BENARKAH BANK KONVENSIONAL ITU RIBA ?

BENARKAH BANK KONVENSIONAL ITU RIBA ?

  1.  Pemahaman Riba Yang Dilakukan Orang-Orang Jahiliyyah.

1.      Berdasarkan Buku Al Qur’an dan Tafsirnya (Naskah asli Milik Departemen Agama RI) khususnya pada halaman 472 s/d 474 yaitu tafsir ayat 275 Surat Al-Baqarah/2, yaitu :

Ada dua macam riba yang terkenal, ialah : 1). Riba Nasi’ah dan 2). Riba Fadal.

Kami akan mengambil penjelasan Riba Nasi’ah, karena riba ini sangat erat hubungannya dengan riba yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah tempo dulu.

Pengertian Riba Nasi’ah, ialah tambahan (Riba) pembayaran hutang yang diberikan oleh pihak yang berhutang, karena adanya permintaan penangguhan pembayaran pihak yang berhutang (timbul saat masa pembayaran hutang). Tambahan pembayaran itu diminta oleh pihak yang berpiutang setiap kali yang berhutang meminta penangguhan pembayaran.

Lebih lanjut dibuatkan contoh sebagai berikut :

Si A berhutang kepada si B sebanyak Rp.1.000,– dan akan dikembalikan setelah habis masa sebulan. Setelah habis masa sebulan, A belum sanggup membayar hutangnya karena itu minta kepada si B agar bersedia menerima penangguhan pembayaran. B bersedia memberi tangguh asal A menambah pembayaran, sehingga menjadi Rp.1.300,– Tambahan pembayaran dengan penangguhan waktu serupa ini disebut Riba Nasi’ah.

Tambahan pembayaran ini mungkin berkali-kali dilakukan karena pihak yang berhutang selalu meminta penangguhan pembayaran, sehingga akhirnya A tidak sanggup lagi membayarnya, bahkan kadang-kadang dirinya sendiri, terpaksa dijual untuk membayar hutangnya itu. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah SWT, antara lain pada ayat 130 Surat Ali Imran/3.

Riba Nasi’ah sebagai yang disebutkan di atas terkenal dan banyak berlaku di kalangan orang Arab Jahiliyyah. Inilah riba yang dimaksud antara lain pada ayat 275 Surat Al-Baqarah/2.

Lebih jauh, disampaikan bahwa bila dipelajari dan diikuti system riba dalam ayat ini (ayat 275) dan yang berlaku di kalangan orang Jahiliyyah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

a.      Tambahan / bunga itu merupakan keuntungan yang besar bagi yang meminjamkan dan sangat merugikan si peminjam. Bahkan ada kalanya  si peminjam terpaksa menjual dirinya untuk dijadikan budak agar ia dapat melunasi  pinjamannya.

b.      Perbuatan itu pada zaman Jahiliyyah termasuk usaha untuk mencari kekayaan dan untuk menumpuk harta bagi yang meminjamkan.

 

Menurut Umar Ibnu Khattab r.a. : Ayat Al Qur’an tentang riba, termasuk ayat-ayat yang terakhir diturunkan.  Sampai Rasulullah saw wafat tanpa menerangkan apa yang dimaksud dengan riba. Maka tetaplah riba dalam pengertian yang umum, seperti tambahan / bunga yang dikerjakan oleh orang Arab di zaman Jahiliyyah dahulu.

Keterangan Umar ini berarti bahwa : Rasulullah saw sengaja tidak menerangkan apa yang dimaksud dengan riba karena orang-orang Arab telah mengetahui benar apa yang dimaksud dengan riba itu. Bila disebut riba kepada mereka, maka di dalam pikiran mereka telah ada pengertian yang jelas dan pengertian itu telah mereka sepakati maksudnya, pengertian mereka tentang riba adalah Riba Nasi’ah.

Dengan perkataan lain bahwa sebenarnya Al Qur’an telah menjelaskan dan menerangkan apa yang dimaksud dengan riba. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw tentang yang ditinggalkan beliau untuk umatnya (yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul).

Dalam pada itu agama yang dibawa Nabi Muhammad saw, adalah agama yang telah sempurna dan lengkap diterima beliau dari Allah SWT, tidak ada yang belum diturunkan kepada beliau, sebagaimana yang dimaksud pada sebagian Ayat 3 Surat Al Ma’idah / 5.

{Sumber :  Buku Al Qur’an dan Tafsirnya, Naskah Asli Milik Departemen Agama RI, pada halaman 472 – 474, Pelaksana Cetak Ulang PT DANA BHAKTI WAKAF (milik Badan Wakaf UII) Jl. Menur 19 Baciro Yogyakarta 55225 TH. 1995}.

 

2.      Begitu pula pelaksanaan riba yang dilakukan orang-orang Arab Jahiliyyah telah disampaikan pula dalam tafsir Shahih Ibnu Katsir yang menafsirkan Ayat 280 Surat Al Baqarah/2 dan Ayat 130 Surat Ali Imran/3 sebagai berikut :

a.       Penafsiran Ayat 280 Surat Al Baqarah/2.

Redaksi ayat dalam bahasa Indonesia adalah sbb : “ Dan jika (orang yang berhutang itu) berada dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan ………….;”  tidak sebagaimana yang terjadi di kalangan orang-orang Arab Jahiliyyah, dimana salah seorang di antara mereka berkata kepada orang yang meminjam jika memang telah jatuh tempo, “Dibayar atau ditambahkan pada bunganya (kelebihannya) !”

( Sumber :  Buku Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 halaman 76, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Jakarta, cetakan Keempat Rabi’ul Awwal 1431 H – Maret ‘10 M ).

b.      Penafsiran Ayat 130 Surat Ali Imran / 3.

Tafsir ayat tersebut adalah :  “Allah SWT telah melarang orang-orang

mukmin melakukan transaksi riba dan memakannya dengan berlipat ganda. Pada masa jahiliyyah, bila hutang seseorang telah jatuh tempo maka yang punya piutang berkata : ‘ Mau dibayar lunas atau mau dibungakan (dikenakan kelebihan / tambahan)?’ Jika ia membayar lunas, maka selesailah utang piutang tersebut.

Jika tidak, maka ditetapkanlah utang tambahan dalam jangka waktu tertentu yang ditambahkan pada pinjaman pokok. Demikianlah, setiap tahun utangnya ditambahkan dengan bunganya. Sehingga dari utang pokok yang sedikit bisa membengkak menjadi besar.

(Sumber :  Buku Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 2 halaman 294 – 295, Penerbit PUSTAKA IBNU KATSIR Jakarta, cetakan Keempat Rabi’ul Awwal 1431 H – Maret 2010 M ).

 

  1.  Suatu Kebaikan Atas Pembayaran Hutang Berlebih.

 

Syariat Islam antara lain telah menerapkan bahwa sebaik-baik kamu ialah orang yang membayar hutangnya berlebih sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw pada kedua hadits Shahih di bawah ini, yaitu :

II.1.  Hadits Shahih Tersebut Pada Buku Silsilah Hadits Shahih No.3413.

Matan hadits yang dalam bahasa Indonesianya, sebagai berikut : “ Dari Abu Hurairah ia bertutur ; seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw untuk meminta sesuatu dari beliau. Kemudian Rasulullah saw mengutang kepada seseorang setengah wasaq (+ 132 kg) untuk diberikan kepada laki-laki itu, lalu beliau memberikan seluruhnya kepadanya. Tidak lama kemudian, datanglah orang yang mengutangi itu kepada beliau untuk menagih piutangnya. Lalu Rasulullah saw memberinya satu wasaq. Beliau bersabda : ‘ Setengah wasaq untukmu sebagai  pelunasan utangku, dan setengahnya lagi untukmu sebagai pemberian dariku.”

{Sumber : dari buku Silsilah Hadits Shahih yang disusun oleh Nashiruddin al-Albani nomor 3413 yang diringkas oleh Masyhur Hasan Alu Salman dengan Penerbit PUSTAKA IMAM ASY-SYAFI’I, Jilid I halaman 741, Hadits yang ke 1297; Cetakan Pertama Rabi’ul Akhir 1432 H / Maret 2011 M}.

II.2.   Hadits Shahih Tersebut pada buku ‘2002 Mutiara Hadits V No.1035.

Matan hadits yang dalam bahasa Indonesianya, sebagai berikut : “ Abu Hurairah r.a. menerangkan : ‘ Bahwasanya seorang lelaki datang kepada Nabi saw untuk menagih hutang, maka dia berlaku kasar. Karena itu para Shahabat ingin bertindak terhadap orang itu. Maka Rasulullah saw berkata : Biarkanlah orang itu. Karena seseorang yang mempunyai hak, berhak meminta kembali hartanya. Kemudian Nabi saw berkata : Berilah kepadanya binatang yang sama dengan binatangnya.  Para Shahabat berkata : Tak ada yang sama, kecuali yang lebih baik dari binatangnya . Mendengar itu Nabipun bersabda : Berilah kepadanya yang diminta itu. Karena sebaik-baik kamu, ialah orang yang paling baik pembayarannya. “     

{Al Bukhary 40 : 6, Muslim 22 : 22, Al Lu’lu wal Marjan 2 : 179. ( Sumber : Buku ‘2002 Mutiara Hadits V’ yang disusun oleh Prof. DR. T.M. Ash-Shiddieqy, halaman 535 Hadits no.1035, Penerbit “Bulan Bintang” Jakarta, cetakan pertama – 1977)}.

 

  1.  Simpulan.

 

Dari hal-hal tersebut di atas dapat kami simpulkan sebagai berikut :

a)      Transakai riba seperti di zaman Jahiliyyah menurut hemat kami belum/tidak layak dipakai sebagai dasar untuk menentukan status hukum tentang transaksi utang piutang pada umumnya (seperti bank konvensional dan sejenisnya). Tampaknya lebih layak kiranya apabila dua Hadits Shahih tersebut butir II di atas untuk menentukan status hukum transaksi utang piutang pada umumnya (antara lain seperti Bank Konvensional).   Transaksi Riba Nasi’ah ini berbeda dengan transaksi utang piutang pada umumnya, sebagaimana uraian tersebut pada butir I dan II di atas.

b)     Riba Nasi’ah (pada zaman Jahiliyyah) timbul saat / masa pembayaran / pelunasan hutang yang disebabkan ketidak mampuan pembayar hutang saat jatuh tempo untuk memenuhi kewajibannya, maka dipersyaratkan sepihak oleh pemilik piutang yaitu : “Dibayar atau ditambahkan padanya bunga (kelebihan) !” Persyaratan yang harus dipenuhi oleh yang berhutang timbul saat yang berhutang tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran hutangnya, bukan timbul saat awal transaksi utang-piutang.

c)      Dua Hadits Shahih yang kami sampaikan sebagaimana tersebut butir II di atas menunjukkan bahwa utang-piutang telah dilakukan di zaman Rasulullah saw dengan memberikan contoh bahwa dalam pembayaran hutang (bagi yang berhutang) kepada si pemilik piutang dilakukan berlebih dari jumlah hutangnya. Bahkan Rasulullah saw memberikan statement bahwa sebaik-baik kamu (yang berhutang) ialah orang yang paling baik pembayarannya.

Hal ini tampaknya sudah menjadi takdir Allah SWT bahwa di masa mendatang transaksi utang piutang ini suatu jenis usaha yang akan dilaksanakan oleh sebagian besar baik perorangan maupun lembaga/perusahaan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw seperti tersebut pada butir II di atas.

d)     Dengan dua Hadits Shahih yang kami sampaikan sebagaimana tersebut butir II di atas, menurut hemat kami dapat dipakai sebagai dasar / pedoman dalam menilai Bank Konvensional dan sejenisnya baik Bank sebagai pemberi hutang/kredit maupun Bank sebagai penerima hutang / piutang / kredit / simpanan / titipan nasabahnya. Dengan demikian Bank Konvensional dan sejenisnya adalah bukan kegiatan Riba Nasi’ah (yang dilarang dalam syariat Islam). Bedanya saat Rasulullah saw masih hidup pembayaran hutang berlebih dilakukan saat pembayaran/pelunasan hutangnya, sedangkan pada Bank Konvensional dan sejenisnya diatur/disepakati pada saat kredit/deposito/tabungan direalisir (sebelum masa pembayaran/pengambilan) dengan menanda tangani perjanjian/akad/formulir kredit/deposito/tabungan antara Bank dengan Nasabah (termasuk pengaturan bunga/kelebihan). Dengan demikian tidak ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh yang berhutang yang ditentukan sepihak oleh si pemilik piutang.

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin (semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT) yang membaca tulisan ini, kami ucapkan terima kasih. Jakarta 18-12-2011.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: