rifa’ah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Mu’awiyah. Demikian pula diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (halaman 117) dari Isma’il bin Ayyasy, dari Ibnu Khutsaim dengannya.”

Kemudian mereka berselisih dalam melakukan tarjih (menimbang mana yang lebih kuat) dari perawi-perawi tersebut. Kemudian al-Baihaqi memilih riwayat yang pertama yang lebih kuat seperti disebutkan dalam al-Ma’rifah, karena ketinggian derajat perawinya yaitu Ibnu Juraij. Al-Baihaqi dalam as-Sunan berkata, “Kemungkinan telah terjadi bahwa Ibnu Khaitsam telah mendengar dari keduanya (Anas dan Mu’awiyah). Wallahu a’lam.”

Sedangkan asy-Syafi’i lebih condong menguatkan riwayat kedua, karena kedua perawinya sepakat atasnya. Namun, kedua perawi itu dikritik, kritikan terhadap al-Aslami adalah kondisinya telah terungkap. Sedangkan Yahya bin Sulaim dikatakan oleh al-Baihaqi, banyak salah dan hafalannya buruk.

Ibnut Turkumani berkata, “Dengan demikian, menjadi jelaslah hadits Ibnu Juraij lebih lebih terjaga sanadnya, karena ia lebih tinggi kedudukannya daripada keduanya, dan lebih kuat daya hafalnya daripada keduanya, tanpa diragukan.”

Syaikh al-Albani mengomentari,”Sedangkan riwayat yang ketiga; maka ia diriwayatkan oleh Ibnu Ayyasy sendirian, dan dia adalah dha’if  menurut  para ahli hadits dari Hijaz, dan riwayat ini salah satu kelemahannya.”

Sedangkan perkara tidak konsisten (idhthirab) dalam matan, adalah kadangkala dia berkata (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Dia shalat, kemudian dia memulai dengan,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”’ untuk Ummul Qur’an dan tidak membacanya ketika membaca surah setelahnya, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Juraij yang terdapat pada asy-Syafi’i.

Kadangkala dia berkata (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Kemudian dia tidak membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,” ketika mulai membaca Al-Qur’an, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Ayyasy.

Dan kadangkala dia berkata (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Kemudian dia tidak membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,”’ untuk Ummul Qur’an dan tidak membacanya ketika membaca surah setelahnya, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Juraij yang terdapat pada ad-Daruquthni.

Az-Zaila’I (halaman 1/354) berkata,”Riwayat yang tidak konsisten seperti ini dalam sanad dan matan, adalah factor yang melemahkan hadits ini, karena sesungguhnya hal itu mengisyaratkan hadits ini tidak diriwayatkan dengan cermat.

c)      Pertimbangan yang ketiga, bahwa ketika Mu’awiyah datang ke Madinah, Anas telah menetap di Bashrah, dan tidak disebutkan oleh seorang pun yang kami ketahui bahwa dia bersama Mu’awiyah saat itu, bahkan nyata sekali bahwa dia tidak bersama Mu’awiyah saat itu.

d)      Pertimbangan ke empat, bahwa madzhab penduduk Madinah – sejak dulu hingga sekarang – adalah tidak membaca basmalah dengan suara keras, dan bahkan ada di antara mereka yang bermadzhab tidak membacanya sama sekali. Urwah ibnuz Zubair salah seorang ahli fiqih Madinah yang tujuh, berkata,”Aku telah berjumpa dengan para imam, dan mereka tidak ada satu pun yang membuka bacaan, melainkan dengan membaca, (ayat dalam bahasa Indonesia) adalah: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.’” (al-Faatihah:2)  

Abdurrahman al-A’raj berkata,”Aku telah berjumpa dengan para imam, dan mereka tidak satu pun yang membuka bacaan, melainkan dengan membaca, (ayat dalam bahasa Indonesia) adalah, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”’ (al-Faatihah:2)

Tidak disebutkan dari seorang pun di antara ulama ahli Madinah dengan sanad yang shahih bahwa dia telah membaca basmalah dengan jahrkecuali sedikit, dan ia masih multiinterpretasi. Sementara, membaca basmalah dengan sirr adalah amal yang diwarisi turun-temurun dari generasi awal mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa mengingkari Mu’awiyah yang sama bacaannya dengan mareka? Ini adalah sesuatu yang batil.

e)      Pertimbangan kelima, sesungguhnya bila Mu’awiyah mengoreksi dirinya dengan membaca basmalah dengan jahr, sebagaimana mereka menukilkannya, perkara ini pasti juga diketahui oleh penduduk Syam (Syria dan sekitarnya) yang ikut bersama dengan Mu’awiyah (berkunjung ke Madinah,penj.), tetapi riwayat seperti itu tidak dinukilkan oleh seorang pun di antara mereka dari Mu’awiyah. Bahkan, orang-orang Syam sendiri semuanya, baik para khalifahnya ataupun para ulamanya, mereka bermadzhab tidak membaca basmalah dengan jahr.

Riwayat yang menyatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz membaca basmalah dengan jahr,adalah riwayat yang batil dan tidak punya sumber sama sekali. Sedangkan al-Awza’i – imam negeri Syam – madzhabnya adalah madzhab Malik dalam perkara itu, yakni tidak membaca basmalah sama sekali baik dengan jahr ataupun sirr. Syaikh al-Islam dalam al-Fataawaa (halaman 1/85) berkata,”Dengan demikian, pertimbangan-pertimbangan seperti ini dan lain-lain yang semisal dengannya, bila direnungkan oleh seorang yang berilmu, pasti akan memastikan bahwa hadits Mu’awiyah ini batil, tidak ada sumbernya sama sekali, atau telah diubah dari aslinya.

Jika kondisi hadits ini seperti ini – sementara ia adalah hadits yang paling baik dari dalil-dalil sandaran madzhab membaca basmalah dengan jahr – sebagaimana dikatakan oleh al-Khathib al-Baghdadi seperti dinukilkan oleh Nashr al-Maqdisi darinya – maka dapat dibayangkan bagaimana kondisi hadits-hadits yang lainnya. Berikut ini penjelasan secara terinci.

Jalur Kedua, (matan hadits dalam bahasa Indonesia) adalah : “Kami diberitahukan hadits  oleh Muhammad ibnul Mutawakkil bin Abi Sarri, ia berkata,’Aku telah melaksanakan shalat  di belakang al-Mu’tamir bin Sulaiman beberapa shalat yang tidak dapat aku hitung lagi; Shubuh dan Maghrib. Dia membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr sebelum Fatihatul Kitab dan setelahnya. Dan aku mendengar al-Mu’tamir berkata,’Aku tidak melampaui batas dalam mengikuti shalat ayahku. Ayahku berkata,’Aku tidak memlampaui batas dalam mengikuti shalat Anas bin Malik.” Anas berkata,’Aku tidak melampaui batas dalam mengikuti shalat Rasulullah saw.””

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (halaman 116) dan al-Hakim (halaman 1/233-234) dan ia berkata,”Para perawinya hingga yang terakhir adalah perawi-perawi yang tsiqah dan disepakati oleh adz-Dzahabi dan hadits ini sebagaimana dikatakan oleh keduanya. Tetapi tidak serta-merta hadits ini menjadi shahih dan terbukti kuat. Oleh karena, hadits itu baru dikatakan shahih bila telah bebas dari syadz (riwayat yang menentang riwayat kebanyakan perawi hadits) dan ‘illat-nya (sebab tersembunyi dan samar yang melemahkan hadits) dan telah terbukti bahwa perawi-perawinya adalah kuat dan cermat (dhabth) dalam hafalannya. Dan semua itu tidak terbukti di sini, karena Muhammad ibnul Mutawakkil bin Abis Sarri, dikritik dari sisi hafalannya. Al-Hafizh dalam at-Taqriib berkata, shaduq (jujur) tetapi dia memiliki banyak kesalahan dan dugaan keliru.”

Hadits ini adalah salah satu bentuk dugaannya yang keliru, berdasarkan dalil dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Mukhtashar-nya dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah :”Kami diberitahukan hadits oleh Muhammmad ibnul Mutawakkil bin Abis Sarri dari Mu’tamir bin Sulaiman, dari bapaknya, dari al-Hasan dari Anas, ia berkata, bahwa Rasulullah saw membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.’ Dengan sirr (suara pelan) di dalam shalat, dan demikian pula Abu Bakar dan Umar r.a..”’

Demikian pula dalam perawi-perawi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang tsiqah dari  Anas, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dengan demikian, riwayat-riwayat yang menentang hadits-hadits mereka, pastilah salah – tanpa diragukan. Dan sebagian ulama hadits telah berpendapat bahwa telah digugurkan dari matan hadits sebelumnya, kata “laa” (tidak) (sehingga kalimatnya menjadi tidak membaca basmalah dengan jahr / suara keras, penj).

Kalau riwayatnya benar demikian, maka ia saat itu telah sesuai dengan riwayat perawi-perawi yang tsiqah.

Hadits ini juga memiliki jalur-jalur lain dari Anas tetapi ia dhaif, dan tidak ada seorang pun yang mengatakannya shahih.

Hadits kedua, dari Ibnu Abbas, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Sesungguhnya Rasulullah saw membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr (suara keras).”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim (halaman 1/208) dari jalur Abdullah bin Amru bin Hassan,”Kami diberitahukan hadits oleh Syarik, dari Salim, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas.” Al-Hakim berkata,”Shahih dan ia tidak memiliki ‘illat-nya (sebab tersembunyi dan samar yang melemahkan hadits).” Adz-Dzahabi berkata,”Demikianlah yang dikatakan oleh pengarang. Dan Ibnu Hassan ini telah didustakan oleh lebih dari satu orang, dan hal yang seperti seharusnya tidak tersamarkan dari pengarangnya.”

Al-Hafizh dalam at-Talkiish (halaman 3/323),”Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim, namun  sesungguhnya dia salah dalam hal itu, disebabkan fakta bahwa Abdullah telah dinisbatkan oleh Ibnul Madini sebagai orang yang memalsukan hadits dan ia telah dicuri oleh Abush Shalt al-Harawi – dan dia matruk (haditsnya ditinggalkan dan diabaikan); kemudian dia meriwayatkannya dari Abbad ibnul Awwam dari Syarik.”

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (halaman 114). Dalam ad-Diraayah (halaman 73) dikatakan,”Hadits asalnya adalah mursal (terputus sanadnya tidak sampai kepada Rasulullah saw) dengan sanad yang perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ishaq, dari Yahya bin Adam, dari Syarik, dari Salim al-Afthas, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca bacaan,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr. Beliau memanjangkan suaranya, sementara orang-orang musyrik memperolok-olokkannya. Maka turunlah ayat (dalam bahasa Indonesia) adalah,….’dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalat …..”’ (al-Israa’:110)

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan ath-Thabrani di dalam al-Awsath dari jalur, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Kami diberitakan hadits oleh Yahya bin Thalhah al-Yarbu’i, dari Abbad ibnul Awwam, dari Syarik secara maushul ( sanadnya tersambung) dengan lafazh,’Sesungguhnya Rasulullah saw bila membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ orang-orang musyrik memperolok-olokkannya. Mereka berkata,’Muhammad menyebut tuhan penduduk Yamamah.”’ Inilah sumber hadits ini, dan menjadi jelaslah bahwa telah terjadi peringkasan di dalamnya. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalur, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Kami diberitahukan hadits oleh Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. tentang turunnya ayat berikut ini, (dalam bahasa Indonesia) adalah,’…..dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”’  (al-Israa’:110) Dia berkata,”Ayat ini turun ketika Rasulullah saw sedang berdakwah sembunyi-sembunyi di Mekah. Namun, ketika Rasulullah saw menunaikan shalat bersama para shahabatnya, beliau mengeraskan suaranya dengan bacaan Al-Qur’an. Ketika orang-orang musyrik mendengarnya, mereka memperolok-olokkan Al-Qur’an, dan Allah SWT yang menurunkannya dan malaikat Jibril yang menyampaikannya. Maka, Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya,’…..’ inilah sumber hadits tersebut.  Di antara factor yang menunjukkan tentang dhaif (lemah)-nya hadits ini dari Ibnu Abbas adalah riwayat yang terbukti shahih darinya bahwa dia berkata, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah: ‘Sesungguhnya membaca bacaan,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr adalah perbuatan dari orang-orang Arab badui.”’  Hadits ini diriwayatkan ole hath-Thahawi (halaman 1/120) dari Ashim dan Abdul Malik bin Abi Bisyr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad sebagaimana disebutkan dalam Nashbur Raayah (halaman 1/347) dari Sufyan dari Abdul Malik sendirian. Ini adalah sanad shahih. Dia berkata,”Yang menguatkan riwayat ini adalah hadits  yang diriwayatkan oleh al-Atsram dengan sanad yang terbukti shahih dari Ikrimah – murid Ibnu Abbas – bahwa dia pernah berkata, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,’Aku adalah termasuk Arab badui bila membaca bacaan,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr.”’ Tampaknya dia mengambil hadits tersebut dari syaikhnya, yaitu Abdullah bin Abbas.

Hadits ketiga, dari Ali dan Ammar, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Kami diberitahukan hadits oleh Sa’id bin Utsman al-Kharraz,’Kami diberitahukan hadits oleh Abdurrahman bin Sa’id al-Muadzdzin,’Kami diberitahukan hadits oleh Fithr bin Khalifah, dari Abuth Thufail , dari Ali dan Ammar yang berkata, ‘Sesungguhnya Nabi saw membaca bacaan dalam shalat-shalat fardhu,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr.”’ Dia berkata,”Sanadnya shahih dan aku tidak mengetahui ada orang yang menisbatkan kritikan dan celaan dalam sanadnya.”  Kemudian adz-Dzahabi mengomentarinya, dengan berkata,”Sesungguhnya ia adalah hadits yang lemah, bahkan sepertinya ia adalah hadits palsu, karena Abdurrahman adalah pelaku banyak perbuatan mungkar. Dan Sa’id bila dia adalah al-Kuraizi, maka dia adalah perawi dhaif (lemah), dan kalau tidak, berarti dia adalah perawi majhul (tidak dikenal).”

Oleh karena itu, al-Hafizh dalam ad-Diraayah (halaman 71) berkata,”Sanadnya adalah dhaif (lemah).” Dan dari al-Hakim, hadits ini diriwayatkan dan al-Baihaqi dalam al-Ma’rifah dengan sanad dan matan-nya dan dia berkata,”Sanadnya adalah dhaif (lemah).

Syaikh al-Albani mengomentari, “Hadits-hadits yang tiga ini, adalah tiga hadits yang paling benar dan paling tegas dalam masalah membaca basmalah dengan jahr (suara keras).” Telah menjadi jelas bahwa hadits itu semua adalah dhaif (lemah), kecuali hadits Anas dalam beberapa jalur. Namun, di dalamnya tidak disebutkan bahwa Rasulullah saw membaca basmalah dengan jahr (suara keras) di dalam shalat.

Oleh karena itu, Ibnul Qayyim dalam az-Zaad (halaman 1/73) berkata, “Sesungguhnya hanya kadangkala Rasulullah saw membaca bacaan, ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr. Beliau membacanya dengan suara tersembunyi lebih banyak daripada membacanya dengan suara keras. Dan tidak diragukan bahwa Rasulullah saw tidak pernah membaca basmalah dengan jahr secara terus-menerus pada setiap hari, siang dan malam, lima kali, sama sekali tidak pernah demikian, baik ketika bermukim atau di dalam perjalanan. Kalau demikian adanya, bagaimana mungkin hal itu tersamarkan atas para Khulafaur Rasyidin, dan jumhur para sahabatnya dan penduduk negeri yang fadhilah (Mekah dan Madinah) dalam generasi-generasi yang istimewa. Ini adalah perkara yang paling mustahil hingga harus membutuhkan bukti-bukti untuk menetapkannya, dengan lafazh-lafazh yang global dan dengan hadits-hadits yang dhaif (lemah).

Sedangkan hadits-hadits yang shahih darinya adalah tidak secara tegas menyatakan perkara membaca basmalah dengan jahr (suara keras). Sementara, hadits yang menyatakannya dengan tegas adalah hadits-hadits yang tidak shahih.”

Syaikh al-Albani mengomentari,”Penggalan akhir dari pernyataan bertentangan dengan penggalan awalnya, karena bila Ibnul Qayyim memandang bahwa – padahal hal itu adalah yang benar – tidak shahih hadits yang menyatakan tentang membaca basmalah dengan jahr, bagaimana dia bisa memastikan bahwa Rasulullah saw kadangkala membaca basmalah dengan jahr sekali-sekali?

Sesungguhnya Syaikh Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah lebih detail lagi ungkapannya dalam masalah ini, di mana dia dalam al-Fataawaa (halaman 1/79) berkenaan dengan masalah ini, berkata,’Bisa jadi Rasulullah saw kadangkala membaca basmalah dengan jahr,atau bisa jadi Rasulullah saw membaca basmalah dengan jahr, pada waktu dulu, kemudian beliau meninggalkannya. Dia berkata, ‘Jadi semua itu mungkin terjadi.””

Dengan demikian, dia tidak memastikan hal itu, tetapi dia menyebutkan kemungkinannya, sehingga bahasan menjadi melebar. Maka yang benar, adalah madzhab jumhur bahwa sunnahnya adalah membaca basmalah dengan suara sirr (pelan).

C. KADANGKALA DISYARIATKAN UNTUK MEMBACA BASMALAH DENGAN JAHR.

Walaupun demikian, yang benar bagi orang yang tidak membaca basmalah dengan jahr, kadangkala disyariatkan untuk membaca basmalah dengan jahr, demi merealisasikan maslahat yang lebih utama dan kuat. Maka, disyariatkan bagi imam untuk membacanya dengan jahr, seperti ketika mengajarkannya kepada para makmum. Dan kadangkala dibolehkan bagi sebagian makmum untuk membaca beberapa kalimat singkat dengan suara keras, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Ibnu Amru dan Anas bin Malik, yang telah disebutkan dalam bahasan Doa Iftitah nomor 7 dan 8 (halaman 152 s/d 154). Oleh karena, di sana Rasulullah saw tidak mengingkari kedua orang tersebut yang telah membaca doa iftitah dengan suara keras. Demikian pula Umar telah membacanya dengan suara keras, untuk mengajarkan orang-orang, sebagaimana telah dijelaskan juga di sana.

Syaikhul Islam (halaman 1/87) berkata,”Dibolehkan juga bagi orang untuk meninggalkan perkara yang lebih afdhal demi menarik hati orang-orang, menyatukannya, dan menghimpun misi bersama, atau karena khawatir terjadi perpecahan dan manusia menjauh dari maslahat. Hal itu disyariatkan sebagaimana Nabi Muhammad saw telah meninggalkan pembangunan Ka’bah seperti fondasi yang diletakkan oleh Ibrahim a.s., karena kaumnya masih baru meninggalkan masa jahiliyah, dan Rasulullah saw khawatir mereka akan menjauh karena itu.

Rasulullah saw memandang bahwa maslahat persatuan dan penautan hati lebih utama daripada pembangunan Ka’bah, seperti fondasi yang diletakkan oleh Ibrahim a.s.. Ibnu Mas’ud setelah ikut menyempurnakan shalat (yang sebetulnya diqashar menjadi dua rakaat) di belakang Utsman dan dia mengingkari Utsman karena shalat empat rakaat, ditanyakan kepadanya,’Mengapa engkau lakukan hal itu?’ Dia menjawab,’Perselisihan itu buruk.’ Oleh karena itu, para imam seperti Ahmad dan lain-lain berkenaan dengan basmalah, dalam menyambung shalat witir, dan masalah-masalah lain menyebutkan dengan teksnya, bahwa boleh beralih dari sesuatu yang afdhal kepada perkara yang dibolehkan dan kurang afdhal, untuk menautkan hati, memperkenalkan sunnah, atau maksud-maksud seperti itu. Wallahu a’lam.

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 09-12-2011.

AGAMA ISLAM DIRIDHAI ALLAH SWT DAN NASH / DALIL / PEDOMAN PENGAMALANNYA.

AGAMA ISLAM DIRIDHAI ALLAH SWT DAN NASH / DALIL / PEDOMAN PENGAMALANNYA.

I.  DALIL/NASH PERLUNYA TAAT KEPADA ALLAH SWT DAN RASUL-NYA SAW.

Sesuai dengan ayat – ayat dalam bahasa Indonesia, sebagai berikut :

  1. WAJIB TAAT KEPADA ALLAH SWT DAN RASUL-NYA SAW.

1)  Surat An-Nisa’ / 4 : 59, yaitu,”Hai orang-orang yang beriman, taatilah kamu sekalian kepada Allah dan taatilah kamu sekalian kepada Rasul dan kepada orang-orang yang berkuasa di antara kamu sekalian. Maka jikalau kamu sekalian berbantahan dalam satu perkara, hendaklah kamu sekalian mengembalikannya kepada Allah dan Rasul, jika kamu sekalian beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang sedemikian itu, sebaik-baik dan itu sebagus-bagus keputusan.”

2)  Surat Al-Anfal / 8 :20, yaitu,”Hai orang-orang yang beriman taatlah kamu sekalian kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, dan jangan kamu sekalian berpaling dari pada-Nya, padahal kamu sekalian mendengar (perintah-perintah-Nya).”

3)  Surat Muhammad / 47:33, yaitu,”Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu sekalian kepada Allah dan taatilah kamu sekalian kepada  Rasul, dan janganlah kamu sekalian merusakkan amal-amal baik.”

4)  Surat Ali Imran / 3 :32, yaitu,”Katakanlah olehmu (Muhammad) :’Taatlah kamu sekalian kepada Allah dan kepada Rasul; maka jika kamu sekalian berpaling, sesungguhnya Allah tidak akan suka kepada orang-orang yang kafir.”’

5)  Surat An-Nur / 24 : 54, yaitu,”Katakanlah (Muhammad) : ‘Taatlah kamu sekalian kepada Allah dan taatlah kamu sekalian kepada Rasul; jika kamu seakalian berpaling, maka bahwasanya atasnya (Rasul) itu apa-apa yang dipikul dan atas kamu sekalian apa-apa yang dipikul; dan jika kamu sekalian mentaatinya, pasti kamu sekalian mendapat petunjuk. Dan tidaklah atas Rasul itu melainkan menyampaikan pesan yang nyata.”’

6)  Surat Al-Anfal / 8 : 1, yaitu,”…..Dan taatlah kamu sekalian kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, jika kamu orang-orang yang ber-iman.”

7)  Surat Al-Mujadilah / 58 : 13, yaitu,”…..Dan taatlah kamu sekalian kepada Allah dan kepada Rasul-Nya dan Allah mengetahui apa-apa yang kamu sekalian kerjakan.”

8)  Surat An-Anfal / 8 : 46, yaitu,”Dan taatlah kamu sekalian kepada Allah dan kepada Rasul-Nya dan jangan kamu sekalian berbantah-bantahan nanti kamu sekalian lemah dan hilang kekuatan kamu sekalian. Dan bersabarlah kamu sekalian, bahwa Allah itu bersama orang-orang yang sabar.”

9)  Surat Al-Maidah / 5 : 92, yaitu,”Dan taatlah kamu sekalian kepada Allah dan taatlah kamu sekalian kepada Rasul; dan hati-hatilah kamu sekalian, karena jika kamu sekalian berpaling, maka ketahuilah olehmu (sekalian), sesungguhnya tidak ada kewajiban atas Rasul Kami, melainkan menyampaikan pesan yang terang/nyata.”

  1. TAAT KEPADA RASUL SAW BERARTI TAAT KEPADA ALLAH SWT.

10)  Surat Ali-Imran / 3 : 31, yaitu,”Katakanlah (Muhammad) : ‘Jika kamu sekalian cinta kepada Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah cinta kepada kamu sekalian, dan mengampuni dosa-dosa kamu sekalian; dan Allah itu Pengampun, Penyauang.”’

11)  Surat An-Nisa / 4 : 64, yaitu,”Dan Kami (Allah) tidak mengutus seorangpun dari Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah ……..”

12)  Surat An-Nisa’ / 4 : 80, yaitu,”Barangsiapa mentaati Rasul itu, maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah; tetapi barangsiapa berpaling, maka Kami tidak mengutus engkau untuk mengawasi mereka.”

13)  Surat Al-Ahzab / 33 : 21, yaitu,”Sesungguhnya Rasulullah (Muhammad) itu, adalah ikutan yang baik bagi kamu sekalian, yaitu bagi siapa-siapa yang mengharapkan ganjaran Allah dan balasan Hari Kemudian, dan senantiasa dia mengingat Allah.”

14)  Surat Al-Hasyr / 59 : 7, yaitu, “……Dan apa-apa yang diberikan Rasul (Muhammad) kepada kamu sekalian, maka hendaklah kamu sekalian mengambilnya, dan apa-apa yang dilarang, kamu sekalian mengerjakannya, maka hendaklah kamu sekalian menjauhinya, dan takutlah kamu kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu sangat keras siksa-Nya.”

II. ALLAH  SWT TA’ALA MENUNJUK NABI SAW UNTUK MENERANGKAN AL-QUR’AN.

Sebagaimana yang telah diterangkan dalam Surat An-Nahl / 16 : 44 (yang dalam bahasa Indonesianya) bahwa, “(Mereka Kami utus) dengan membawa keterangan – keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Az-Zikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau (Muhammad)  menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (yakni perintah, larangan, aturan, dan lain-lain yang terdapat dalam Al-Qur’an) dan agar mereka memikirkan.”

III. AGAMA YANG DIRIDHAI OLEH ALLAH SWT ADALAH ISLAM.

Seperti yang telah dijelaskan dalam Surat Al-Maa-idah / 5 :3 yang dalam bahasa Indonesianya adalah :”…….pada hari ini telah Ku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu ……”

IV. MENGADA-ADA URUSAN AGAMA.

  1. Di akhir umat Rasul saw terdapat sejumlah orang yang mengada-ada Urusan Agama.

Seperti sabda Nabi saw yang dalam bahasa Indonesianya adalah:”Akan ada di akhir umatku sejumlah orang yang mengada-ada kepada kamu sekalian apa yang belum pernah kamu sekalian dengar dan belum (pernah didengar juga) oleh bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu hati-hatilah kamu sekalian terhadap mereka.” [(Shahih : Diriwayatkan oleh Muslim (no.6)].

  1. Barang siapa yang mengada-ada Urusan Agama, maka ia tertolak.

Seperti sabda Nabi saw yang dalam bahasa Indonesianya adalah :”Barangsiapa yang mengada-ada dalam Urusan (Agama) kami ini apa yang bukan termasuk darinya, maka ia tertolak.” [(Shahih : Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no.2697), Muslim (no.1718 (17)). Lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib (no.49), karya Syaikh al-Albani].

  1. Beramal dalam Urusan Agama tanpa didasari perintah Rasul saw, tertolak.

Seperti sabda Nabi saw yang dalam bahasa Indonesianya adalah:”Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka ia tertolak.” [Shahih:Diriwayatkan oleh Muslim (no.1718 (18)). Lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib (no.49), karya Syaikh al-Albani Rahimallah].

  1. Suatu perkara yang diada-adakan dalam agama adalah bid’ah dan bid’ah adalah sesat.

Seperti sabda Nabi saw yang dalam bahasa Indonesianya adalah:”Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Shahih:Diriwayatkan oleh Muslim (no.867(43)). Lihat Shahih at-Targhiib wat Tarhiib (no.50), karya Syaikh al-Albani Rahimahullah].

V.  BAGAIMANA KONDISI YANG MENENTANG/MENYELISIHI RASUL SAW DAN TIDAK MENGIKUTI MANHAJ/ATSAR/CARA BERAGAMANYA  SHAHABAT

  1. Seperti tersebut pada QS 4 / An-Nisa’ : 115, yang dalam bahasa Indonesianya adalah :”Dan siapa yang mentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.”
  1. Kewajiban mengikuti cara beragamanya para Shahabat, (Diambil dari Buku Jilid 2 “Al-Masaa-il”  oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat – Halaman 240 s/d 246) yaitu :

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di Muqaddimah kitabnya Naqdhul Mantiq telah menafsirkan ayat tersebut butir V.1. di atas (Surat An-Nisa’/4 : 115) khususnya “Jalannya orang-orang Mu’min” mereka adalah para Shahabat. Maksudnya bahwa Allah SWT telah menegaskan barangsiapa yang memusuhi atau menentang Rasul saw dan mengikuti selain jalannya para Shahabat sesudah nyata baginya kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw dan dida’wahkan serta diamalkan oleh beliau saw bersama para Shahabat, maka Allah SWT akan menyesatkannya (mereka) kemana dia (mereka) tersesat (yakni dia/mereka terombang-ambing di dalam kesesatan).

Jika dikatakan,”Kenapa sabilil mu’minin’ atau jalannya orang-orang mu’min di ayat tersebut butir V.1. di atas di tafsirkan dengan para Shahabat (?) bukan umumnya orang-orang mu’min ?”

Dijawab oleh Penyusun (Abdul Hakim bin Amir Abdat) berdasarkan istinbath dari ayat tersebut butir V.1. di atas adalah :

1)  Ketika turunnya ayat yang mulia tersebut tidak ada orang mu’min di permukaan bumi ini selain dari para Shahabat.

2)  Mafhum-nya, bahwa orang-orang mu’min yang sesudah mereka dapat masuk ke dalam ayat yang mulia tersebut dengan syarat mereka mengikuti jalannya orang-orang mu’min yang pertama yaitu para Shahabat.

3)  Kalau orang-orang mu’min di ayat yang mulia tersebut ditafsirkan secara umum, maka jalannya orang-orang mu’min yang manakah ? Apakah mu’minnya khawarij atau syiah/rafidhah atau mu’tazilah atau murji’ah atau jahmiyyah atau falasifah atau sufiyyah atau ……?

4)  Perjalanan orang-orang mu’min yang paling jelas arahnya, ‘aqidah dan manhajnya hanyalah perjalanan para Shahabat.

5)  Perjalanan orang-orang mu’min yang paling alim terhadap Agama Allah SWT yaitu al-Islam hanyalah para Shahabat. Allah ‘Azza wa Jalla telah menegaskan di dalam Al-Qur’an bahwa mereka adalah orang-orang yang telah diberi ilmu, yaitu sebagaimana Surat Muhammad/47 :16 yang bahasa Indonesianya adalah:”…..mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (Shahabat-Shahabat Nabi saw), ‘Apakah yang dikatakannya tadi?’…….”’

6)  Perjalanan orang-orang mu’min yang paling taqwa kepada Allah secara umum hanyalah para Shahabat.

7)  Perjalanan orang-orang mu’min yang paling taslim (menyerahkan diri) kepada Allah SWT dan Rasul-Nya saw secara umum hanyalah para Shahabat.

8)  Perjalanan orang-orang mu’min yang menjadi hujjah ijma’ (kesepakatan) mereka dan menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah al-Qur’an dan as-Sunnah hanyalah ijma’ para Shahabat (cara beragamanya para Shahabat).

9)  Perjalanan orang-orang mu’min yang tidak pernah berselisih di dalam aqidah dan manhaj hanyalah perjalanan para Shahabat bersama orang-orang yang mengikuti mereka dari tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan seterusnya.

10)  Para Shahabat adalah sebaik umat ini dan pemimpin mereka. (Bacalah : I’laamul Muwaqqi’in juz 1 hal 14 oleh imam Ibnul Qayyim).

11)  Para Shahabat adalah ulama dan muftinya umat ini. (idem).

12)  Para Shahabat adalah orang-orang yang pertama-tama beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya saw. Oleh karena itu Allah memerintahkan manusia untuk mengikuti keimanan mereka, seperti tersebut pada Surat Al-Baqarah / 2 : 13 yang bahasa Indonesianya adalah,”…….Berimanlah kamu sekalian sebagaimana orang lain telah beriman (Para Shahabat)! ……..”

13)  Para Shahabat telah dipuji dan dimuliakan olah Allah di banyak tempat di dalam kitab-Nya yang mulia.

14)  Bahwa perjalanan para Shahabat telah mendapat keridhaan Allah dan merekapun ridha kepada Allah, sebagaimana Surat at-Taubah/9 : 100 yang dalam bahasa Indonesianya adalah :”Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

15)  Perjalanan para Shahabat menjadi dasar, bahwa Allah akan meridhai perjalanannya orang-orang mu’min dengan syarat mereka mengikuti “jalannya orang-orang mu’min yang pertama yaitu para Shahabat.” Mafhum-nya, bahwa Allah tidak akan meridhai mereka yang tidak mengikuti perjalanannya al-Muhajirin dan al-Anshar. (Surat at-Taubah/9 :100 tersebut di atas).

16)  Sebaik-baik Shahabat para Nabi dan Rasul ialah Shahabat-Shahabat Rasulullah saw.

17)  Tidak ada yang marah dan membenci para Shahabat kecuali orang-orang kafir (Tafsir Ibnu Katsir pada Surat al-Fath / 48 : 29).

18)  Dan tidak ada yang membodohi para Shahabat kecuali orang-orang munafik {(Surat al-Baqarah / 2 : 13 yang dalam bahasa Indonesianya adalah,”…..Mereka (orang-orang munafik) menjawab,’Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal / bodoh (para Shahabat) itu beriman? …….”’)}.

19)  Rasulullah saw telah bersabda yang dalam bahasa Indonesianya adalah,”Sebaik-baik manusia yang hidup di zamanku, kemudian yang sesudah mereka, kemudian yang sesudah mereka.” (Hadits Shahih mutawatir di keluarkan oleh Bukhari dan Muslim dll.). Catatan : a.Generasi pertama para Shahabat; b.Generasi kedua tabi’in; c.Generasi ketiga tabi’ut – tabi’in; Ketiga generasi ini dinamakan dengan nama Salafush Shalih (generasi pendahulu yang Shalih); d.Sedangkan orang-orang yang mengikuti mereka dinamakan Salafiyyun dari zaman ke zaman samapai hari ini.

20)  Rasulullah saw telah bersabda pada waktu hajjatul wada’ (haji perpisahan),”Hendaklah orang yang hadir di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim dari jalan beberapa orang Shahabat). Hadits yang mulia ini meskipun bersifat umum tentang perintah tablig dan da’wah akan tetapi para Shahabatlah yang pertama kali diperintah oleh Rasulullah saw untuk bertablig dan berda’wah. Dari hadits yang mulia ini memberikan pelajaran yang sangat tinggi kepada kita di antaranya; Bahwa :

a)  Para Shahabat adalah orang-orang mu’min yang pertama kali berda’wah.

b)  Da’wah mereka adalah hak (benar) dan lurus di bawah bimbingan Nabi saw.

c)  Mereka adalah orang-orang kepercayaan Rasulullah saw. Kalau tidak, tentu   Rasulullah saw tidak akan memerintahkan mereka untuk menyampaikan dari beliau saw.

d)  Mereka kaum yang benar lawan dari dusta, yang amanat lawan khianat.

e)  Mereka telah di ta’dil oleh Rabb meraka Allah ‘Azza wa Jalla dan Nabi mereka.

f)  Wajib bagi kita kaum muslimin mengikuti cara berda’wahnya para Shahabat, bagaimana dan apa yang mereka da’wahkan dan seterusnya.

21)  Rasulullah telah bersabda,”Janganlah kamu mencaci-maki Shahabat-Shahabatku! Kalau sekiranya salah seorang dari kamu menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan mencapai derajat mereka satu mudpun atau setengah mud.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim). 1 mud = 2 telapak tangan orang dewasa.

22)  Para Shahabat secara umum telah dijanjikan Jannah (Surga). (Surat at-Taubah / 9 :100 dan Surat al-Hadid / 57 :10).

23)  Secara khusus sebagian Shahabat telah diberi khabar gembira oleh Nabi saw sebagai penghuni Surga, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dll.

24)  Para Shahabat telah berhasil menguasai dunia membenarkan janji Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia. (Tafsir Ibnu Katsir Surat An-Nur / 24 : 55).

25)  Perjalanan orang-orang mu’min yang paling kuat ukhuwwah Islamiyyahnya ialah para Shahabat berdasarkan nash al-Qur’an dan as-Sunnah serta tarikh.

26)  Di dalam ayat yang mulia tersebut di atas terdapat hikmah yang dalam, ketika Allah mengkaitkan dengan “Dan dia mengikuti selain jalannya orang-orang mu’min yaitu para Shahabat.” Dari sini kita mengetahui, bahwa di dalam berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, harus ada jalan atau cara di dalam memahami keduanya. Jalan atau cara itu adalah “jalannya orang-orang mu’min yaitu para Shahabat.” Jadi urutan dalilnya adalah sebagai berikut : al-Qur’an – as-Sunnah. Keduanya menurut pemahaman para Shahabat atau cara beragamanya mereka, ‘’aqidah dan manhaj.’” (Dikutip dari kitab besar penulis yaitu :’Menanti Buah Hati dan Hadiah untuk yang Dinanti).

VI.   SIMPULAN.

Berdasarkan penjelasan tersebut pada butir I s/d V di atas dapat diambil simpulan sebagai berikut :

  1. Orang-orang yang beriman wajib taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya saw serta taat kepada Rasul saw berarti taat kepada Allah SWT. Bila timbul berbantahan/perbedaan pendapat dalam satu perkara, hendaklah mengembalikannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya saw.
  2. Allah SWT menunjuk Nabi saw untuk menerangkan (menafsirkan) al-Qur’an.
  3. Agama yang diridhai oleh Allah SWT adalah Agama Islam yang telah disempurnakan oleh Allah SWT.
  4. Suatu perkara (urusan Agama) yang diada-adakan adalah bid’ah, kebid’ahan adalah kesesatan, kesesatan adalah masuk neraka.
  5. Siapa saja yang menentang/menyelisihi Rasul saw setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan bukan jalan orang-orang mukmin (para Shahabat), maka Allah SWT membiarkan ybs. dalam kesesatan yang telah dilakukannya dan Dia akan memasukkannya ke dalam nereka Jahannam.
  6. Sebagai pedoman bagi orang yang beriman dalam pengamalan ke-Islamannya (syariat Islamnya) adalah :

a)  Al-Qur’an.

b)  As-Sunnah (termasuk al-Hadits) yang Shahih dari Rasulullah saw.

c)   Manhaj / ijma / atsar / cara beragamanya para Shahabat.

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin (semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT) yang membaca tulisan ini, kami ucapkan terima kasih. Jakarta 16-12-2011.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.