BENARKAH BACAAN BASMALAH DENGAN SIRR (SUARA PELAN) DILAKUKAN IMAM DALAM SHALAT YANG JAHR (SUARA KERAS) ?

BENARKAH BACAAN BASMALAH DENGAN SIRR (SUARA PELAN) DILAKUKAN IMAM DALAM SHALAT YANG JAHR (SUARA KERAS) ?

 (Sangat disarankan didampingi dengan buku “Sifat SHALAT NABI SAW” yang disusun oleh M. Nashiruddin Al-Albani yang diterbitkan oleh Gema Insani, Depok :Jl.Ir.H.Juanda Depok 16418, Cetakan Pertama Dzulqa’idah 1429 H / November 2008 M, khususnya pada footnote 4 halaman 160 s/d 170.)

A.  DALIL / NASH BACAAN BASMALAH DENGAN SIRR (SUARA PELAN).

Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dan ia (hadits ini) datang darinya lewat beberapa jalur dengan lafazh-lafazh yang berbeda. Namun, yang dapat disimpulkan darinya adalah bahwa Rasulullah saw membacanya dengan suara pelan. Kami (Syaikh Al-Albani) akan memaparkannya agar menjadi jelas bagi Anda (para pembaca), yaitu :

Jalur pertama, adalah : “Kami diberitahukan hadits oleh Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik, (dalam matan bahasa Indonesia-nya), adalah:’Nabi saw., Abu Bakar, dan Umar – semoga Allah SWT meridhai keduanya—memulai (bacaan dengan suara keras) shalat dengan,’Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”’ (al-Faatihah : 2).

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari (halaman 2/180) dari kitab Shahih-nya dan dalam Juz’ul Qiraa’ah (halaman 12), Muslim (halaman 2/12) {dan Abu Uwanah [2/122]}, ath-Thahawi (halaman 1/119), ad-Daruquthni (halaman 119), al-Baihaqi (halaman 2/51), ath-Thayalisi (halaman 266), dan Ahmad (halaman 3/179 dan 273 dan 275) dari beberapa jalur darinya. Lafazh ini adalah lafazh al-Bukhari.

Dalam sebuah riwayat ada tambahan, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah “….dan (semasa) Utsman …..”

Ath-Thayalisi menambahkan – dan darinya Muslim, (matan dalam bahasa Indonesia) yaitu : “Dia berkata – yakni Syu’bah, ‘Aku bertanya kepada Qatadah,’Apakah kamu telah mendengarnya dari Anas?’ Dia menjawab,”Ya, kami telah menanyakannya tentang hal itu.’”

Ini adalah riwayat dari Ahmad juga dengan lafazh, (matan dalam bahasa Indonesia) yaitu : ”Qatadah berkata,’Aku bertanya kepada Anas bin Malik,’Dengan apa Rasulullah saw membuka bacaan (shalatnya)?’ Dia menjawab,’Sesungguhnya kamu menanyakan sesuatu yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun.””

Sanadnya shahih sesuai dengan persyaratan ahli hadits yang enam.

Sedangkan lafazh Muslim {dan Abu Uwanah} ad-Daruquthni, al-Baihaqi, dan Ahmad dalam sebuah riwayat (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Anas berkata, bahwa dia telah shalat bersama Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka membaca (dengan suara keras), ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.’”

Demikian pula lafazh ath-Thahawi, hanya dia berkata, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah :”Rasulullah saw membaca dengan suara keras, Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.” Demikian pula dalam riwayat ad-Daruquthni darinya.

Dan dalam sebuah lafazh dari riwayat Ahmad (matan dalam bahasa Indonesia) disebutkan, “Sesungguhnya mereka tidak membaca dengan suara keras,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”’

Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya dan dia menambahkan (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam,” (al-Faatihah : 2) sebagaimana disebutkan dalam Nashbur Raayah (halaman 1/327).

Hadits ini juga di-takhrij oleh al-Bukhari dalam Juz’ul Qiraa’ah dan Muslim, Abu Dawud (halaman 1/125), asy-Syafi’i dalam al-Umm (halaman 1/93), an-Nasa’I (halaman 1/143), at-Tirmidzi (halaman 2/15) dan ia mengatakannya shahih, ad-Darimi (halaman 1/283), Ibnu Majah (halaman 1/271) {dan Abu Uwanah [2/122]} ath-Thahawi, ad-Daruquthni, al-Baihaqi dan Ahmad (halaman 3/223 dan 273) dari beberapa jalur lain dari Qatadah dengan riwayat semisal lafazh pertama.

Muslim {dan Abu Uwanah}, dan Ahmad menambahkan dalam sebuah riwayat, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah : “Mereka tidak menyebutkan (membaca dengan suara keras),’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ pada awal bacaan dan tidak pula pada akhirnya.”

Jalur kedua, Dan diriwayatkan oleh an-Nasa’i (halaman 1/144) dari jalur Uqbah bin Khalid, ia berkata,”Kami diberitahukan hadits oleh Syu’bah dan Ibnu Abi Arubah, dari Qatadah, dari Anas, dengan lafazh yang dalam bahasa Indonesia-nya, adalah, “Aku telah shalat di belakang Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan aku tidak pernah mendengar seorang pun dari mereka membaca (dengan suara keras),’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”’

Syaikh al-Albani mengomentari,”Ia adalah madzhab Abu Hanifah dan dua sahabat-nya, sebagaimana diceritakan oleh ath-Thahawi dan lain-lain. Imam Ahmad menyebutkan secara tekstual pendapatnya seperti itu dalam al-Atsar (halaman 15-16) dan dengannya berpendapat mayoritas ahli hadits, sebagaimana dikatakan oleh al-Hazimi (halaman 56).

Yang berbeda dengan mereka dalam hal itu adalah Imam asy-Syafi’i dan para pengikutnya, dan sebagian orang-orang yang terdahulu darinya yakni sebagian sahabat dan tabi’in.

Mereka berpendapat bahwa membaca basmalah adalah dengan jahr (suara keras), dan sesungguhnya yang demikian itu adalah sunnah.”

An-Nawawi dalam al-Majmuu’ (halaman 3/334-356) telah membahas panjang lebar tentang dalil-dalil dari banyak hadits yang dipaparkannya. Orang yang menelitinya dengan obyektif dan jujur, akan menyimpulkan dari penelitiannya bahwa mereka tidak berpegang kepada satu hadits pun yang shahih dan secara jelas menyatakan tentang madzhab mereka itu.

B.  DALIL / NASH BACAAN BASMALAH DENGAN JAHR (SUARA KERAS) ADALAH HADITS DHAIF (LEMAH) .

Oleh karena itu, kami (Syaikh al-Albani) akan memaparkan dalam komentar di sini tentang riwayat yang menyebutkan dengan tegas tentang bacaan secara jahr, yang bisa jadi dianggap sebagai hadits shahih oleh sebagian dari mereka, dan kami membiarkan bahasannya secara keseluruhan berada dalam kitab-kitab tebal dan panjang seperti Nashbur Raayah, Nailul Awthaar, dan lain-lain, seperti berikut ini :

Hadits pertama, hadits dari Anas bin Malik r.a. dan ia memiliki beberapa jalur.

 Jalur pertama, hadits ini di-takhrij oleh asy-Syafi’i dalam al-Umm (halaman 1/93) dan dari jalurnya diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (halaman 117), al-Hakim (halaman 1/233), dan al-Baihaqi (halaman 2/49). Ketiga-tiganya, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Kami diberitahukan hadits oleh asy-Syafi’i, dia berkata, ‘Kami diberitakan hadits oleh Abdul Majid bin Abdul Aziz dari Ibnu Juraij, ia berkata,’Aku diberitakan hadits oleh Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, bahwa Abu Bakar bin Hafsh bin Umar diberitakan hadits olehnya, bahwa Anas bin Malik diberitakan hadits olehnya, dia berkata,’Mu’awiyah memimpin suatu shalat di Madinah, kemudian dia membaca secara jahr ketika membaca, ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ untuk Ummul Qur’an (al-Faatihah), namun dia tidak membacanya (basmalah) secara jahr ketika membaca surah setelahnya, hingga dia menghabiskan bacaan tersebut. Dan dia tidak bertakbir ketika dia turun untuk sujud, sampai dia menyelesaikan shalat itu. Maka setelah dia mengucapkan salam, dia diseru oleh orang-orang yang mendengar hal itu dari kaum Muhajirin dan Anshar dari setiap tempat, ‘Wahai Mu’awiyah, apakah ada yang tercuri dari shalat, atau kamu sendiri memang lupa?’ Setelah itu setiap Mu’awiyah shalat, maka ia membaca (basmalah) secara jahr ketika membaca surah setelah Ummul Qur’an, dan dia bertakbir ketika dia turun untuk sujud.””

Ad-Daruquthni berkata, “Semua perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah (terpercaya),” dan al-Hakim berkata,”Shahih menurut persyaratan Muslim,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Kemudian al-Hakim berkata,”Muslim telah ber-hujjah dengan Abdul Aziz dan semua perawinya disepakati atas kejujuran dan keadilan mereka. Ia adalah ‘illat (sebab yang melemahkan hadits) atas hadits Syu’bah dari Qatadah, karena sesungguhnya Qatadah – walaupun tinggi derajatnya – tetapi ia adalah mudallis (perawi yang menyamarkan sanad hadits), dan dia mengambil hadits dari siapa pun.”

Demikianlah yang dikatakannya. Dia mengisyaratkan dengan hal itu kepada hadits Anas yang lalu, dalam membaca basmalah dengan suara sirr (pelan). ‘llatnya-nya (sebab tersembunyi dan samar yang melemahkan hadits) seperti ini tidaklah menjadi masalah, karena Qatadah telah menjelaskan dengan tegas bahwa dia telah mendengarnya dari Anas, sehingga menjadi batallah ‘illat-nya yang disebutkan oleh al-Hakim tentangnya.

Kemudian dalam perkataan al-Hakim terdapat kritikan lainnya :

a)      Pertama, sesungguhnya Muslim belum berhujjah dengan Abdul Aziz ini, tetapi dia meriwayatkan haditsnya dengan terkait bersama riwayat lainnya – sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh dalam at-Tahdziib. Al-Hafizh dalam at-Taqriib berkata, “Dia shaduq (jujur) tetapi sering salah.” Hanya saja, dia telah diikuti dengan penguatan oleh Abdur Razzaq pada ad-Daruquthni dan al-Baihaqi.

b)      Kedua, sesungguhnya Abdullah bin Utsman ini tidak disepakati atas hukum ber-hujjah dengannya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh pernyataan al-Hakim sendiri. Sedangkan al-Bukhari meriwayatkan darinya dalam bentuk hadits yang menggantung (ta’liq) dan dia diperselisihkan oleh ulama tentang dirinya, walaupun Muslim telah ber-hujjah dengannya. Dia dikatakan tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Ma’in, dan an-Nasa’i dalam satu riwayat, sedangkan dalam riwayat lain, dia berkata,”Dia tidak kuat (haditsnya).” Telah diriwayatkan dari Ibnu Ma’in, komentar yang semisal dengan itu. Ibnu Adi berkata, “Hadits-haditsnya adalah hasan.

Syaikh al-Albani mengomentari,”Yang benar, bahwa  dia adalah tsiqah dan menjadi hujjah.  Haditsnya paling kurang hasan dan bisa dijadikan hujjah, kecuali bila ia menentang hadits yang lebih kuat darinya dalam derajat hadits. Faktanya terjadi demikian dalam masalah ini. Oleh karena, kami telah menjelaskan bahwa sekelompok perawi telah meriwayatkan dari kelompok perawi juga dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw membaca basmalah dengan suara sirr (pelan).”

Dengan demikian, bagaimana mungkin Anas bin Malik meriwayatkan hadits seperti hadits Mu’awiyah ini sebagai hujjah dan dalil, padahal ia bertentangan dengan hadits-hadits yang diriwayatkannya dari Rasulullah saw dan para Khulafaur Rasyidin? Dan tidak pernah diketahui dari seorangpun diantara teman-teman Anas yang terkenal dan telah bergaul dengannya, yang telah menukilkan dari Anas seperti riwayat hadits Mu’awiyah tersebut.

Inilah salah satu pertimbangan yang membuat para peneliti mengatakan dhaif (lemah) atas hadits Ibnu Khaitsam ini dari Anas bin Malik.

Pertimbangan kedua, bahwa periwayatannya tidak konsisten baik secara sanad ataupun matan. Dari sisi sanad, kadangkala diriwayatkan dari Abu Bakar bin Hafsh bin Umar dari Anas bin Malik, sebagaimana telah disebutkan.Dan kadangkala diriwayatkan dari Isma’il bin Ubaid bin Rifa’ah dari ayahnya, dari Mu’awiyah.

Riwayat ini diriwayatkan oleh asy-Syafi’i (halaman 1/93-94) dan dari jalurnya, diriwayatkan oleh al-Baihaqi (halaman 2/49-50) dari Ibrahim bin Muhammad al-Aslami dan Yahya bin Sulaim, keduanya dari Ibnu Khutsaim dari Isma’il dengannya. Kadangkala dia berkata, “Dari Isma’il bin Ubaid bin Rifa’ah, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Mu’awiyah. Demikian pula diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (halaman 117) dari Isma’il bin Ayyasy, dari Ibnu Khutsaim dengannya.”

Kemudian mereka berselisih dalam melakukan tarjih (menimbang mana yang lebih kuat) dari perawi-perawi tersebut. Kemudian al-Baihaqi memilih riwayat yang pertama yang lebih kuat seperti disebutkan dalam al-Ma’rifah, karena ketinggian derajat perawinya yaitu Ibnu Juraij. Al-Baihaqi dalam as-Sunan berkata, “Kemungkinan telah terjadi bahwa Ibnu Khaitsam telah mendengar dari keduanya (Anas dan Mu’awiyah). Wallahu a’lam.”

Sedangkan asy-Syafi’i lebih condong menguatkan riwayat kedua, karena kedua perawinya sepakat atasnya. Namun, kedua perawi itu dikritik, kritikan terhadap al-Aslami adalah kondisinya telah terungkap. Sedangkan Yahya bin Sulaim dikatakan oleh al-Baihaqi, banyak salah dan hafalannya buruk.

Ibnut Turkumani berkata, “Dengan demikian, menjadi jelaslah hadits Ibnu Juraij lebih lebih terjaga sanadnya, karena ia lebih tinggi kedudukannya daripada keduanya, dan lebih kuat daya hafalnya daripada keduanya, tanpa diragukan.”

Syaikh al-Albani mengomentari,”Sedangkan riwayat yang ketiga; maka ia diriwayatkan oleh Ibnu Ayyasy sendirian, dan dia adalah dha’if  menurut  para ahli hadits dari Hijaz, dan riwayat ini salah satu kelemahannya.”

Sedangkan perkara tidak konsisten (idhthirab) dalam matan, adalah kadangkala dia berkata (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Dia shalat, kemudian dia memulai dengan,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”’ untuk Ummul Qur’an dan tidak membacanya ketika membaca surah setelahnya, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Juraij yang terdapat pada asy-Syafi’i.

Kadangkala dia berkata (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Kemudian dia tidak membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,” ketika mulai membaca Al-Qur’an, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Ayyasy.

Dan kadangkala dia berkata (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Kemudian dia tidak membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,”’ untuk Ummul Qur’an dan tidak membacanya ketika membaca surah setelahnya, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Juraij yang terdapat pada ad-Daruquthni.

Az-Zaila’I (halaman 1/354) berkata,”Riwayat yang tidak konsisten seperti ini dalam sanad dan matan, adalah factor yang melemahkan hadits ini, karena sesungguhnya hal itu mengisyaratkan hadits ini tidak diriwayatkan dengan cermat.

c)      Pertimbangan yang ketiga, bahwa ketika Mu’awiyah datang ke Madinah, Anas telah menetap di Bashrah, dan tidak disebutkan oleh seorang pun yang kami ketahui bahwa dia bersama Mu’awiyah saat itu, bahkan nyata sekali bahwa dia tidak bersama Mu’awiyah saat itu.

d)      Pertimbangan ke empat, bahwa madzhab penduduk Madinah – sejak dulu hingga sekarang – adalah tidak membaca basmalah dengan suara keras, dan bahkan ada di antara mereka yang bermadzhab tidak membacanya sama sekali. Urwah ibnuz Zubair salah seorang ahli fiqih Madinah yang tujuh, berkata,”Aku telah berjumpa dengan para imam, dan mereka tidak ada satu pun yang membuka bacaan, melainkan dengan membaca, (ayat dalam bahasa Indonesia) adalah: ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.’” (al-Faatihah:2)  

Abdurrahman al-A’raj berkata,”Aku telah berjumpa dengan para imam, dan mereka tidak satu pun yang membuka bacaan, melainkan dengan membaca, (ayat dalam bahasa Indonesia) adalah, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”’ (al-Faatihah:2)

Tidak disebutkan dari seorang pun di antara ulama ahli Madinah dengan sanad yang shahih bahwa dia telah membaca basmalah dengan jahrkecuali sedikit, dan ia masih multiinterpretasi. Sementara, membaca basmalah dengan sirr adalah amal yang diwarisi turun-temurun dari generasi awal mereka. Bagaimana mungkin mereka bisa mengingkari Mu’awiyah yang sama bacaannya dengan mareka? Ini adalah sesuatu yang batil.

e)      Pertimbangan kelima, sesungguhnya bila Mu’awiyah mengoreksi dirinya dengan membaca basmalah dengan jahr, sebagaimana mereka menukilkannya, perkara ini pasti juga diketahui oleh penduduk Syam (Syria dan sekitarnya) yang ikut bersama dengan Mu’awiyah (berkunjung ke Madinah,penj.), tetapi riwayat seperti itu tidak dinukilkan oleh seorang pun di antara mereka dari Mu’awiyah. Bahkan, orang-orang Syam sendiri semuanya, baik para khalifahnya ataupun para ulamanya, mereka bermadzhab tidak membaca basmalah dengan jahr.

Riwayat yang menyatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz membaca basmalah dengan jahr,adalah riwayat yang batil dan tidak punya sumber sama sekali. Sedangkan al-Awza’i – imam negeri Syam – madzhabnya adalah madzhab Malik dalam perkara itu, yakni tidak membaca basmalah sama sekali baik dengan jahr ataupun sirr. Syaikh al-Islam dalam al-Fataawaa (halaman 1/85) berkata,”Dengan demikian, pertimbangan-pertimbangan seperti ini dan lain-lain yang semisal dengannya, bila direnungkan oleh seorang yang berilmu, pasti akan memastikan bahwa hadits Mu’awiyah ini batil, tidak ada sumbernya sama sekali, atau telah diubah dari aslinya.

Jika kondisi hadits ini seperti ini – sementara ia adalah hadits yang paling baik dari dalil-dalil sandaran madzhab membaca basmalah dengan jahr – sebagaimana dikatakan oleh al-Khathib al-Baghdadi seperti dinukilkan oleh Nashr al-Maqdisi darinya – maka dapat dibayangkan bagaimana kondisi hadits-hadits yang lainnya. Berikut ini penjelasan secara terinci.

Jalur Kedua, (matan hadits dalam bahasa Indonesia) adalah : “Kami diberitahukan hadits  oleh Muhammad ibnul Mutawakkil bin Abi Sarri, ia berkata,’Aku telah melaksanakan shalat  di belakang al-Mu’tamir bin Sulaiman beberapa shalat yang tidak dapat aku hitung lagi; Shubuh dan Maghrib. Dia membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr sebelum Fatihatul Kitab dan setelahnya. Dan aku mendengar al-Mu’tamir berkata,’Aku tidak melampaui batas dalam mengikuti shalat ayahku. Ayahku berkata,’Aku tidak memlampaui batas dalam mengikuti shalat Anas bin Malik.” Anas berkata,’Aku tidak melampaui batas dalam mengikuti shalat Rasulullah saw.””

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (halaman 116) dan al-Hakim (halaman 1/233-234) dan ia berkata,”Para perawinya hingga yang terakhir adalah perawi-perawi yang tsiqah dan disepakati oleh adz-Dzahabi dan hadits ini sebagaimana dikatakan oleh keduanya. Tetapi tidak serta-merta hadits ini menjadi shahih dan terbukti kuat. Oleh karena, hadits itu baru dikatakan shahih bila telah bebas dari syadz (riwayat yang menentang riwayat kebanyakan perawi hadits) dan ‘illat-nya (sebab tersembunyi dan samar yang melemahkan hadits) dan telah terbukti bahwa perawi-perawinya adalah kuat dan cermat (dhabth) dalam hafalannya. Dan semua itu tidak terbukti di sini, karena Muhammad ibnul Mutawakkil bin Abis Sarri, dikritik dari sisi hafalannya. Al-Hafizh dalam at-Taqriib berkata, shaduq (jujur) tetapi dia memiliki banyak kesalahan dan dugaan keliru.”

Hadits ini adalah salah satu bentuk dugaannya yang keliru, berdasarkan dalil dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Mukhtashar-nya dan ath-Thabrani di dalam al-Kabiir, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah :”Kami diberitahukan hadits oleh Muhammmad ibnul Mutawakkil bin Abis Sarri dari Mu’tamir bin Sulaiman, dari bapaknya, dari al-Hasan dari Anas, ia berkata, bahwa Rasulullah saw membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.’ Dengan sirr (suara pelan) di dalam shalat, dan demikian pula Abu Bakar dan Umar r.a..”’

Demikian pula dalam perawi-perawi yang diriwayatkan oleh perawi-perawi yang tsiqah dari  Anas, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dengan demikian, riwayat-riwayat yang menentang hadits-hadits mereka, pastilah salah – tanpa diragukan. Dan sebagian ulama hadits telah berpendapat bahwa telah digugurkan dari matan hadits sebelumnya, kata “laa” (tidak) (sehingga kalimatnya menjadi tidak membaca basmalah dengan jahr / suara keras, penj).

Kalau riwayatnya benar demikian, maka ia saat itu telah sesuai dengan riwayat perawi-perawi yang tsiqah.

Hadits ini juga memiliki jalur-jalur lain dari Anas tetapi ia dhaif, dan tidak ada seorang pun yang mengatakannya shahih.

Hadits kedua, dari Ibnu Abbas, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Sesungguhnya Rasulullah saw membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr (suara keras).”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hakim (halaman 1/208) dari jalur Abdullah bin Amru bin Hassan,”Kami diberitahukan hadits oleh Syarik, dari Salim, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas.” Al-Hakim berkata,”Shahih dan ia tidak memiliki ‘illat-nya (sebab tersembunyi dan samar yang melemahkan hadits).” Adz-Dzahabi berkata,”Demikianlah yang dikatakan oleh pengarang. Dan Ibnu Hassan ini telah didustakan oleh lebih dari satu orang, dan hal yang seperti seharusnya tidak tersamarkan dari pengarangnya.”

Al-Hafizh dalam at-Talkiish (halaman 3/323),”Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim, namun  sesungguhnya dia salah dalam hal itu, disebabkan fakta bahwa Abdullah telah dinisbatkan oleh Ibnul Madini sebagai orang yang memalsukan hadits dan ia telah dicuri oleh Abush Shalt al-Harawi – dan dia matruk (haditsnya ditinggalkan dan diabaikan); kemudian dia meriwayatkannya dari Abbad ibnul Awwam dari Syarik.”

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daruquthni (halaman 114). Dalam ad-Diraayah (halaman 73) dikatakan,”Hadits asalnya adalah mursal (terputus sanadnya tidak sampai kepada Rasulullah saw) dengan sanad yang perawi-perawinya adalah perawi-perawi yang tsiqah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ishaq, dari Yahya bin Adam, dari Syarik, dari Salim al-Afthas, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah, “Sesungguhnya Rasulullah saw membaca bacaan,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr. Beliau memanjangkan suaranya, sementara orang-orang musyrik memperolok-olokkannya. Maka turunlah ayat (dalam bahasa Indonesia) adalah,….’dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalat …..”’ (al-Israa’:110)

Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Daruquthni dan ath-Thabrani di dalam al-Awsath dari jalur, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Kami diberitakan hadits oleh Yahya bin Thalhah al-Yarbu’i, dari Abbad ibnul Awwam, dari Syarik secara maushul ( sanadnya tersambung) dengan lafazh,’Sesungguhnya Rasulullah saw bila membaca,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ orang-orang musyrik memperolok-olokkannya. Mereka berkata,’Muhammad menyebut tuhan penduduk Yamamah.”’ Inilah sumber hadits ini, dan menjadi jelaslah bahwa telah terjadi peringkasan di dalamnya. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalur, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Kami diberitahukan hadits oleh Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas r.a. tentang turunnya ayat berikut ini, (dalam bahasa Indonesia) adalah,’…..dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam shalat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”’  (al-Israa’:110) Dia berkata,”Ayat ini turun ketika Rasulullah saw sedang berdakwah sembunyi-sembunyi di Mekah. Namun, ketika Rasulullah saw menunaikan shalat bersama para shahabatnya, beliau mengeraskan suaranya dengan bacaan Al-Qur’an. Ketika orang-orang musyrik mendengarnya, mereka memperolok-olokkan Al-Qur’an, dan Allah SWT yang menurunkannya dan malaikat Jibril yang menyampaikannya. Maka, Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya,’…..’ inilah sumber hadits tersebut.  Di antara factor yang menunjukkan tentang dhaif (lemah)-nya hadits ini dari Ibnu Abbas adalah riwayat yang terbukti shahih darinya bahwa dia berkata, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah: ‘Sesungguhnya membaca bacaan,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr adalah perbuatan dari orang-orang Arab badui.”’  Hadits ini diriwayatkan ole hath-Thahawi (halaman 1/120) dari Ashim dan Abdul Malik bin Abi Bisyr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad sebagaimana disebutkan dalam Nashbur Raayah (halaman 1/347) dari Sufyan dari Abdul Malik sendirian. Ini adalah sanad shahih. Dia berkata,”Yang menguatkan riwayat ini adalah hadits  yang diriwayatkan oleh al-Atsram dengan sanad yang terbukti shahih dari Ikrimah – murid Ibnu Abbas – bahwa dia pernah berkata, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,’Aku adalah termasuk Arab badui bila membaca bacaan,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr.”’ Tampaknya dia mengambil hadits tersebut dari syaikhnya, yaitu Abdullah bin Abbas.

Hadits ketiga, dari Ali dan Ammar, (matan dalam bahasa Indonesia) adalah,”Kami diberitahukan hadits oleh Sa’id bin Utsman al-Kharraz,’Kami diberitahukan hadits oleh Abdurrahman bin Sa’id al-Muadzdzin,’Kami diberitahukan hadits oleh Fithr bin Khalifah, dari Abuth Thufail , dari Ali dan Ammar yang berkata, ‘Sesungguhnya Nabi saw membaca bacaan dalam shalat-shalat fardhu,’Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr.”’ Dia berkata,”Sanadnya shahih dan aku tidak mengetahui ada orang yang menisbatkan kritikan dan celaan dalam sanadnya.”  Kemudian adz-Dzahabi mengomentarinya, dengan berkata,”Sesungguhnya ia adalah hadits yang lemah, bahkan sepertinya ia adalah hadits palsu, karena Abdurrahman adalah pelaku banyak perbuatan mungkar. Dan Sa’id bila dia adalah al-Kuraizi, maka dia adalah perawi dhaif (lemah), dan kalau tidak, berarti dia adalah perawi majhul (tidak dikenal).”

Oleh karena itu, al-Hafizh dalam ad-Diraayah (halaman 71) berkata,”Sanadnya adalah dhaif (lemah).” Dan dari al-Hakim, hadits ini diriwayatkan dan al-Baihaqi dalam al-Ma’rifah dengan sanad dan matan-nya dan dia berkata,”Sanadnya adalah dhaif (lemah).

Syaikh al-Albani mengomentari, “Hadits-hadits yang tiga ini, adalah tiga hadits yang paling benar dan paling tegas dalam masalah membaca basmalah dengan jahr (suara keras).” Telah menjadi jelas bahwa hadits itu semua adalah dhaif (lemah), kecuali hadits Anas dalam beberapa jalur. Namun, di dalamnya tidak disebutkan bahwa Rasulullah saw membaca basmalah dengan jahr (suara keras) di dalam shalat.

Oleh karena itu, Ibnul Qayyim dalam az-Zaad (halaman 1/73) berkata, “Sesungguhnya hanya kadangkala Rasulullah saw membaca bacaan, ‘Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang,’ dengan jahr. Beliau membacanya dengan suara tersembunyi lebih banyak daripada membacanya dengan suara keras. Dan tidak diragukan bahwa Rasulullah saw tidak pernah membaca basmalah dengan jahr secara terus-menerus pada setiap hari, siang dan malam, lima kali, sama sekali tidak pernah demikian, baik ketika bermukim atau di dalam perjalanan. Kalau demikian adanya, bagaimana mungkin hal itu tersamarkan atas para Khulafaur Rasyidin, dan jumhur para sahabatnya dan penduduk negeri yang fadhilah (Mekah dan Madinah) dalam generasi-generasi yang istimewa. Ini adalah perkara yang paling mustahil hingga harus membutuhkan bukti-bukti untuk menetapkannya, dengan lafazh-lafazh yang global dan dengan hadits-hadits yang dhaif (lemah).

Sedangkan hadits-hadits yang shahih darinya adalah tidak secara tegas menyatakan perkara membaca basmalah dengan jahr (suara keras). Sementara, hadits yang menyatakannya dengan tegas adalah hadits-hadits yang tidak shahih.”

Syaikh al-Albani mengomentari,”Penggalan akhir dari pernyataan bertentangan dengan penggalan awalnya, karena bila Ibnul Qayyim memandang bahwa – padahal hal itu adalah yang benar – tidak shahih hadits yang menyatakan tentang membaca basmalah dengan jahr, bagaimana dia bisa memastikan bahwa Rasulullah saw kadangkala membaca basmalah dengan jahr sekali-sekali?

Sesungguhnya Syaikh Ibnul Qayyim yaitu Ibnu Taimiyah lebih detail lagi ungkapannya dalam masalah ini, di mana dia dalam al-Fataawaa (halaman 1/79) berkenaan dengan masalah ini, berkata,’Bisa jadi Rasulullah saw kadangkala membaca basmalah dengan jahr,atau bisa jadi Rasulullah saw membaca basmalah dengan jahr, pada waktu dulu, kemudian beliau meninggalkannya. Dia berkata, ‘Jadi semua itu mungkin terjadi.””

Dengan demikian, dia tidak memastikan hal itu, tetapi dia menyebutkan kemungkinannya, sehingga bahasan menjadi melebar. Maka yang benar, adalah madzhab jumhur bahwa sunnahnya adalah membaca basmalah dengan suara sirr (pelan).

C. KADANGKALA DISYARIATKAN UNTUK MEMBACA BASMALAH DENGAN JAHR.

Walaupun demikian, yang benar bagi orang yang tidak membaca basmalah dengan jahr, kadangkala disyariatkan untuk membaca basmalah dengan jahr, demi merealisasikan maslahat yang lebih utama dan kuat. Maka, disyariatkan bagi imam untuk membacanya dengan jahr, seperti ketika mengajarkannya kepada para makmum. Dan kadangkala dibolehkan bagi sebagian makmum untuk membaca beberapa kalimat singkat dengan suara keras, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Ibnu Amru dan Anas bin Malik, yang telah disebutkan dalam bahasan Doa Iftitah nomor 7 dan 8 (halaman 152 s/d 154). Oleh karena, di sana Rasulullah saw tidak mengingkari kedua orang tersebut yang telah membaca doa iftitah dengan suara keras. Demikian pula Umar telah membacanya dengan suara keras, untuk mengajarkan orang-orang, sebagaimana telah dijelaskan juga di sana.

Syaikhul Islam (halaman 1/87) berkata,”Dibolehkan juga bagi orang untuk meninggalkan perkara yang lebih afdhal demi menarik hati orang-orang, menyatukannya, dan menghimpun misi bersama, atau karena khawatir terjadi perpecahan dan manusia menjauh dari maslahat. Hal itu disyariatkan sebagaimana Nabi Muhammad saw telah meninggalkan pembangunan Ka’bah seperti fondasi yang diletakkan oleh Ibrahim a.s., karena kaumnya masih baru meninggalkan masa jahiliyah, dan Rasulullah saw khawatir mereka akan menjauh karena itu.

Rasulullah saw memandang bahwa maslahat persatuan dan penautan hati lebih utama daripada pembangunan Ka’bah, seperti fondasi yang diletakkan oleh Ibrahim a.s.. Ibnu Mas’ud setelah ikut menyempurnakan shalat (yang sebetulnya diqashar menjadi dua rakaat) di belakang Utsman dan dia mengingkari Utsman karena shalat empat rakaat, ditanyakan kepadanya,’Mengapa engkau lakukan hal itu?’ Dia menjawab,’Perselisihan itu buruk.’ Oleh karena itu, para imam seperti Ahmad dan lain-lain berkenaan dengan basmalah, dalam menyambung shalat witir, dan masalah-masalah lain menyebutkan dengan teksnya, bahwa boleh beralih dari sesuatu yang afdhal kepada perkara yang dibolehkan dan kurang afdhal, untuk menautkan hati, memperkenalkan sunnah, atau maksud-maksud seperti itu. Wallahu a’lam.

Demikianlah, untuk dimaklumi dan atas perhatian / perkenan Saudara-Saudara kaum Muslimin yang membaca tulisan ini  semoga mendapat rakhmat dari Allah SWT dan kami ucapkan terima kasih. Jakarta 09-12-2011.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: