BACAAN-BACAAN SURAH DI DALAM SHALAT NABI SAW. (SITE – IV)

(Sumber diambil dari : buku Sifat SHALAT NABI SAW yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin al- Albani pada halaman 249 s/d 305, Penerjemah : Tajuddin Pogo,M.A., Penerbit GEMA INSANI Depok : Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M.)

Lanjutan dari site-III :

Berikut ini disampaikan hadits-hadits (matan hadits ditulis dalam bahasa Indonesia) tentang bacaan surah di dalam shalat Nabi Muhammad saw, yaitu :

37)   Dan pada suatu perjalanan, Rasulullah membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,” (at-Tiin: 1, 8 ayat), (58) [Pada rakaat pertama]. (59)  

(58) Ia adalah bagian dari hadits al-Barra’ bin Adzib r.a., “Bahwa Nabi saw berada di suatu perjalanan, kemudian dalam shalat Isya beliau saw membaca dalam salah satu rakaatnya, dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.’ (at-Tiin: 1, 8 ayat).”  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/199 dan 8/579), Muslim (halaman 2/41), Abu Dawud (halaman 1/190), an-Nasa’i (halaman 1/155), al-Baihaqi (halaman 2/393), dan Ahmad (halaman 4/284 dan 302), lewat beberapa jalur dari Syu’bah, dari Adi bin Tsabit, dari al-Barra’ bin Adzib, tentang hal itu. Hanya Nasa’i yang        meriwayatkan dengan lafazh, “Pada rakaat pertama.”  Al-Hafizh dalam al-Fath telah mencantumkannya tanpa berkomentar apa pun. Sanad ini adalah sanad yang shahih. Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Malik dalam al-Muwaththa’  (halaman 1/101) dan lewat jalurnya hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i, at-Tirmidzi (halaman 2/115), Ibnu Majah (halaman 1/276), al-Baihaqi, dan Ahmad (halaman 4/286 dan 303),  lewat jalur Yahya bin Sa’id dari Adi secara ringkas, tanpa menyebutkan perjalanan dan rakaat.  Al-Hafizh dalam al-Fath berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca bacaan surah-surah pendek dari al-Mufashshal, karena beliau saw berada dalam perjalanan, dan dalam perjalanan dituntut untuk diberikan keringanan. Sementara, hadits Abu Hurairah harus didudukkan dalam bahasan ketika Rassulullah saw bermukim dan berdiam. Oleh karena itu,  Rasulullah saw membaca bacaan surah-surah pertengahan dari al-Mufashshal.”

(59) Yang menyebutkan tambahan ini sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya adalah al-Hafizh dalam al-Fath, kemudian dia melakukan kelalaian dalam hal itu ketika menyatakan dalam bahaan Tafsir (halaman 8/580), “Orang-orang telah banyak bertanya, ‘Apakah Rasulullah saw membacanya pada rakaat pertama atau kedua? Atau, apakah Rasulullah saw membaca keduanya dalam kedua rakaat tersebut secara bersama-sama? Atau, apakah Rasulullah saw juga membaca surah lainnya di dalamnya? Apakah hal itu diketahui?’ Namun saya tidak menemukan jawabannya, hingga saya melihatnya dalam Kitaabush Shahabah karangan Ali ibnus Sakan dalam tarjamah (biografi yang berkenaan dengan kelayakan perawi hadits) Zur’ah bin Khalifah – seseorang dari al-Yamamah – bahwa dia berkata, ‘Kami mendengar kedatangan Nabi saw kemudian kami menghadap kepada beliau saw. Lalu, Raulullah saw menawarkan Islam kepada kami, hingga kami masuk Islam, dan memberikan jatah rampasan perang untuk kami. Rasulullah saw membaca dalam shalatnya dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,’ (at-Tiin: 1, 8 ayat) dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.’ (al-Qadr: 1, 5 ayat). Dengan demikian, bila shalat tersebut adalah shalat yang ditetapkan oleh al-Barra’ bin Adzib bahwa ia adalah shalat Isya, maka dapat dikatakan bahwa Rasulullah saw membaca pada rakaat pertama, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah; ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,’ (at-Tiin: 1, 8 ayat). Dan pada rakaat kedua, Rasulullah saw membaca bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah,“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar.’ (al-Qadr: 1, 5 ayat).

Dengan jawaban tersebut, terjawablah pertanyaan-pertanyaan tadi. Yang mendukung hal itu bahwa kita tidak mengetahui dari suatu hadits pun yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw membaca bacaan; (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,’ (at-Tiin: 1,8 ayat) selain pada hadits al-Barra’, kemudian pada hadits Zur’ah ini.” 

38)   Hadits dengan matan sbb., “Dan Rasulullah saw melarang dari memanjangkan bacaan di dalamnya, dan hal itu terjadi ketika, ‘Mu’adz bin Jabal al-Anshari mengimami shalat bagi para shahabatnya, kemudian dia memanjangkan bacaan atas mereka. Kemudian seseorang dari Anshar keluar dan menunaikan shalat sendirian. Hal itu diberitahukan kepada Mu’adz. Kemudian Mu’adz berkomentar, ‘Sesungguhnya dia adalah Munafik.”’ Setelah komentar itu sampai kepada orang tersebut, dia mendatangi Rasulullah saw dan memberitahukan kepada beliau saw tentang komentar Mu’adz itu. Kemudian Rasulullah saw bersabda kepada Mu’adz, “Apakah kamu ingin menjadi pembuat fitnah, wahai Mu’adz?  Bila kamu mengimami orang-orang maka bacalah, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari,’ (asy-Syams: 1, 15 ayat) dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,’ (al-A’laa: 1, 19 ayat), dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,’ (al-‘Alaq: 1, 19 ayat) dan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi malam apabila menutupi (cahaya siang).’ (al-Lail: 1, 21 ayat). [Oleh karena, sesungguhnya orang-orang yang shalat di belakangmu ada orang tua, lemah, dan memiliki hajat].”” (60) 

(60)  Hal itu diriwayatkan dari beberapa orang sahabat, di antaranya Jabir bin Abdullah al-Anshari, dan dia memiliki beberapa jalur.  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/42), an-Nasa’i (halaman 1/155), Ibnu Majah (halaman 1/275 dan 311), dan al-Baihaqi (halaman 2/392-393).  Hadits ini juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya (halaman 2/155-156 dan 10/424), Muslim (halaman 2/41-42), an-Nasa’i (halaman 1/134), ad-Darimi (halaman 1/297), Ahmad (halaman 3/308 dan 369), dan lewat jalur Abu Dawud (halaman 1/126-127), dan sanadnya pada riwayat adalah tsulatsi (tiga tingkatan perawi-perawinya). Perlu diketahui bahwa di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa imam tidak boleh memanjangkan bacaan lebih panjang daripada yang dibaca oleh Rasulullah saw atau lebih panjang daripada yang ditentukan oleh beliau saw. Hal itu terlarang disebabkan bisa terjadinya fitnah dalam agama, dan menyebabkan orang lari dari shalat berjamaah.

Banyak sekali hadits yang memerintahkan untuk memendekkan bacaan dalam kitab shahih al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain. Yang menjadi ‘illat-nya (sebab hukumnya) adalah bahwa di dalam jamaah itu ada orang sakit, lemah, orang tua, dan orang yang memiliki kebutuhan.

Yang penting bagi kita dalam masalah ini dan harus kami jelaskan adalah memperhatikan masalah sebagian makmum yang dituntut oleh nafsunya untuk membaca surah yang paling pendek pada shalat yang paling panjang yaitu seperti shalat Shubuh dan shalat-shalat yang mendekatinya. Pada kondisi demikian, apakah imam harus mengikuti standar mereka, atau standar orang yang paling lemah dari mereka – sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits – walaupun hal itu harus bertentangan dengan kebiasaan Rasulullah saw yang memanjangkan bacaan di dalamnya?

Pendapat yang kuat menunjukkan bahwasanya imam tidak boleh melakukan hal itu, dan bahwasanya hadits-hadits yang disebutkan tidak mencakup keringanan dan pemendekkan bacaan seperti itu, karena hal itu menyebabkan terlantarnya kebanyakan sunnah-sunnah Nabi saw, karena keringanan dan pemendekkan itu adalah perkara yang relatif. Dengan demikian, bisa jadi menurut kebiasaan suatu kaum, bacaan tertentu dianggap pendek, sementara bagi kaum yang lain, bacaan itu sudah panjang – sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiq al-Id.

Hal itu juga bergantung pada tingkat semangat orang-orang pada komitmen terhadap sunnah Nabi saw dan mengikutinya, dan lemahnya semangat orang lain dalam hal itu. Demikian pula bergantung pada kekuatan orang dalam berdiri dan kelemahan orang lain dalam hal itu, dan masalah-masalah lain yang berbeda-beda. Oleh karena itu, harus ditetapkan batasan untuk bacaan yang pendek yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Itulah yang telah kami singgung dalam masalah ini, bahwa ketetapan tersebut sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw dalam bacaan beliau saw. Jadi, barangsiapa berpegang pada tuntunan tersebut, maka dia telah meringankan makmumnya. Dan barangsiapa membaca lebih panjang daripada itu, maka dia telah membaca bacaan yang memberatkan makmumnya, dan dia telah menentang perintah Rasulullah saw.

Oleh karena itu, setelah orang tersebut mengadu kepada Rasulullah saw tentang masalah Mu’adz, maka Rasulullah saw memerintahkan kepada Mu’adz untuk membaca seperti beliau saw membaca, dan Rasulullah saw tidak memerintahkan kepada Mu’adz untuk membaca yang lebih pendek dari pada bacaan beliau saw. Kami telah mengambil manfaat dari pernyataan Ibnul Qayyim – semoga Allah merahmatinya – dalam bahasan ini, dan semoga Allah SWT membalasnya atas khidmatnya terhadap sunnah Nabi saw dengan balasan sebaik-baiknya, di mana Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad (halaman 1/76) berkenaan dengan bantahan terhadap orang-orang yang shalatnya seperti mematuk, dan terlalu memendekkan bacaan sehingga malah bertentangan dengan sunnah Nabi saw, sedangkan sabda Nabi saw, “Barangsiapa menjadi imam dari kalian, maka hendaklah memendekkan bacaannya.” (HR Ahli hadits yang enam) dan perkataan Anas r.a., “Rasulullah saw adalah orang yang paling ringan dan pendek shalatnya, tetapi sempurna.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Maka,keringanan dan pemendekkan itu adalah perkara yang relative, di mana ukurannya harus dirujuk kembali kepada perbuatan Rasulullah saw dan kebiasaan yang terjaga dari beliau saw atasnya. Hal itu sama sekali tidak bisa diukur dengan standar nafsu orang-orang yang menjadi makmum. Oleh karena, Rasulullah saw tidak pernah menyuruh para sahabat dan umat ini, kemudian beliau saw melanggarnya. Rasulullah saw juga mengetahui di belakang beliau saw ada orang-orang yang menjadi makmumnya: orang tua, lemah, dan orang yang memiliki hajat. Jadi, yang dilakukan oleh Rasulullah saw adalah keringanan dan pemendekkan bacaan yang diperintahkan oleh beliau saw sendiri. Oleh karena,bila tidak demikian adanya, maka shalat Rasulullah saw pasti lebih panjang berkali-kali lipat dari pada itu. Dengan demikian, shalat itu diukur pendek dan ringan bila dibandingkan dengan bacaan yang lebih panjang dari padanya, dan petunjuk Rasulullah saw yang selalu dilakukan secara konsisten dan terus-menerus adalah pemutus keputusan atas setiap perkara yang diperselisihkan oleh para kelompok yang bertikai dan berselisih pendapat.

Yang menunjukkan dalil atas hal itu adalah riwayat hadits yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan lain-lain, dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah menyuruh kami untuk memendekkan (meringankan) bacaan, dan sesungguhnya beliau saw mengimami kami dengan surah ash-Shaaffat (182 ayat).” Dengan demikian, bacaan surah ash-Shaaaffat termasuk surah pendek yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk memendekkan bacaan.

Syaikh al-Albani mengomentari, “Sanad hadits Ibnu Umar ini adalah hadits yang sanadnya hasan dan telah kami bahas dalam bahasan ‘Bacaan dalam Shalat Shubuh.”’ Dalam hadits tersebut terdapat beberapa faedah lainnya, yang disebutkan oleh an-Nawawi dalm Syarah Muslim, dan al-Hafizh dalam al-Fath. Silakan merujuknya.

6.  Shalat  Malam 

     39)   Dengan salah satu haditsnya adalah, “Sesungguhnya Nabi saw {terkadang membaca bacaan di dalamnya dengan suara keras dan membaca dengan suara pelan.” (61)

(61) Lihat takhrij-nya dalam bahasan sebelumnya pada (halaman 419) atau pada butir 17) footnote no.(29) dan butir 20) footnote no.(34) tersebut dalam site II di atas, dan demikian pula ada dalil lain atas masalah tersebut dalam hadits Hudzaifah yang akan disebutkan nanti.

      40)  Terkadang Rasulullah saw memendekkan bacaan di dalamnya, dan terkadang memanjangkannya, dan terkadang Rasulullah saw terlalu memanjangkannya, sehingga Ibnu Mas’ud berkata, “Aku shalat menjadi makmum bersama imam Nabi saw suatu malam, dan beliau tetap terus berdiri, hingga aku ingin melakukan sesuatu yang buruk.” Kami bertanya, “Apa yang engkau inginkan?” Dia menjawab, “Aku ingin duduk dan meninggalkan Nabi saw.” (62)  

            (62)  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya (halaman 3/14-15), Muslim (halaman 2/186), dan Ahmad (halaman 1/385) lewat beberapa jalur dari al-A’masy, dari Abu Wa’il, dari Abdullah bin Mas’ud. Demikian pula hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi (halaman 3/8).

      41)   Hudzaifah ibnul Yaman berkata, “Aku shalat menjadi makmum bersama imam Nabi saw suatu malam, kemudian beliau mulai membaca surah al-Baqarah. Lalu, aku berkata dalam diriku, mungkin Rasulullah saw berhenti pada ayat keseratus. Tetapi, Rasulullah saw tetap meneruskan. Lalu aku berkata dalam diriku, mungkin Rasulullah saw membacanya dalam satu rakaat. (63) Tetapi, Rasullullah saw tetap meneruskan. Lalu aku berkata dalam diriku, mungkin Rasulullah saw membacanya dalam satu rakaat kemudian ruku.’ Namun, Rasulullah saw malah memulai surah an-Nisaa’, kemudian beliau terus membacanya hingga mulai membaca surah Ali ‘Imran, (64) dan terus membacanya secara tartil (tarassul: membaca dengan baik dan pas huruf-huruf Al-Qur’an). Bila Rasulullah saw melalui bacaan ayat tentang tasbih, maka beliau saw bertasbih. Bila Rasulullah saw melalui bacaan ayat tentang permohonan (doa), maka beliau saw memohon. Bila melalui bacaan ayat tentang perlindungan, maka beliau saw berlindung, (65) kemudian baru beliau ruku’ (66) ….. (al-hadits).(67)

(63)  Maksunya dalam satu shalat dua rakaat masing-masing setengah surah, sebagaimana dijelaskan oleh an-Nawawi dalam Syarah Muslim. Jadi, harus dirujuk kembali ke dalam lafazh hadits tentang maknanya. Kemudian silakan rujuk riwayat Ibnu Nashr, karena di dalamnya disebutkan dengan lafazh, ‘Dalam dua rakaat.’

(64) Demikianlah riwayat-riwayat menyebutkan dengan mendahulukan surah an-Nisaa’ atas surah Ali ‘Imran, yang bertentangan dengan urutan yang ada dalam Mushaf Utsmani. Hal itu disebutkan di dalam semua riwayat hadits yang di-takhrij oleh para ahli hadits, kecuali riwayat dari Ahmad yang menyebutkan surah Ali ‘Imran baru kemudian surah an-Nisaa’.Ia adalah riwayat dari Mu’awiyah dari al-A’masy. Sementara, riwayat pertama adalah riwayat dari Abdullah bin Numair dan Jarir, keduanya meriwayatkannya dari al-A’masy. Dan Imam Muslim telah meriwayatkan kedua riwayat itu bersama-sama. Demikian pula al-Baihaqi, dan dia tidak menyebutkan tentang perbedaan antara Mu’awiyah dengan Abdullah bin Numair dan Jarir tentang kalimat tersebut. Wallahu a’lam.

Apa pun adanya, riwayat pertama adalah lebih shahih karena telah terjadi kesepakatan antara dua perawi-perawi yang tsiqah atasnya dari al-A’masy, dan karena telah datang lewat jalur lain dalam riwayat yang diriwayatkan oleh Ahmad – sebagaimana telah disebutkan.

Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 3/15) telah melakukan wahm (salah duga) dan telah diikuti oleh Syaikh al-Qari dan lain-lain dalam kitab Syarah asy-Syamaa’il (halaman 2/95) di mana keduanya telah menisbatkan lafazh dalam riwayat kedua kepada shahih Muslim, padahal lafazh tersebut tidak terdapat padanya. Bahkan, ia juga tidak terdapat dalam riwayat seorang pun dari yang men-takhrij-nya, selain dalam  riwayat Ahmad – yang telah kami sebutkan. Riwayat ini telah di-tarjih (menimbang mana yang lebih kuat) oleh Syaikh al-Qari seraya berkata, “Sesungguhnya riwayat inilah (riwayat kedua) yang benar, berdasarkan yang diketahui dan ditetapkan dari perilaku Rasulullah saw dan ketetapan yang dipegang oleh para sahabat, tentang ijma yang berkenaan dengan urutan surah-surah, walaupun terjadi perselisihan atas masalah tauqifi-nya (harus berlandaskan dalil). Urutan surah memang berbeda dengan urutan ayat, karena ia adalah qath’i (pasti, tidak diperselisihkan).

Syaikh al-Albani mengomentari, “Tidak samar atas orang yang berakal, bahwa apa yang disebutkan oleh Syaikh al-Qari tidak bisa dijadikan sebagai hujjah untuk menguatkan riwayat ini, karena bisa jadi Rasulullah saw membaca berbeda dengan urutan yang dikenal luas, untuk suatu sebab tertentu, seperti untuk menjelaskan kebolehannya. Jadi, bila hal ini bisa jadi sebagai sebabnya, maka pada kondisi demikian, cara men-tarjih-nya harus sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu hadits dalam menyatakan bahwa riwayat ini lebih kuat daripada riwayat lain.”

Kami telah menyebutkannya bahwa riwayat yang pertama adalah lebih kuat daripada riwayat yang kedua. Jadi, riwayat itulah yang menjadi sandaran dan bukan riwayat yang lain. Oleh karena itu, al-Qadhi Iyadh berkata, “Di dalamnya terdapat dalil atas orang yang berkata bahwa urutan surah-surah dalam Al-Qur’an adalah ijtihad dari kaum Muslimin, ketika mereka menulis mushaf dan bahwasanya urutan itu bukanlah dari Nabi saw, tetapi beliau saw telah mendelegasikannya kepada umatnya setelahnya.”  Dia berkata, “Menurut pendapat kami, bahwa urutan surah-surah bukanlah suatu kewajiban dalam menulisnya, tidak pula dalam membacanya di dalam shalat, dan tidak pula dalam mengajarkannya. Demikian pula tidak diharuskan urutan itu dalam men-talqin (mengajarkan langsung dengan tuntunan guru dan menirukan ucapannya) dan mengajarkannya. Sesungguhnya Nabi saw tidak menyebutkan nash atau batasan yang tidak boleh dilanggar. Oleh karena itu, telah terjadi perbedaan urutan Mushaf sebelum Mushaf Utsman.”

Dia berkata, Nabi saw membolehkan – demikian pula para umatnya di seluruh negeri setelahnya – untuk mengabaikan urutan surah-surah dalam bacaan shalat, pengajaran, dan talqin (mengajarkan langsung dengan tuntunan guru dan menirukan ucapannya).”  Dia berkata, “Sedangkan berdasarkan pendapat beberapa ahli ilmu yang mengatakan – bahwa perkara tersebut adalah petunjuk dari Nabi saw yang telah ditetapkan oleh beliau saw sendiri sebagaimana telah ditetapkan dalam Mushaf Utsman, dan bahwa pertentangan yang terjadi sebelumnya pada mushaf-mushaf lain, disebabkan belum sampai kepada mereka petunjuk dan keterangan terakhir dari Rasulullah saw – maka beliau saw memulai lebih dahulu bacaan surah an-Nisaa’ kemudian baru membaca surah Ali ‘Imran di dalam riwayat tersebut. Hal itu bisa ditakwilkan dengan kemungkinan bahwa hal itu terjadi sebelum ditetapkan urutan masing-masing surah, dan kedua surah itu urutannya demikian dalam Mushaf Ubay.”

Dia berkata, “Tiada perbedaan pendapat bahwa orang yang shalat boleh membaca dalam rakaat kedua, surah yang urutannya berada sebelum surah yang telah dibaca pada rakaat pertama. Tetapi membaca demikian dimakruhkan, kalau membaca kedua surah itu dalam satu rakaat, dan dimakruhkan pula bagi orang yang membacanya di luar shalat.”  Dia berkata, “Sebagian ulama telah membolehkan, dan larangan para ulama salaf  dari membaca terbalik adalah ditakwilkan dengan membaca satu surah dari akhirnya kepada awalnya.”

Apa yang disebutkan oleh al-Qadhi Iyadh tentang sebagian ulama yang membolehkan bacaan surah-surah dengan cara melanggar urutan yang ditetapkan dalam Mushaf Utsmani dalam satu rakaat, itulah yang tampak dalam hadits-hadits seperti hadits Ibnu Mas’ud yang lalu (halaman 402-403), “Sesungguhnya Rasulullah saw menggabungkan antara beberapa surah semisal dari al–Mufashshal, dan di dalamnnya disebutkan ……..Jadi, terkadang Rasulullah saw membaca surah al-Muthaffifiin (36 ayat)  dengan surah ‘Abasa (42 ayat) dalam satu rakaat. Surah al-Muddatstsir (56 ayat)dengan surah al-Muzammil (20 ayat) dalam satu rakaat …..dst.”

Tampak dari riwayat tersebut bahwa Rasulullah saw membaca surah al-Muthaffifiin (36 ayat) dan surah al-Muddatstsir (56 ayat) lebih dahulu secara lengkap baru membaca, surah ‘Abasa (42 ayat) dan surah la-Muzammil (20 ayat).

(65) An-Nawawi dalam Syarah Muslim berkata, “Di dalamnya terdapat dalil tentang disunnahkan beberapa perkara tersebut bagi setiap orang yang membaca Al-Qur’an, baik di dalam shalat ataupun diluar shalat. Dan menurut madzhab kami, hal itu disunnahkan untuk Imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian.” An-Nawawi dalam al-Majmu’ (halaman 4/66) menambahkan, “Karena ia adalah doa sehingga hukumnya sama dengan hukum mengucapkan aamiin.” Dia berkata, “Baik shalat  itu adalah shalat fardhu ataupun shalat sunnah.” Dia berkata, “Abu Hanifah – semoga Allah merahmatinya – berkata, “Dimakruhkan membaca doa dalam ayat rahmat dan ber-ta’awwudz di dalam shalat.”  Yang berpendapat sama dengan madzhab kami adalah jumhur ulama dari salaf dan para ulama setelah mereka.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Kami mengingat bahwa Imam Muhammad – semoga Allah merahmatinya – telah dengan terang-terangan membolehkan hal itu dan mensunnahkannya dalam kitabnya, al-Atsar, namun dia mengkhususkannya dalam shalat sunnah saja tanpa shalat fardhu. Dalil tersebut mendukungnya, dan kami ingin menukilkan pendapatnya dalam hal tiu. Namun, kami kehilangan kitab tersebut. Sehingga, kami tidak menemukannya saat ini.(*) (*) Nashnya dalam (halaman 1/141) darinya adalah, hal ini dalam shalat di siang hari. Dan kami tidak memandang bermasalah bila seseorang menemukan dalam Al-Qur’an seperti ini, kemudian dia berhenti untuk berdoa untuk dirinya dalam shalat sunnah. Tetapi, dalam shalat fardhu tidak dibolehkan.”

Abul Hasanat dalam kitab ‘Umdatur Ri’aayah (halaman 1/142) setelah memaparkan hadits tersebut berkata, “Para pengikut madzhab kami mendudukkan hadits ini pada shalat sunnah dan dibolehkan untuk orang yang shalat sendirian, dan dibolehkan pula bagi imam dalam shalat sunnah, bila hal itu terjamin dari tidak memberatkan orang-orang yang mengikutinya sebagai makmum, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-‘Inaayah, al-Binaayah, Fathul Qadiir, dan lain-lain.”

(66)  Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (halaman 2/186), an-Nasa’i (halaman 1/169-170 dan 245-246), at-Tirmidzi dalam kitabnya asy-Syamaa’il (halaman 2/96-97), Ibnu Nashr dalam Qiyamul Lail (halaman 51), al-Baihaqi (halaman 2/85 dan 309), dan Ahmad (halaman 5/384 dan 397) lewat jalur al-A’masy dari Sa’ad bin Abidah, dari al-Mustaurid ibnul Ahnaf, dari Shilah bin Zufar, darinya.

(67)  Dan lengkapnya sebagai berikut, “Kemudian Rasulullah membaca, ‘Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung.” Panjang ruku’nya seperti panjangnya beliau saw berdiri. Kemudian Rasulullah saw bangun dari ruku’ dan mengangkat kepalanya seraya mengatakan, ‘(Allah SWT Maha Mendengar hamba yang memuji-Nya)’ dan tambahan dari Jarir. “Rabbanaa lakal hamdu (Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian).

Kemudian Rasulullah saw berdiri lama, mirip dengan panjang ruku’nya, kemudian beliau melakukan sujud, seraya berkata, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinngi.”  Dan lamanya beliau saw melakukannya hampir seperti panjangnya beliau saw berdiri.

Al-Hafizh dalam al-Fath (halaman 3/15) berkata, “Hal ini hanya dapat dilakukan sekitar dua jam, jadi kemungkinan Rasulullah saw menghidupkan malam itu seluruhnya. Sedangkan kondisi Rasulullah saw pada malam-malam selain mala mini, maka sesungguhnya dalam hadits-hadits dari Aisyah ditentukan bahwa Rasulullah saw bangun sekitar sepertiga malam.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Telah terbukti shahih riwayat dari Aisyah bahwa Rasulullah saw bangun malam hingga pagi hari, dan hal itu didudukkan pada kondisi dominan yang terjadi pada Rasulullah saw, sebagaimana akan dijelaskan.”

Kemudian perkiraan al-Hafizh bahwa hal itu lamanya sekitar dua jam adalah sangat jauh dalam praktiknya. Oleh karena, kami pernah shalat beberapa hari lalu yaitu shalat gerhana yang terjadi pada malam Senin (16/1/1366 H), kemudian kami membaca pada rakaat pertama dengan bacaan surah Ibrahim dan pada rakaat kedua dengan bacaan surah al-Israa’, dan kami memanjangkan dua ruku’ dalam setiap dua rakaat tersebut. Demikian pula dua sujud dan duduk antara dua sujud – sesuai dengan petunjuk As-Sunnah, yang mana panjangnya tidak benar bila dikatakan bahwa setiap gerakan tersebut seperti lamanya berdiri atau mendekatinya. Namun walaupun demikian, shalat seperti itu saja telah memakan waktu selama satu jam penuh.

Kemudian bandingkanlah hal itu dengan shalat Rasulullah saw yang empat rakaat, atas riwayat yang rajih dari beberapa riwayat. Rasulullah saw membaca dalam rakaat pertama tiga surah panjang dengan tartil dan pelan dalam bacaannya, beliau saw berhenti memohon dan memanjatkan doa kepada Allah SWT, kemudian beliau saw berlindung kepada Allah SWT. Lalu, beliau saw menjadikan ruku’ dan sujudnya dan duduk antara dua sujud, masing-masing daripadanya, lamanya seperti lamanya beliau saw berdiri. Hal itu tidak mungkin selesai kurang dari tiga jam lamanya. Bila ditambah dengan tiga rakaat berikutnya, maka Rasulullah saw telah menghidupkan malam seluruhnya.

Bisa jadi langsung dapat dipahami oleh akal – berdasarkan atas apa yang telah kami sebutkan – bahwa malam tidak mungkin cukup untuk shalat seperti ini, karena dengan demikian ia membutuhkan sekitar dua belas jam. Maka jawabannya adalah, kemungkinan tiga rakaat berikutnya lebih pendek daripada rakaat pertama, karena yang diketahui dari tuntunan Rasulullah saw biasanya beliau memanjangkan rakaat pertama lebih panjang daripada rakaat kedua sebagaimana telah dijelaskan. Wallahu a’lam.

Di lanjutkan ke site – V

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 27-02-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: