BACAAN-BACA AN SURAH DI DALAM SHALAT NABI SAW. (SITE – III)

(Sumber diambil dari : buku Sifat SHALAT NABI SAW yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin al- Albani pada halaman 249 s/d 305, Penerjemah : Tajuddin Pogo,M.A., Penerbit GEMA INSANI Depok : Jln. Ir. H. Juanda Depok 16418, Jakarta Kalibata Utara II No.84 Jakarta 12740, Cetakan Pertama, Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M.) 

Lanjutan dari site-II :

Berikut ini disampaikan hadits-hadits (matan hadits ditulis dalam bahasa Indonesia) tentang bacaan surah di dalam shalat Nabi Muhammad saw, yaitu :

3.  Shalat Ashar. (38) 

(38) Kami (Penerbit) belum menemukan dalam manuskrip asli dari Syaikh al-Albani – semoga

Allah merahmatinya – tentang takhrij hadits-hadits dalam bahasan ini. Kemungkinan Syaikh

al-Albani menginginkan penisbatannya kepada takhrij-takhrij sebelumnya yang terdapat

dalam bahasan “Shalat Zhuhur,” sebagaimana dapat dipahami dari pernyataannya pada akhir

bahasan ini. Untuk memudahkan pembaca, kami meletakkan petunjuk-petunjuk berikut.

24)   “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada dua rakaat pertama dengan bacaan Faatihatul Kitaab dan dua surah. Rasulullah saw memperpanjang bacaan pada rakaat pertama, apa yang tidak beliau saw lakukan pada rakaat kedua.”(39)

(39) Telah disebutkan takhrij-nya (halaman 457-458) – (pada kitab aslinya) atau pada footnote no. (25) tersebut di atas.

25)   “Mereka (para sahabat) menduga bahwa sesungguhnya Rasulullah saw  menginginkan – dengan bersikap demikian – agar orang-orang mendapatkan rakaat pertama (tidak masbuq, penj.).” (40)

 (40) Semuanya telah di-takhrij pada halaman 457-458 (pada kitab aslinya) atau pada footnote no. (27) tersebut di atas.

26)   Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada setiap rakaat dari keduanya sekitar lima belas ayat, yaitu sepanjang setengah daripada bacaan yang dibaca oleh Rasulullah saw pada setiap rakaat dari dua rakaat pertama dalam shalat Zhuhur. “Rasulullah saw menjadikan dua rakaat terakhir lebih pendek daripada dua rakaat pertama, sekitar setengahnya.” (41)

 (41) Telah disebutkan takhrij-nya pada halaman 460-461 atau pada footnote no. (35) tersebut di atas.

27)   “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada dua rakaat itu (dua rakaat terakhir) dengan Faatihatul Kitaab.” (42)

 (42) Semuanya telah di-takhrij pada halaman 457 – 458 (pada kitab aslinya) atau pada footnote no. (36) tersebut di atas.

28)   “Terkadang Rasulullah saw memperdengarkan ayat kepada mereka.” (43) Rasulullah saw membaca surah-surah yang kami (penulis) sebutkan dalam bahasan “Shalat Zhuhur.”

 (43) Semuanya telah di-takhrij pada halaman 457-458 (pada kitab aslinya) atau pada footnote no. (34) tersebut di atas.

4.  Shalat Maghrib.

29)   “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca pada shalat Maghrib dengan surah-surah pendek dari al-Mufashshal.(44) Sehingga, mereka (para sahabat), “Bila shalat Maghrib bersama Rasulullah saw hingga salam bersama mereka, seseorang dari mereka ketika pulang masih melihat sasaran anak panahnya.” (45)


(44) Di dalam masalah ini terdapat hadits Abu Hurairah r.a. dan telah di-takhrij sebelumnya pada bahasan “Bacaan dalam Shalat Shubuh.” Ketentuan ini juga telah diriwayatkan oleh ath-Thahawi (halaman 1/126) lewat jalur sebelumnya, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Abdil Barr juga – sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad (halaman 1/75).

(45) Dalam masalah ini terdapat beberapa hadits, di antaranya dari Rafi’ bin Khadij, “Kami diberitahukan hadits oleh al-Awza’i, dia berkata, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Abun Najasyi Shuhaib, pelayan Rafi’ bin Khadij, dia berkata, ‘Aku mendengar Rafi’ bin Khadij berkata, ‘Sesungguhnya kami menunaikan shalat Maghrib bersama Rasulullah saw hingga seseorang dari kami ketika pulang masih melihat sasaran anak panahnya.””’  Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/33), Muslim (halaman 2/115), Ibnu Majah (halaman 1/233), dan Ahmad (halaman 4/141-142).

30)   “Rasulullah saw membaca dalam perjalanan pada shalat Maghrib, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,’ (1) surah al-Tin, 8 ayat, pada rakaat kedua.”’ (46)

(46) Hadits ini diriwayatkan ole ath-Thayalisi (halaman 99), dia berkata,”Kami diberitahukan hadits oleh Syu’bah, dari Adi bin Tsabit, bahwa dia mendengar al-Barra’ berkata, ‘Aku bersama Rasulullah saw dalam sebuah perjalanan, dan beliau membaca dalam shalat Maghrib pada rakaat kedua, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.’ (at-Tiin: 1,8 ayat).”’

Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini telah diikuti oleh Yahya bin Sa’id dari Adi, dan diriwayatkan darinya oleh Abu Khalid al-Ahmar secara ringkas, al-Barra’ bin Azib berkata, “Aku menunaikan shalat di belakang Nabi saw yaitu shalat Maghrib, kemudian Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesanya) adalah, ‘Demi (buah) Tiin dan (buah) Zaitun.’ (at-Tiin: 1,8 ayat).  Hadits diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 4/286). Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim juga, namun al-Bukhari dan Muslim men-takhrij-nya lewat dua jalur ini dari Adi dengan lafazh, “Shalat Isya,” sebagai ganti daripada, “Shalat Maghrib,” sebagaimana akan dijelaskan nanti. Tidak satu pun dari keduanya yang menyebutkan dengan lafazh, “Shalat Maghrib…..”  Sementara, menyalahkan dua perawi yang tsiqah seperti Syu’bah dan Yahya bin Sa’id atau perawi-perawi yang meriwayatkan dari keduanya adalah sulit. Dengan demikian, selama riwayat itu bisa dipadukan dengan menyatakan bahwa Rasulullah saw membacanya pada shalat Maghrib dan shalat Isya, (kedua-keduanya), jadi Adi bin Tsabit telah meriwayatkan matan hadits ini sekali dan matan hadits itu sekali.  Ibnu Abdil bin Barr telah menyatakan riwayat pertama adalah shahih sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad (halaman 1/75).

31)   Terkadang Rasulullah saw membaca bacaan dengan surah-surah panjang dari alMufashshal dan surah-surah pertengahannya. Dan terkadang Nabi saw membaca dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal mereka.” (Muhammad: 1, 38 ayat) (47)  Dan terkadang, “Rasulullah saw membaca surah ath-Thuur.” (49 ayat)  (48)

(47) Hadits ini adalah bagian dari hadits Ibnu Umar r.a.. “Kami diberitahukan hadits oleh al-Husain bin Huraits al-Marwazi,’Kami diberitahukan hadits oleh Abu Mu’awiyah, Muhammad bin Hizam, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Ubaidullah bin Umar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang berkata, ‘Sesungguhnya Nabi saw membaca dalam shalat Maghrib dengan bacaan,   (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal mereka.’ (Muhammad: 1, 38 ayat)  Sanad ini adalah sanad yang shahih berdasarkan persyaratan al-Bukhari dan Muslim.

(48) Ia adalah bagian dari hadits Jubair bin Muth’im r.a., Kami diberitahukan hadits oleh Yahya dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im r.a., dari bapaknya yang berkata , ‘Aku mendengar Rasulullah  saw membaca surah ath-Thuur (49 ayat) dalam shalat Maghrib.”’

Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam al- Muwaththa’ (halaman 1/99) dan lewat jalurnya, hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/197), Muslim (halaman 2/41), Muhammad dalam Muwaththa’-nya (halaman 142), Abu Dawud (halaman 1/129), an-Nasa’i (halaman 1/154), ath-Thahawi (halaman 1/124), al-Baihaqi (halaman 2/392), ath-Thayalisi Halaman 127), Ahmad (halaman 4/85), dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir.

Hadits ini menjadi dalil bahwa shalat Maghrib tidak khusus hanya dibacakan surah-surah pendek dari al-Mufashshal – sebagaimana yang masyhur dilakukan – bahkan terkadang disunnahkan agar dibaca surah-surah panjang dari al-Mufashshal dan dengan surah yang lebih panjang daripada itu – sebagaimana akan dijelaskan dalam kitab ini. Dengan pendapat ini, telah berpegang Imam asy-Syafi’i dll sebagai madzhabnya, sementara Malik dan kebanyakan ulama kita berpendapat sebaliknya.

At-Tirmidzi (halaman 2/113) berkata, bahwa asy-Syafi’i berkata, “Disebutkan dari Malik bahwa dia  memakruhkan bacaan surah yang panjang dalam shalat Maghrib seperti surah ath-Thuur dan al-Mursalaat.” Asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak memakruhkan hal itu, bahkan aku mensunnahkan surah-surah panjang ini untuk dibaca dalam shalat Maghrib.” Al-Hafizh dalam al-Fath berkata, “Demikian pula yang dinukilkan oleh al-Bagawi dalam Syarhus Sunnah dari asy-Syafi’i. Yang dikenal dari madzhab asy-Syafi’iyyah adalah bahwa hal itu tidak dimakruhkan dan tidak disunnahkan.”

Syaikh al-Albani mengomentari, “Hal ini tidak masuk akal, karena bacaan Al-Qur’an adalah ibadah. Jadi, ia bisa jadi hukumnya disunnahkan bila sesuai dengan sunnah atau dimakruhkan bila ia bertentangan dengan sunnah. Sedangkan bila ia tidak disunnahkan dan tidak pula dimakruhkan, maka hal ini tidak masuk akal dalam perkara yang menyangkut ibadah secara mutlak, maka hendaklah Anda renungkan.”

Imam Muhammad setelah memaparkan hadits tersebut berkata, “Pandangan umum menyebutkan bahwa bacaan dipendekkan dalam shalat Maghrib; di dalamnya dibaca surah-surah pendek dari al-Mufashshal dan kami memandang bahwa begitulah awalnya kemudian ditinggalkan! Terkadang Rasulullah saw membaca sebagian surah kemudian ruku.’ Dengan pendapat ini kami berpegang, dan ia juga adalah pendapat dari Abu Hanifah.”

Pengomentarnya dari ulama menyebut jawaban ketiga, bahwasanya hal ini terjadi sesuai dengan perbedaan kondisi. Rasulullah saw membaca surah-surah panjang untuk menjelaskan kebolehannya, dan peringatan bahwa waktu shalat Maghrib adalah panjang, dan bahwasanya membaca surah-surah pendek di dalamnya bukanlah perkara yang pasti.

Kemudian pengomentar Abul Hasanat berkata, “Aku berkata bahwa dua jawaban pertama terbantahkan.

Pertama, karena jawaban tersebut berdasarkan kemungkinan adanya nasakh (penganuliran hokum), sementara nasakh itu tidak dapat ditetapkan dengan kemungkinan. Karena, bila perkara membaca bacaan panjang itu ditinggalkan, maka ia baru terbukti benar kalau bacaan surah-surah pendek terjadi pada waktu belakangan daripada bacaan surah-surah panjang dari sisi tinjauan sejarah. Hal itu ternyata tidak terbukti, karena sesungguhnya hadits Ummul Fadhl – yang akan dijelaskan – dengan tegas menyatakan bahwa surah yang paling akhir dia dengar dari Rasulullah saw adalah surah al-Mursalaat dalam shalat Maghrib.  Dengan demikian, berarti bahwa Rasulullah saw telah membaca surah al-Mursalaat sehari sebelum beliau meninggal dunia. Setelah itu, Rasulullah saw tidak pernah lagi shalat Maghrib. Hal itu telah disebutkan secara terang-terangan dalam Sunan an-Nasa’i. Jadi, bila orang ingin tetap berpegang pada jalur hukum nasakh (penganuliran hukum), maka benar adalah, nasakh atas hukum membaca surah-surah pendek, dan bukan sebaliknya.

Sedangkan jawaban kedua, oleh karena untuk membuktikan bahwa terjadi pemecahan surah pada seluruh hadits-hadits yang menyebutkan tentang bacaan surah-surah panjang adalah perkara yang sulit. Dan karena telah disebutkan secara terang-terangan dari riwayat al-Bukhari dan lain-lain, yang menunjukkan bahwa Jubair bin Muth’im telah mendengar bacaan surah ath-Thuur secara lengkap, yang dibaca oleh Rasulullah saw pada shalat Maghrib, sehingga tidak ada faedahnya lagi berandai-andai (bahwa Rasulullah saw membacanya sebagian saja, penj.).

Dan karena, telah disebutkan dalam hadits Aisyah pada Sunan an-Nasa’i, ‘Kami diberitahukan hadits oleh Hisyam bin Urwah dari ayahnya, dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw membaca dalam shalat Maghrib dengan bacaan surah al-A’raaf, beliau membaginya menjadi dua bagian dalam dua rakaat.’

Telah diketahui bahwa setengah dari surah al-A’raaf tidak sama panjang dengan surah-surah pendek, sehingga pemecahan surah itu tidak bisa dijadikan bukti untuk menetapkan bacaan surah-surah pendak dalam shalat Maghrib. Dan jawaban yang benar adalah jawaban ketiga.”

32)   Terkadang Rasulullah saw membaca bacaan surah al-Mursalaat (50 ayat). Beliau saw membacanya pada akhir shalat Maghrib yang beliau saw lakukan. (49) Dan terkadang, “Rasulullah saw membaca surah yang lebih panjang dari dua surah yang panjang, (50) (surah al-A’raaf, 206 ayat) (51) [pada dua rakaat]. (52)

(49) Ia adalah bagian dari hadits Ummul Fadhl bintil Harits r.a. dan hadits tersebut memiliki dua jalur darinya. Pertama, dari anaknya, Abdulllah bin Abbas r.a., “Dari Abdullah bin Abbas r.a. dari Ummul Fadhl bintil Harits bahwa dia mendengar Abdullah bin Abbas r.a. membaca surah al-Mursalaat (50 ayat), kemudian dia berkata, ‘Wahai anakku, kau telah mengingatkanku dengan bacaanmu terhadap surah ini, bahwa ia adalah surah yang paling akhir aku dengar dari Rasulullah saw yang dibaca pada shalat Maghrib.”’

Hadits ini diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa’ (halaman 1/99-100) dan lewat jalurnya, hadits ini diriwayatkan al-Bukhari (halaman 2/195) dan Muslim (halaman 2/40-41), Muhammad dalam Muwaththa’-nya (halaman 142), Abu Dawud (halaman 1/129), ath-Thahawi (halaman 1/124), al-Baihaqi (halaman 2/392), dan Ahmad (halaman 6//340). Mereka semua meriwayatkannya dari Malik, dari Ibnu Syihab, dari Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud, dari Abdullah bin Abbas r.a. dari Ummul Fadhl bintil Harits.

Jalur yang kedua, dari Anas, dari Ummul Fadhl bintil Harits, ia berkata, “Rasulullah saw memimpin shalat kami di rumahnya – dengan berselimut kain – dalam shalat Maghrib, dan Rasulullah saw membaca surah al-Mursalaat (50 ayat). Setelah itu beliau saw tidak pernah lagi shalat Maghrib hingga beliau saw menemui ajalnya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i, ath-Thahawi (halaman 1/125), dan Ahmad (halaman 6/338).  Sanad hadits ini adalah hadits yang shahih berdasarkan persyaratan Muslim. Dan telah disebutkan dalam al-Bukhari (halaman 2/137) dan lain-lain dari hadits Aisyah, bahwa shalat yang dilakukan oleh Rasulullah saw bersama para sahabat pada saat beliau sakit adalah shalat Zhuhur.

Al-Hafizh dalam al-Fath telah memadukan antara riwayat ini dengan riwayat Ummul Fadhl bintil Harits, bahwa shalat yang diceritakan oleh Aisyah dilakukan di masjid sedangkan shalat yang diceritakan oleh Ummul Fadhl bintil Harits dilakukan di rumah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat jalur kedua.

Kemudian dia menakwilkan hadits Ibnu Ishak yang disebutkan tadi, bahwa maknanya adalah Rasulullah saw keluar dari tempat beliau berbaring ke tempat shalat di rumahnya, kemudian beliau saw memimpin shalat mereka.

Syaikh al-Albani mengomentari, “Ini adalah jamak (pemaduan) yang sangat baik, namun Ibnu Ishak terkadang melakukan kesalahan. Ibnu Ishak meriwayatkan sendirian dengan menyebutkan bahwa Rasulullah saw keluar, sementara perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya) lainnya yang meriwayatkan dari az-Zuhri tidak menyebutkan hal itu. Oleh karena itu, ia tidak terlalu kuat untuk menentang riwayat Anas bin Malik yang shahih. Dengan demikian, tidak ada kebutuhan untuk memadukan antara keduanya, sebagaimana hal itu tidak samar adanya.

Hadits ini adalah dalil – sebagaimana hadits-hadits lainnya – atas disunnahkan bacaan surah-surah panjang dari al-Mufashshal pada shalat Maghrib yang dilakukan sekali-sekali, sebagaimana telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya. Hal itu telah dibantah oleh madzhab Hanafiyyah, bahwa hal itu harus didudukkan pada kemungkinan bahwa Rasulullah saw hanya membaca sebagian surah dan bukan seluruhnya, atau ia adalah mansukh (dianulir hukumnya) sebagaimana telah dijelaskan dari Imam Muhammad.

Pernyataan pertama bertentangan dengan kenyataan, dan tidak boleh keluar darinya kecuali dengan dalil. Dalil puncak yang dijadikan  pegangan oleh ulama kita dalam masalah itu adalah hadits Abu Hurairah yang disebutkan pada awal pembahasan ini, bahwa Rasulullah saw membaca surah-surah pendek dari al-Mufashshal pada shalat Maghrib. Dengan hadits tersebut, ath-Thahawi dan lain-lain menentang hadits-hadits yang menetapkan disunnahkannya membaca bacaan surah-surah panjang dari al-Mufashshal, dan mereka menakwilkannya dengan takwil-takwil yang telah disebutkan. Sebenarnya takwil tersebut tidak beralasan, karena memadukan beberapa riwayat itu lebih dekat kepada penyatuan perawi-perawi tersebut dari pada takwil tersebut. Yaitu, dengan mendudukkan hadits-hadits tersebut pada kondisi yang berbeda-beda – sebagaimana telah dijelaskan – apalagi dalam hadits-hadits tersebut terdapat makna yang tidak menerima adanya takwil seperti yang mereka sebutkan, secara mutlak – sebagaimana telah disebutkan dari al-Laknawi.* (*lihat bahasan sebelumnya (halaman 480)) atau pada butir 21), footnote no. (35), halaman 5 dari alinea paling atas hingga akhir footnote no.35, yang tersebut di site II di atas.

Sedangkan dakwaan telah terjadinya nasakh (penganuliran hukum), maka ia batal dengan kesaksian dari hadits shahih ini, karena ia menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa bacaan yang paling akhir dibaca oleh Rasulullah saw adalah bacaan surah al-Mursalaat tersebut.

Dengan demikian, bila dakwaan nasakh beralasan maka seharusnya hukum yang sebaliknya yang dianulir (yaitu nasakh surah-surah pendek, penj.). Hal itu lebih bisa diterima oleh orang-orang yang berakal, namun hal itu tidak perlu dilakukan selama masih memungkinkan untuk dijamak (dipadukan). Dan Allah SWT yang memberikan taufik.

(50) Surah yang terpanjang dari dua surah panjang. Kata thulaa adalah ta’nits (kata untuk benda berjenis perempuan) dari kata athwal ‘yang terpanjang,’ sedangkan kata ath-thulayain adalah kata tatsniyah (berarti dua) dari kata thulaa. Dua surah tersebut adalah surah al-A’raaf menurut kesepakatan ulama, dan surah al-An’aam menurut pendapat yang lebih kuat, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh dalam al-Fath.

(51) Ia adalah bagian dari hadits Zaid bin Tsabit r.a..  Hadits ini diriwayatkan darinya oleh Marwan ibnul Hakam, kemudian Urwah ibnuz Zubair.  Hadits yang pertama dari Marwan ibnul Hakam. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/196), Abu Dawud (halaman 1/129), an-Nasa’i (halaman 1/154), {Ibnu Khuzaimah (halaman 1/68/2) = [1/4259/516]}, al-Baihaqi (halaman 2/392, dan Ahmad (halaman 5/188 dan 189) lewat beberapa jalur, di antaranya, “Kami diberitakan hadits oleh Ibnu Juraij, dia berkata, ‘Aku mendengar Abdullah bin Abi Mulaikah (yuhadditsu = memberitahukan hadits) dia berkata, ‘Aku diberitakan hadits oleh Urwah ibnuz Zubair bahwa Marwan ibnul Hakam akhbarahu (dia memberitakan hadits kepadanya), dia berkata, ‘Zaid bin Tsabit berkata kepadaku, ‘Mengapa kamu membaca dalam shalat Maghrib surah-surah pendek dari al-Mufashshal? Sesungguhnya Rasulullah saw membaca dalam shalat Maghrib surah yang lebih panjang dari dua surah yang panjang.’ Aku bertanya kepada Urwah, ‘Surah apa yang lebih panjang dari dua surah yang panjang?’ Dia menjawab, ‘Surah al-A’raaf (206 ayat).””

`Redaksi ini adalah riwayat Ahmad. Sementara dalam riwayat Abu Dawud, dia menambahkan, “Dia berkata, ‘Aku bertanya kepada Ibnu Mulaikah, kemudian dia menjawab dari pendapatnya sendiri, ‘Keduanya adalah surah al-Maa’idah (120 ayat) dan surah al-A’raaf (206 ayat).””

Menurut Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’aad, “Bahwasanya memelihara bacaan ayat-ayat pendek dan surah-surah pendek dari surah-surah al-Mufashshal, adalah bertentangan dengan sunnah Nabi saw dan itu adalah perbuatan Marwan ibnul Hakam. Oleh karena itu, Zaid bin Tsabit telah mengingkarinya.”

(52) Ia adalah bagian dari hadits Zaid bin Tsabit pada hadits sebelumnya.

33)   Terkadang, “Rasulullah saw membaca dalam shalat Maghrib surah al-Anfaal (75 ayat) [pada dua rakaat].(53)

(53) Ia adalah hadits Abu Ayyub r.a., “Bahwa Rasulullah saw membaca dalam shalat Maghrib surah al-Anfaal (75 ayat).”   Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani di dalam al-Kabiir. Sanad ini adalah sanad yang shahih, dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (tepercaya) dari perawi-perawi shahih.

Bacaan pada Shalat Sunnah Maghrib.

34)   Sedangkan dalam shalat sunnah Maghrib Ba’diyyah, Rasulullah saw membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai orang-orang kafir,” (al-Kaafirun: 6 ayat), dan “Katakanlah (Muhammad),’Dialah, Yang Maha Esa.”’ (al-Ikhlaash: 4 ayat).(54)

        (54) Ia adalah bagian dari hadits Ibnu Umar yang disebutkan sebelumnya dalam bahasan Sunnah Fajar seperti pada butir 13) footnote  no.(22) dan (23) tersebut pada site I di atas.  

5.  Shalat Isya.

35)   Rasulullah saw membaca dalam dua rakaat pertama di dalamnya dengan surah-surah yang pertengahan dari al-Mufashshal. (55) Maka, terkadang Rasulullah saw membaca surat, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari.” (asy-Syams, 15 ayat) dan surah-surah yang semisal dengannya.” (56)

(55) Ia adalah bagian dari hadits Abu Hurairah yang lalu dalam bahsan (Shalat Fajar).  As-Suyuthi dalam kitab al-Itqaan (halaman 1/63) berkata, “Al-Mufashshal terdiri dari surah-surah yang panjang, pertengahan, dan pendek.” Ibnu Ma’in berkata, “Surah-surah yang panjangnya adalah sampai surah an-Naba’ (40 ayat) dan surah-surah yang pertengahan darinya adalah  dari surah an-Naba’ hingga surah adh-Dhuhaa (11 ayat), dan dari surah adh-Dhuhaa hingga akhir Al-Qur’an adalah surah-surah pendek. Inilah pendapat yang paling dekat dengan kebenaran, dari beberapa pendapat yang ada dalam masalah ini.”

(56) Ia adalah bagian dari hadits Buraidah ibnul Hushaib. Hidits ini diriwayatkan oleh Ahmad (halaman 5/354).

36)   Terkadang, Rasulullah saw membaca dengan bacaan, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, “Apabila langit terbelah (al-Insyiqaaq: 25 ayat), dan Rasulullah saw melakukan sujud karenanya.”(57)

(57) Ia adalah bagian dari hadits Abu Hurairah r.a.. Abu Rafi’ telah meriwayatkan darinya, ia berkata, “Aku menunaikan shalat bersama Abu Hurairah dalam shalat Isya, kemudian dia membaca, (yang dalam bahasa Indonesianya) adalah, ‘Apabila langit terbelah,’ (al-Insyiqaaq/84: 25 ayat), kemudian dia melakukan sujud karenanya. Kemudian aku bertanya, ’Mengapa engkau melakukan ini?’ Dia menjawab, ‘Aku telah melakukan sujud karenanya di belakang Abu Qasim (Rasulullah saw), maka aku akan terus melakukan sujud karenanya hingga aku menemui beliau.”’ (Sujud Tilawah).

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukahri (halaman 2/199 dan 448), Muslim (halaman 2/89), Abu Dawud (halaman 1/222), an-Nasa’i (halaman 1/152), ath-Thahawi (halaman 1/210), al-Baihaqi (halaman 2/322), ath-Thayalisi (halaman 321), dan Ahmad (halaman 2/229 dan 459 dan 466) lewat beberapa jalur darinya. Ini adalah lafazh dari Sulaiman at-Taimi, dari Abu Hurairah. Tampaknya Abu Hurairah bersujud di dalam shalat karena membacanya.

Di lanjutkan ke site – IV

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 24-02-2012. [Ilyas Hanafi, Jl.Robusta IIA Blok S4 no.15, Pondok Kopi, Kec.Duren Sawit, JAKTIM Tilp. (021) 8624807/08151625925].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: